Terus Melangkah #2

April 18, 2016

Lanjutan Terus Melangkah #1 ........
Keesokkan harinya Kiki mengirim pesan kepada Cindy.
Sorry Cin, aku blm bisa pndah. Brtahan ja dulu mngkn lama klamaan pun pst betah” Isi pesan Kiki kepada Cindy
“Ya sudahlah gpp, mngkn lain wktu kita bisa bareng hehe” Balasnya
Kiki berusaha bertahan di asrama, mencoba mengikuti rutinitas mengaji dan lainnya. Dia memang masih setengah hati dalam melaksanakan tugas tersebut, namun mencoba agar terbiasa apa salahnya.
Pagi dan malam dia tidak bolos mengaji lagi. Setiap kegiatan diikutinya dengan ikhlas. Kuliah dan mengaji dijalankan dengan balance . Dia mulai berpikir untuk memperbaiki diri, bukan hanya di dunia, akhirat pun harus dipersiapkan dari sekarang.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Karena hal yang paling dekat dengan manusia ya kematian” Hatinya selalu berkata seperti itu.
Hijab yang dikenakan menjadi awal perubahan untuk memperbaiki diri. Jika pada awalnya dia lebih memilih untuk memperbaiki hatinya terlebih dahulu, namun sekarang berbalik yaitu perbaiki penampilan dulu. Wanita sholehah dilihat cara dari cara dia menutup auratnya. Ini menjadi hari baru bagi Kiki menjadi wanita yang siap menutup auratnya.
Hari-harinya semakin dihiasi dengan lingkungan agamis yang mendorongnya untuk belajar istiqomah. Dia buta dengan ilmu-ilmu agama. Selama ini dia hanya sekedar tahu bahwa tugas manusia hanya shalat, puasa dan sedekah. Namun masih banyaknya amalan-amalan yang harus diperoleh dan diaplikasikan oleh seorang muslim.
Libur pun tiba, Kiki bergegas untuk pulang kampung. Sudah tiga bulan dia tidak berjumpa dengan orang tuanya. Dia menaiki transportasi umum. Di perjalanan dia melihat seorang gadis kecil umur 10 tahun yang sedang menyanyi sambil menadahkan tangan di dalam bis. Dia terlihat kucel dan letih. Kiki yang tengah duduk di belakang berkesempatan untuk berbincang dengan anak gadis tersebut.
“Dek, masih sekolah?”
“Masih Kak, kelas 3 SD”
“Ibu, Bapak kerja di mana?”
“Ibu kerja kerja jadi tukang cuci, Bapak nggak ada”
Kesempatan 2 3 menit untuk berbincang dengannya sangat membuka hati dan pikiran. Gadis itu bekerja keras untuk menghidupi dirinya agar tetap sekolah. Tidak ada Ibu yang merelakan anaknya bekerja keras di jalanan, hanya saja keadaan yang mendorong hal tersebut terjadi.
Kiki sangat bersyukur karena dirinya masih diberi rizki untuk menuntut ilmu dalam kondisi yang baik dalam hal keuangan. Gadis tadi memberi pelajaran bahwa apapun keadaannya baik maupun kurang baik, bersyukurlah. Seringlah merunduk untuk mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang lebih rendah dari keadaanmu sekarang.
Empat jam perjalan Bandung ke kampung halaman.
Home sweet home, Rumah menjadi obat homesick. Tegur sapa senyum tawa haru menghiasi kehadiran Kiki di rumah. Kerinduan yang sempat ditesampaikan via handphone kini terealisasikan secara langsung.
“Ki, gemukkan yah,” Ucap Bapak
“Artinya Kiki nyaman di Bandung, Pak” Jelas Ibu
“Nyaman gimana? orang hampir setiap hari nangis pengen pulang” Ungkap Kiki
Obrolan sederhana mengawali kebersamaan mereka. Rumah, tempat ternyaman dari segalanya dan keluarga, obat dikala kesepian.
Kiki mengirim pesan kepada Nisa.
“Nis, main dong! Di rmh nih” Pesan Kiki yang terkirim.
“Kapan2 ja yah” Balas Nisa
Kiki merasakan keanehan, tidak biasanya Nisa cuek kepadanya. Setiap balas pesannya sangat singkat dan membosankan. Kiki beranggapan bahwa Nisa sedang sibuk, walaupun dia pulang ke rumah bukan berarti dia free, mungkin ada tugas yang harus diselesaikan.
Hari kedua di rumah, Kiki menyempatkan diri untuk bertegur sapa dengan tetangga dan sanak saudara. Namun tiba-tiba ada satu tengganya bertanya dan membuatnya berusaha memberikan pemahaman sebisa dia.
“Ki, tumbem dikerudung mulu? Mau kemana gitu?” tanya tetangganya.
Kata tumben ini mejadi peluang Kiki untuk menejaskan sembari memberi pemahaman mengenai aurat dan hijab.
“Iya, ini lagi belajar menutup aurat. Kan di sudah kewajiban seorang wanita untuk menutup aurat. Memang sulit untuk mengawalinya namun nggak ada salahnya untuk dicoba kan?” Jawabnya.
Kiki belum bisa menjelaskan secara detail kewajiban seorang wanita dalam menutup aurat. Setidaknya sebagai mahasiswa komunikasi bahwa seorang komunikator yang baik yaitu yang bisa menyampaikan pesannya dengan bahasa dan kalimat sederhana sesuai dengan komunikannya. Maka informasi yang disampaikan akan diterima secara jelas tanpa ada noise atau gangguan.
Waktu demi waktu orang-orang disekitanya mulai menghargai dan memahami perubahannya. Mereka menerima perubahanya dan diapresiasi, walaupun tidak semua. Keputusannya untuk menutup aurat dipastikan ada yang suka dan tidak. Itulah dinamika kehidupan yang harus dilewati dengan kesabaran oleh setiap manusia.
Selama di rumah, Kiki setiap hari mengirim pesan via sms dan sosial media. Setiap pesan yang terkirim seakan terabaikan, not responding. Tidak biasanya Nisa seperti itu. Mereka jarang sekali telepon-an karena mereka lebih suka kirim text dari dulu hingga sekarang.
Apakah Nisa marah? Kiki pun semakin bingung. Dia bersilaturahim ke rumahnya pun dia sedang di luar. Sesekali misscall pun tak ada respon.
“Salah apa yah aku? Nisa bikin galau nih” Ungkapnya kebingungan.
Tidak terasa sudah satu pekan di rumah. Tersisa satu hari libur sebelum memulai rutinitas sebagai mahasiswa rantau.
Ibunya sudah menyiapkan bermacam-macam pernak pernik, baik makanan, barang-barang, dan juga uang saku pastinya. Rasanya sulit untuk mengakhiri libur ini, ingin sekali memperpajang waktu libur. Ditambah lagi Kiki belum berkesempatan betemu dengan Nisa.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive