Perjalanan, tips & sharing, cerita, informasi, dan sastra

Saturday, May 18, 2019

Enggak Paham Sepak Bola dan Dipaksa Suka Persib Bandung



Persib Bandung Liga 1 2018 di Stadion GBLA, Bandung/sifathlist

Sepak bola sebagai olahraga yang disukai kebanyakkan masyarakat di dunia ini. Banyak sekali alasan, pecintanya bisa tergila-gila dengan sepak bola. Bisa saja karena hobi, suka dengan timnya, teknik bermain, bahkan ada juga gara-gara satu pemain yang dianggap sebagai idola. Tak hanya di negara Eropa nan jauh di sana, Indonesia pun memiliki banyak tim sepak bola yang wajib kita banggakan lho. Kenapa harus dibanggakan?, karena mereka berjuang mengharumkan nama negara kita di mata dunia. Kalau enggak suka gimana? Harus gitu dipaksa? Iya udah nggak apa-apa sih, yang penting kamu harus mendukung setiap anak bangsa yang berjuang untuk Indonesia.

Persib Bandung. Hayo siapa yang tahu apa/siapa Persib itu? Yap jawabannya betul, Persib salah satu nama klub sepak bola tanah air di kasta teratas, yang menjadi kebanggaan warga Jawa Barat dan masyarakat luas. Kalian yang menjadi suporternnya pasti lebih hapal gimana bagus dan uniknya klub yang berjuluk Maung Bandung ini. Bagi yang kurang pengetahuan soal Persib, bisa deh tanya ke mbah Google pasti buanyak sekali informasi di sana.

Saya bukan pecinta sepak bola, kalau suka iya dikit-dikit tapi buta aturan (nggak tahu handball, tendangan bebas, assist, tentangan sudut, offside, dkk). Nah cuma karena saya kerja di media dengan desk multifungsi termasuk bola, jadi mau nggak mau ya harus dipelajari. Jujur saja, saya nggak nyaman. Lagian ngapain sih liat orang berebut bola, duh nggak banget.

Demi kerjaan ya saya coba memaksakan diri untuk cinta desk ini, cinta bola, dan Persib. Kalau nggak bisa fatal, rungsing iya, bete, ehh kerjaan juga nihil. Baiklah dengan berberat hati saya baca referensi soal bola dan Persib Bandung dan akhirnya saya hapal seluruh nama pemain beserta nomor punggungnya (proud).

Bobotoh di Stadion GBLA, Bandung/sifathlist

Satu ketika, bukan hanya latihan saja ternyata saya ditugaskan untuk datang nyetadion (datang ke stadion) untuk mencari informasi, warna-warna suasana, gimic sopporter dan lainnya. Bingung dong, duh ini gimana? Seumur-umur belum pernah masuk stadion apalagi nonton bola. Dengan mengandalkan teman yang sudah hatam soal Persib akhirnya bisa deh nyetadion.

Liga 1 2018, menjadi sejarah baru bagi saya bisa mengenal Persib Bandung. Lupa sih perdana nyetadion Persib lawan siapa, ahhh nggak penting yang penting saat itu menang hahaha. Nah suatu ketika saya di lapangan duduk di ruang khusus untuk para media, wah luar biasa ini satu stadion full dan berubah menjadi lautan biru. Mewah, meriah sekali bagi saya. Ya tahu sendiri saya baru pertama nyetadion dan kalau pun pernah lihat cuma di televisi.

Bobotoh. Iya sebutan fans Persib Bandung. Familiar pastinya kan, karena Bobotoh masuk kategori salah satu supporter terbesar klub sepak bola tanah air. Jumlahnya saya kurang paham karena bukan cuma masyarakat Jawa Barat melainkan di Asia bahkan global. Begitu terpukau melihat banyaknya fans di sana. Nah kesemsem deh tuh hati dikit nyantol semakin suka ditambah ketika pemain merumput wah riuh dan stadion bergema, meledakan yel-yel semangat sangat amazing, koreografi 3 dimensi yang kreatif sekali. Padahal pertama kali lihat langsung lho tapi udah ngena. Thanks for Persib wabil khusus Bobotoh yang udah bikin saya rada melek sama sepak bola.

koreografi 3D di Stadion SJH, Kabupaten Bandung/sifathlist

Setelah itu, saya semakin rutin nyetadion dan ikut liat pas latihan. Sebenarnya kalau cuma latihan malas, bukan karena tidak suka tapi karena latihannya pagi dan jadwal saya sering bentrok yang berakhir beramoeba (membelahdiri). Tapi bersyukur bisa kenal selewat sama pecinta Persib. juga saya sempat kesemsem sama satu pemain ya umurnya satu tahun di atas saya lah, eh tapi musim ini di bawah kepimpinana Robert Rene Albert, dia harus rela hengkang dari skuad Persib. semoga mas Sabil bisa sukses di klub lainnya ya. Tetep jaga hatinya biar tetep biru. Hatur nuhun Sabil.

Tapi ada sedihnya (curhat). Karena sudah suka, dan ya lumayan sudah kenal dan hafal soal bola dan Persib. Rasanya sakit ketika tidak bisa nyetadion secara gratis hahaha. Nggak deh, sedih karena tidak bisa merasakan atmosfer Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dan Si Jalak Harupat (SJH) Bandung. Kadang gereget, teriak-teriak, sok sok an kaya pelatih ngatur ngatur pemain dari kejauhan, gebrakan meja atau ucapan aduhh ketika Persib kebobolan dan teriakan dengan oktaf tertinggi pas pemain berhasil mencetak gol. Bahkan saya sedikit hapal lirik dan nada yel-yel yang dinyanyikan Bobotoh yang dipimpin Yana Umar sebagai Dirigen Persib Bandung. Lebay yah? Biarinlah yang penting happy.
Stadion SJH, Kabupaten Bandung/sifathlist

Malam ini (Sabtu, 18 Mei 2019) Persib Bandung melakukan pertandingan perdana Liga 1 Shopee 2019 melawan Persipura Jayapura di Stadion SJH, Kabupaten Bandung. Tepatnya kick off 20.30 WIB, jadi bisa salat tarawih dulu ya Bobotoh. Hmm, bisa dibayangin laga perdana Persib, di kandang, pelatih dan beberapa pemain baru, dan satnigt. Duh gereget aku nulis ini. okelah tak apa, walaupun tidak bisa nyetadion secara gratisan lagi mungkin next macth, home or away bisa kali beli tiket sendiri. Atau kalau ada yan mau bayarin boleh ditunggu traktiran tiket dan tebengannya hahahaha. Bukan candaan lho ini serius.
Semoga malam ini, Persib Bandung bisa realisasikan target tiga point nya. Semangat !
Untuk Bobotoh, jangan godin ya. Inget masih bisa salat tarawih. Tetap jaga kondusifitas jangan melakukan kegaduhan yang bisa merugikan tim juga Bobotoh sendiri. Oke. Mantul.

Share:

Sunday, May 5, 2019

Tarawih Pertama, Semua Kenangan Masa Kecilmu Terulang

ilustrasi Ramadhan/sifathlist


Marhaban Ya Ramadhan 1440 H
Wah Alhamdulillah kembali bertemu dengan bulan penuh ampunan dan keberkahan ini. Semua umat muslim di seluruh dunia, menyambut dengan sangat bahagia. Karena kita semua bisa melakukan ibadah puasa wajib selama satu bulan penuh kemudian akan diakhiri dengan hari kemenangan yakni Idul fitri.

Ramadhan atau bulan puasa, akan banyak kegiatan positif yang tidak ditemukan selain di bulan ini. Salah satunya salat Tarawih. Tidak asing kan, dengan Tarawih ini. Kamu tim 11 rakaat atau 23 rakaat nih? iya tim mana pun semua benar dan kamu jangan sampai absen yah (kecuali bagi wanita yang sedang haid atau yang sedang sakit). Tarawih ini memang salat sunah, tapi akan mendapat ganjaran seperti salat wajib. Jadi jangan disiasiakan ya.

Tarawih pertama saya tahun ini di kampung halaman, dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Musala Baitussalam, adalah tempat kami beribadah menjalankan salat tarawih. Saya yakin di suluruh musala atau masjid di hari tarawih pertama shaf full dan meluber. Ya semoga akan tetap seperti itu hingga akhir Ramadhan. Aamiin.

Ketika Ramadhan tiba, begitu banyak kenangan masa kecil yang muncul tiba-tiba. Ibarat kita sedang menyaksiakan kelakuan nakal, kekonyolan, kejahilan kita saat itu. Hal itu begitu sangat mendamaikan, siapapun anak kecil yang tengah melakukan kenakalan tetiba otak berimajinasi bahwa yang melakukan kenakalan itu adalah teman (kecil) kita, yang entah sekarang di mana. Wah sedih sih kalau membandingkan kebersamaan saat kecil dan sekarang, sangat beda. Dulu kita saling ejek, saling jail, saling menyalahkan, saling bantu. Tapi hari ini, posisi mereka di mana saja tidak tahu.

Malam tadi, Musala Baitussalam full dan meluber ke halaman tetangga. Jamaah dari usia dini, remaja, dewasa hingga lanjut usia bersatu dalam satu komando sang imam. Imam, tahun ini pun tidak berubah, masih sama seperti belasan tahun lalu. Kenapa saya sebut belasan bukan puluhan? Karena terhitung ketika saya mulai mengaji belajar huruf hijaiyah di sana. Kita adalah tim 23 rakaat dengan kekuatan dan kecepatan bacaan yang super. Ya begitu cepat.

Diawali dengan salat fardhu Isya, kemudian bacaan  bilal yang mana selalu diawali oleh Abah (ayah) saya setiap tahunnya dengan suaranya yang melengking dan kadang bikin kaget sekampung dan salat tarawih di mulai. Saat itu saya berada di shaf di halaman mushala bergabung dengan anak laki-laki (ikhwan depan, akhwat belakang) sehingga saya paham betul ketika perlahan saya mengamati kelakukan mereka, sama seperti kita (angkatan saya) dulu. Pasti kamu masih ingat ketika menghitung jumlah rakaat salat tarawih. “eh ini rakaat berapa? Ehh ini salatnya berapa lagi?” yang paling keren saat itu adalah teman saya, yang rajin membuat penghitungan di tembok mushola dengan pencil yang dibawanya. Itu kegiatan rutin lho, hahaha.


ilustrasi/sifathlist
Bedanya Anak laki-laki dengan Perempuan

Perempuan biasanya bisa main cantik alias bisa ngibulin para jamaah dewasa. Iya pasti namanya anak-anak jiwa nakal, konyol, ingin bermainnya selalu ada. Jadi saat itu, saya dan geng ( yang kini entah mereka di mana), rajin salat tarawih dan mencari tempat terjauh dari jangkauan Ibu Ibu. Terus salatnya diseling gitu, satu niat salat ikut salat kemudian duduk, salat lagi duduk lagi sampai akhir. Terus enggak berisik, walaupun kita full ngobrol selama tarawih karena bisik bisik. Salat pun kadang saling senggol ketika sujud, dan lebih nakalnya lagi kita salat udah kaya piknik, ya bawa jajanan begitu banyak. Ada lotek asem atau lotek kangkung, kerupuk sambel, gorengan, es sisri, dan lainnya.

Sedangkan tim laki-laki ini, yang selalu jadi biang masalah dan bikin semua orang tua marah-marah. Gimana enggak marah, orang lagi khusuk khusuknya mereka main-main, saling jenggung, saling pukul, saling injek sejadah, ngobrol keras keras, ketawa, jailin temen di shaf depan, lari-lari dan masih banyak lainnya deh. Jadi pasti mereka setiap kali tarawih kena semprot dan tau enggak nama orang tua anaknya pun ikut disebut-sebut, hahaha.

Walaupun kami (angkatan dulu) sering diomelin, dibentak, diusir dari musala, kadang dicubit, tapi kita enggak kapok. Jadi ibadahnya konsisten terus dikerjakan dan nakalnya berdampingan. Tapi semua harus tahu, mereka yang dulunya nakal nakal ini aka nada masanya menjadi anak yang soleh, baik, dan menjadi contoh di masyarakat. Hebat. Iya teman-temanku banyak yang gitu (hayo siapa yan dulu nakal sekarang jadi anak baik dan panutan) saya rindu kalian lho, wkwkwkwk ini mah beneran bukan mengada-ngada.

Berburu Tanda Tangan Ustad atau Iman Tarawih

Selepas salat dan doa, anak-anak langsung mukul bedug dengan penuh semangat dan suka cita. Yang skillnya bagus dalam memukul pasti akan selalu dicari, kalau yang masih di bawah level biasanya mereka jadi tukang kecrek (mukul drum bedug secara beramai-ramai. Kemudian ketika smeua orang sudah selesai bersalaman, anak-anak sekolah yang mendapatkan buku Ramadhan akan berlari berebut tanda tangan iman salat. Ini asyik lho, karena bisa saat itu bisa sambil lirik-lirik anak cewek atau cowok hahaha.

Nah, tim pemburu tanda tangan pun ada tiga versi yakni si rajin yang selalu antre dengan tertib, si licik yang suka ngantre dua kali biar dapat tanda tangan dua dalam satu hari, dan si malas yang sukanya nitip tanda tangan padahal dia enggak salat tarawih. Kalau saya pernah berada di ketiganya, rajin, licik, dan malas.

Lomba Tadarus Al Quran dan Rebutan Mic Musala

Kalau di kampung saya, setelah salat Tarawih, pulang ke rumah terus langsung ke musala lagi untuk tadarus atau mengaji al quran menggunakan mic (microfon) yang terdengar sekampung bahkan ke tetangga kampung. Alhamdulillah semua percaya diri sampai berebut mic. Siapa cepat dia dapat, tapi semua bergilir. Kita mengaji selepas tarawih hingga menjelang makan sahur.

Setelah kebagian ngaji menggunakan mic langsung pindah ke pojokan buat ngelanjuti satu lembar lagi kemudian sisanya ngobrol hingga malam bahkan sampai aa orang tua yang menjemput dan menyuruh pulang dengan dalih nanti kesiangan sahurnya. Tapi kalau saya enggak  pernah dicari sih atau Abah sampe nyuruh pulang, bahwkan kita pernah nyaris sampai sahur di musala, sambil nahan kantuk dan kadang duduk sambil merem.

Ngobrog atau Ngebangunin Warga Buat Makan Sahur

Ini sih tim laki-laki ya, karena kalau cewek enggak ada yang ikut. Mungkin karena terlalu malam dan pasti enggak dapat izin buat ikut ngobrog. Bagi saya ngobrog ini suatu seni yang hanya ada saat Ramadhan. Bedug yang dipukul dan diiringi kecrek dan lagu membangunkan warga “sahur sahur dug dug dug” sanagt ditunggu-tunggu. Selain untuk membangunkan juga sebagai hiburan anak-anak yang tengah semangat bangun untuk makan sahur. Jadi saya sering buka gorden atau keluar buat lihat mereka ngobrog.

Kalau sekarang, begitu banyak perbedaan sebetulnya. Mulai dari aturan dari kampung yang menyebutkan tadarus menggunakan mic hanya samapai pukul 00.00 WIB. Bahkan dua tahun lalu ketika saya masih aktif tadarus hanya kuat sampai pukul 23.00 WIB setelah itu musala sepi dan sudah gelap. Kemudian dengar-dengar tidak boleh ngobrog menggunakan bedug. Entah apa alasannya mereka melarang, padahal itu adalah satu seni yang hanya hadir saat Ramadhan saja. Jadi mereka yang hendak ngobrog harus menggunakan alat kesenian lain seperti gitar, ukulele, gendang buatan, alat rebana dan lainnya.

Share:

Wednesday, May 1, 2019

Hari Buruh Internasional, Pekerja Kembali Bersua

Para buruh berorasi di depan Gedung Sate, Jabar/sifathlist

Siapa yang tidak tahu dengan sebutan Mayday yang diperingati tiap 1 Mei ini. Momen hari buruh internasional yang merupakan harinya para buruh atau orang tengah bekerja dibawah kendali para big bossnya ini sedangs menyuarakan aspirasi hak-haknya sebagai pekerja. Hak di sini variatif, ada hak materiil, hak perlakuan, hak dilindungi, dan lainnya.

Pagi tadi, saya menyempatkan diri untuk melihat secara langsung, ribuan buruh se-Jawa Barat berdemo di Kota Bandung. Sebut saja, Titik orasi yaitu di depan Gedung Sate dimana ini adalah kantor dari Gubernur Jawa Barat yakni Ridwan Kamil. Tidak ada yang berbeda sebetulnya, Mayday tahun ini dengan tahun sebelumnya. Para buruh tetap fokus meminta hak-haknya terpenuhi.
Oh ya perlu diketahui juga, bahwa massa bergerak daari titik kumpul sejak pukul 09.00 WIB di Monumen Perjuangan (Monju) Rakyat Jawa Barat, Jalan Dipati Ukur Bandung. Semua mengenakan dresscode sesuai dengan serikat buruh yang diikutinya.

Mayday Jadi Ajang Berkumpul Keluarga dan Piknik


Ibu yang menggendong anaknya saat acara Mayday/sifathlist

Setiap coordinator serikat berorasi di atas mobil komando, sebagian besar buruh yang hadir mendengarkan dan menyetujui apa yang disuarakannya. Dengan seruan setuju, setuju dan dimeriahkan dengan yel-yel penyemangat juga tidak kalah menariknya bendera-bendera begitu berkibaran di depan Gedung Sate yang dipengan para buruh. Namun siapa sangka ada juga beberapa buruh yang lebih memilih mencari tempat persembunyian dari sengatan teriknya matahari siang tadi.

Bahkan juga ada pemandangan yang kerap menjadi momen di hari buruh selain demo, yakni piknik. Iya, per 1 Mei adalah hari libur nasional. Jadi walaupun harus beraksi dengan berdemo juga dimanfaatkan para orang tua untuk mengajak anak-anaknya jalan-jalan.

Buruh berteduh di bawah
pohon/sifathlist


Jadi tadi tuh, sekitar jam 11.00 WIB, saya tengah menemani teman yang masih kerja di tanggal merah (cian kan? Tapi itu sudah tugasnya). Terus kita berdampingan dengan beberapa buruh baik Ibu-Ibu maupun Bapak Bapak buruh yang mengajak anaknya ikut bergabung memeriahkan mari buruh. Saya yakin, para orang tua ini galau tingkat dewa antara pilih aksi atau piknik dengan keluarga. Jadi begitulah karena enggan memilih maka keduanya dilakukan secara bersamaan (keprok).

Cuma kasian juga sama istri dan anaknya yang dibawa saat Mayday, pastinya mereka juga ikut longmarch dari titik kumpul ke titik orasi. Panas-panasan dan bawa barang perlengkapan anak yang cukup banyak. Duh ingin ku pijitin deh itu Ibu-Ibu yang gendong anak bayi dengan gembolan (barang) banyak. Tapi harus tetap ada hikmahnya karena bisa Quality time sama keluarga dan sesama buruh. Yeyy.

Ricuh,  Diduga Ada Penyusup


Massa aksi Mayday/sifathlist

Para buruh tengah merayakan harinya secara internasional dengan suka cita. Berkumpul, bertegur sapa, berdiskusi, bertemu dengan teman lama, berpapasan dengan mantan, dan banyak lainnya dalam satu acara. Namun acara tahunan ini ternodai dengan adanya oknum puluhan pemuda berbaju serba hitam dari mulai penutup kepala, penutup wajah, baju, celana, dan sepatu, yang dikabarkan diduga hendak menyusup. Wah bahaya ini, apalagi ini si hitam-hitam mayoritas adalah pemuda berusia 15-25 tahunan.

Setiap Mayday mereka selalu ada, begitupun tahun lalu, saya pun turut menyaksikan mereka ikut bergabung dengan buruh. Bersyukurnya, tahun lalu tidak ricuh hanya melakukan vandalisme di banya fasilitas umum. Namun tahun ini juga disertai ricuh, videonya sempat viral si media social dan Whatsapp group ketika puluhan pemuda hitam-hitam ini melakukan vandalisme dan aparat keamanan menejarnya untuk diamankan. Enggak perlu dijelasinkan ya, itu ricuhnya begimana, bisa lihat di video yang tersebar saja, tapi ingat jangan terprovokasi dan termakan hoaks. Baca keterangan foto dan croscek juga di portal berita ya.

Mayday Tanggal Merah, Tapi Masih Banyak Buruh yang Harus Kerja


Seorang wartawan sedang bekerja meliput Mayday/sifathlist

Karena tanggal merah, dan momennya buruh internasional maka harus dirayakan. Ada yang ikut demo, piknik bareng keluarga, shopping, beres-beres rumah, bahkan ada juga yang cuma tiduran di kasur sambil stalking mantan eaaa. Jadi kamu buruh yang beraktivitas yang mana nih? kalau jawab cuma dituran pasti kamu jomblo ya? Jangan marah saya pun jomblo ya mblo.

Kamu yang ngedumel, ngomel-ngomel enggak karuan harus tahu dan bersyukur dikasih jatah libur satu hari. Karena masih ada lho beberapa profesi yang kudu (wajib) kerja di hari itu. Yap salah satunya Wartawan atau Jurnalis. Mereka yang bekerja di media terkhusus si anak lapangan, tanggal merah masuk itu hal yang sudah biasa.

Karena bagi mereka libur adalah hal yang mustahil. Semua harus tahu, profesi ini enggak punya jam kerja jadi fleksibel. Enak dong? Iya enak, kerjanya 7x24 jam. Kapapun dan dimanapun kalau kantor sudah menugaskan kamu wajib melaksanaken. Nolak aja sih, bisa kan. Bisa banget kamu tolak tugas itu, tapi kamu harus keluar dari pekerjaan ini. Sadis. Bukan sadis itu memang tuntutan dan kesepakatan yang telah kita tandatangani.

Diantara buruh, pedagang, ada wartawan sedang bekerja/sifathlist

Tapi Wartawan juga termasuk buruh lho, jadi kalau tadi saya lihat ada organisasi media yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung turut menjadi peserta aksi buruh. Mereka menyuarakan hak-haknya dan uniknya semua wartawan yang turut serta membawa sebuah pamphlet yang unik dan memang benar-benar terjadi pada diri kita.

Jurnalis butuh disayang bukan ditendang” “Kerja 24 Jam enggak ada duit lemburGaji kecil enggak bisa ngemallPerjuangin nasib orang lain bisa, perjuangin nasib sendirienggak bisa” dan banyak lainnya.

Sedikit mereview orasi salah satu buruh di atas mobil komando, yakni soal hak-hak pekerja wanita. Soal cuti haid. Ya selama ini belum banyak perusahaan yang memberi cuti haid untuk buruh wanita. Padahal itu adalah kita sebagai wanita. Kalau kakak saya sih, dia enggak dapat cuti haid tapi diduitin deh itu per bulannya ada bonus gitu. Enggak besar pokoknya. Kenapa kita harus memperjuangkan hak itu, ya hanya wanita yang tahu rasanya kalau sedang haid, apalagi hari pertama, kedua, dan ketiga, yang lagi ngocor-ngocornya tuh. 
Share:

Monday, April 29, 2019

Jalan-Jalan ke Lampung, Nikmati Aneka Khas nya


Spot foto di halaman Museum Lampung/sifathlist

Setelah perjalanan jauh dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera via darat dan laut. Saya akan ceritakan seharian di Bandar Lampung, kira-kira mau ngapain yah? Apa cuma mau nyebarang sama numpang makan minum di sana atau bagaimana? ya pastinya ingin menikmati kesempatan libur yang jarang-jarang ini, dong.

Sebelum ke Lampung atau ke tempat lain, ada baiknya untuk membuat draf destinasi yang akan dikunjungi. Supaya punya arah dan tujuan yang jelas, juga bisa mempersiapkan segala sesuatunya dari rumah.

Kemarin sih rencana ingin mendatangi beberapa destinasi yang hits di Bandar Lampung diantaranya Bukit Sakura, Bukit Teropong Sindy, Pantai, Museum Lampung, dan beberapa yang jadi fenomenal di Kota Lampung. Tapi karena waktu dan cuaca yang kurang mendukung akhirnya sedapatnya aja deh, sedih.

Mampir ke Museum Lampung 


Gerbang Museum Lampung/
sifathlist
Saya sudah menebak sih, pasti museumnya sepi kaya museum pada umumnya. Ya betul sekali tebakannya. ketika tiba di Museum kebanggaan masyarakat Lampung yang terletak tidak jauh dari kampus Universitas Negeri Lampung (UNILA) ini, sudah terlihat sepi. Saya dan saudara memasuki gerbang dengan ikon khas Provinsi Lampung yakni Siger berwarna emas yang besar. Kemudian terlihat jelas tulisan Museum Lampung di atapnya yang begitu kontras berwarna putih.

Replika rumah adat/sifathlist
Di luar Museum terdapat Meriam kuno, replika rumah adat Lampung dan halaman yang cukup luas. Untuk melihat koleksi Museum ini pengunjung dikenai biaya masuk sebesar Rp 4000 per orang, dan kemudian mengisi daftar pengunjung. Hanya terlihat dua petugas di sana, dan mengarahkan pengunjung untuk melihat koleksi dari lantai dasar terlebih dahulu. Jadi Museum ini terdapat dua lantai yang semuanya koleksi.

Saya amati, tidak terlalu banyak koleksi di sini, tapi masih menarik untuk digali sebagai bahan ilmu pengetahuan terkait Lampung dan masyarakatnya. Lantai dasar tidak ada yang menarik bagi saya kemudian saya naik ke lantai dua menggunakan tangga dengan balutan ukiran khas di dindingnya. Saya kurang paham sih itu ukiran apa, yang pasti menceritakan sejarah kali ya, karena di sana tidak ada pemandu museum jadi bingung sih mau tanya ke siapa. Tapi jangan khawatir, di sana ada keterangan per itemnya jadi dibaca saja ya gaes.

Gunung Krakatau saat meletus/sifathlist
Koleksinya di sana juga ada gambar Gunung Krakatau saat meletus yang sangat besar di dinding. Ngeri juga sih lihatnya, karena gambar gunung begitu besar, lahar dan awan tebal (wedus gembel) ini digambarkan begitu detil. Oh ya ini bukan sekedar gambar tapi dibuat seperti miniatur gitu, jadi berasa melihat aslinya. Ada juga macan, beruang, burung, dan hewan lainnya yang diawetkan, miniatur rumah adat lampung, Al quran tertua, adat, seni, alat tradisional Lampung lainnya.

Koleksi adat saat orang
meninggal/sifathlist
Tangga Museum Lampung dengan
ukiran khas di dinding/sifathlist

Soal adat ini begitu menarik bagi saya, walaupun sedikit merinding sih di lantai dua tuh, karena suasananya sepi (anyep) dan tidak ada petugas, ditambah lagi ada koleksi adat bagaimana masyarakat setempat mengurus orang meninggal di barengi dengan miniaturnya. Seremkan, dan emang udah kaya liat orang meninggal aja, tuh replika mayat ditutup seluruh tubuhnya menggunakan kain khas di sana. Ada juga kain kafannya dong. Serem deh.

Koleksi adat resepsi
pernikahan/sifathlist
Koleksi adat bayi
yang baru lahir/sifathlist

Selain itu, ada juga perayaan atau adat menyambut bayi yang baru lahir. Ada bayi-bayiannnya juga lho wajah gemesin. Hingga ada koleksi resepsi pernikahan yang begitu kental dengan adat setempat.

Oh ya selain seram, dan tidak ada pemandu museum, bangunan juga sudah begitu tua dan perlu diperhatikan. Bebebapa sudut plapon museum sudah ada yang rusak, koleksi terlihat berdebu, jadi sayang saja, tempat yang bisa untuk menimba ilmu pengetahuan ini terabaikan begitu saja. Masukannya mungkin lebih diperhatikan, agar museum tetap jaya dan masyarakat terkhusus para siswa mau mengunjungi museum.

Taman Gajah
Taman Gajah ini, sama saja dengan taman-taman lainnya. Terlihat sekali taman  ini baru dibangun dan bahkan masih proses penyelesaian. Saya ke sini malam hari, ya tidak ada yang special hanya masyarakat dan penjual di sana. Fasilitas standar ada tempat bermain, tempat olahraga, mushola, dan tempat duduk a la taman modern gitu lah. Di depan ada patung gajah yang dipagar, kemudian foto Gubernur dari zaman ke zaman.

Kalau saya lihat ini, taman kaya Alun-Alun Cicendo Kota Bandung dari penataannya. Tapi ya nikmati saja malam di Bandar Lampung. Oh ya, saat mampir ke sana, ada siswa-siswa SMP sekitar 15 orang sedang berlatih musik lengkap dengan alatnnya.

Saya amati ini taman bukan sekedar untuk bersantai atau berolahraga tapi juga sebagai tempat untuk berlatih music atau pagelaran lainnya. Karena mereka (para siswa) berkumpul di tengah di mana di sana ada seperti tempat untuk perform. Jadi bentuknya teras melingkar terdapat panggung yang dibuat dari semen dan juga teras berundak untuk para penonton.

Lampung Walk


Spot foto Lampung Walk/
sifathlist
Karena gagal ke Bukit Teropong atau Bukit Sindy Lampung, karena hujan lebat dan angin, malam itu saya dan saudara mencari alternatif untuk sekedar nongkrong. Ya sedih juga sih karena tidak bisa menikmati malam di atas bukit. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Alternatif mencari tongkrongan malam yang terdekat. Dipilhlah Lampung Walk.

Dalam bayangan saya, Lampung Walk ini akan seperti Forest Walk atau Skywalk Cihampelas Bandung. Tapi ternyata ketika tiba, hanya bangunan modern yang isinya tempat makan a la a la perhedonan gitu dengan hiasan lampu-lampu malam yang cukup menarik. Oke baiklah akhirnya kita hanya makan.

Sebelum meninggalkan Lampung Walk kita berfoto dulu, ya lumayan bisa buat story di Instagram lah ya. Naiklah ke lantai dua dan di sana ada spot untuk berfoto dengan background Lampung Walk yang berbentuk hati (love) dengan hiasan bunga dan lampu. Sebenarnya ada tempat foto 3 Dimensinya juga sih di sana. Kalau enggak salah denger bayar Rp 35000 per orang, cuma kita enggak masuk dan memilih pulang ke rumah.

Lampu malam di Lampung
Walk/sifathlist
Yang saya suka dengan Lampung, yakni semua bangunan baik gedung pemerintahan, swasta, pasar, toko besar kecil, dan banyak lainnya selalu menampilkan ikon Lampung. Jadi sepanjang jalan dan dimana pun nongkrong ngemper cantik siger emas ini selalu terpampang di sana. Jadi khas banget dan salut deh sama masyarakat sana.

Kalau di beberapa wilayah, ikon daerahnya cuma dipajang di gedung pemerintahan atau gapura, kan ya? Jadi patut dicontoh deh, biar kita atau wisatawan tuh tau. Oh ini toh ikon atau lambang dari wilayah ini tuh. Gitu.

Karena tidak ada destinasi lain yang dikunjungi, maka saya akan jadwalkan untuk datang ke sana lagi. Harus dong, kan wisata hits nya belum dikunjungi. Hahaha.

Share:

Sunday, April 28, 2019

Terpukul Tapi Harus Memilih, Keduanya Kebahagiaan

ilustrasi/sifathlist


 Pagi tadi saya melihat beberapa postingan teman sekolah yang tengah dihadapi sebuah pilihan yang cukup sulit. Di mana dia kerja di perusahaan swasta, baru empat bulan. Dia baru nikah beberapa bulan dan sekarang tengah hamil muda. Padahal dalam story Instagramnya dijelaskan bahwa dia dan perusahaan tempat dia bekerja, memiliki perjanjian tidak tertulis yang intinya untuk menunda kehamilan selama dua tahun. Tapi kini dia tengah hamil dan berusaha untuk menutupi kehamilannya. Namun beberapa hari dia kelelahan dan ada masalah pada kandungannya itu yang akhirnya dia diopname selama berhari-hari.

Secara otomatis, perlahan orang-orang kantor tahu soal kehamilannya yang akhirnya membuat dia galau tingkat dewa. Dia bersikeras untuk mempertahankan pekerjaanya karena satu niatan yang sangat luar biasa. Yakni ingin memberangkatkan umroh mamahnya dengan uang hasil kerja kerasnya. Entah saya melihat dari postingannya begitu terpukul dan berat antara memilih dari dua hal yang membahagiakan itu.

seorang lanjut usia sedang menenun/sifathlist
Dalam postingan itu, dia menyebutkan bahwa dokter kandungannya membeikan sebuah pilihan yang harus dia pilih yaitu ANAK atau PEKERJAAN? Semakin terpukul karena uang tabungannya belum mencukupi untuk memberangkatkan mamahnya umrah. Tapi anak adalah sebuah karunia, amanah dar-Nya yang harus dijaga.

Dalam postingan terakhirnya, dia memilih untuk menjaga anak dibanding pekerjaannya. “Rezeki (uang) bisa dicari dan datang dari mana saja dengan usaha kita. Tapi Rezeki anak datang dari Allah” begiulah kira-kira kutipannya. Lalu bagaimana dengan niat baik memberangkatkan mamahnya ke tanah suci? Rezeki tidak disangka-sangka (entah bagaimana) akhirnya uang tabungannya mencukupi dan tahun ini mamahnya akan berangkat untuk ibadah umroh.

Sebelumnya saya minta maaf pada dia, karena saya tidak meminta izin menulis cerita soal pengorbanan dia antara memilih anak dan pekerjaan. Namun saya menilai ini kisah yang cukup keren dan sangat inspiratif. Tidak sedikit orang-orang bahkan teman saya yang dihaspi hal seperti ini, sehingga (semoga) dengan ditulis ulang akan banyak lagi orang-orang yang termotivasi dan tersadarkan dengan hal ini. Terima kasih, sudah berbagi cerita.

Apresiasi yang berujung Curhat

Bagi saya ini patut diapresiasi, saya termotivasi untuk bisa lebih bersabar, memikirkan betul-betul segala jalan yang akan ditempuh, terlebih ketika ingin membahagiakan kedua orang tua yang telah membesarkan kita sampai hari ini. Saya pun memiliki cita-cita yang sama, ingin memberangkatkan kedua orang tua saya ke tanah suci dengan hasil kerja keras saya. Ya saat ini jauh dari kata cukup untuk membiayai itu. Terlebih kini saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah memberi kenyamanan dalam hidup saya dan bisa sedikitnya membantu keuangan orang tua setiap bulannya. Saya pun terus menyisihakan sebagian besar uang untuk ditabung.

para wartawan sedang melakukan doorstop/sifathlist
Tahun lalu ketika para saudara, tetangga, dan lainnya berangkat umroh dan haji. Orang tua saya diizinkan untuk mengantar mereka. Dengan suka cita menaiki bus dan mengantar mereka tapi saya yakin bahwa pada hati kecil orang tua saya ada rasa ingin juga menunaikan ibadah umroh dan haji. Tapi ketika saya tanya ‘apakah ingin ke Mekkah?’ mereka hanya jawab kamu saja dulu, emak dan abah belakangan.

Saya menyimpulkan jawaban itu, bahwa memang ada keinginan, hanya belum ada rezeki untuk bisa ke tanah suci. Karena mereka berpikir ketika mengatakan iya maka akan merasa membebani anak-anaknya yang yang akan memberangkatkan haji. Ya tabungan saya tidak cukup, yang akhirnya saya memberikan alternatif dengan membeli hewan kurban untuk dikurbankan pada saat idul adha. Saat itu saya hanya mampu membeli satu ekor domba.

Kemudian saya menyerahkan domba itu kepada orang tua saya, “terserah mau siapa duluan yang kurban tahun ini, Emak atau Abah” tapi jawabannya tidak terduga mereka menyerahkan hewan kurban itu kepadaku dan mengatakan “kurban saja duluan, kita bisa tahun depan” yang akhirnya saya duluan yang kurban. Dalam hati, tahun depan saya harus membeli hewan kurban untuk kedua orang tua saya.

Namun nasib berkata lain, tahun ini saya mengundurkan diri dari pekerjaan dan belum bekerja dengan gaji per bulan. Saya hanya bisa mendapatkan recehan rupiah saat ini yang tidak bisa dipastikan besarannya. Tapi setelah melihat postingan teman saya yang sudah diceritakan di atas, saya mampu. Karena rezeki-Nya selalu datang dengan cara apapun dan dari mana pun. Insya Allah tahun ini, orang tua saya bisa kurban dan tahun berikutnya bisa ke tahan suci. Insya Allah.

Syukuri apa yang telah kamu dapat hari ini.

Share:

Latest Posts

Back to Top

Follow by Email


Translate

About Me

My photo
Subang, Jawa Barat, Indonesia
Assalamualaikum teman, kali ini saya mencoba untuk fokus di blog catatan sifathlist. Ini sekedar menjaga ritme agar tidak lupa caranya menulis, baik soal curhatan, pengalaman, perjalananan, tips and trick, dan banyak lainnya. Semoga terhibur atau barang kali terinspirasi