Tukang Sayur Utamakan Pendidikan Anak

October 19, 2016



Kokok-an ayam yang tidak sempat dijadikan  alarm. Hanya terdengar suara ringan sang kakek dari toa masjid yang tidak pernah absen setiap paginya. Angin menghembus menggigilkan badan ini, menyenyakkan orang-orang di balik selimut. Namun mereka tidak terhasut untuk melanjutkan mimpinya melainkan bangun mewujudkan mimpi anak-anaknya.
Emak Wijah (64) dan Abah Sakum (69) sosok orang tua yang sangat bertanggung jawab untuk mewujudkan mimpi delapan anaknya. Pukul 03.00 para pencari cahaya kehidupan sudah terbangun dari tidurnya untuk persiapan mengais rezeki di pasar tradiosional Ciasem, Subang.
Sejak tahun 1980-an beliau memulai usaha menjual sayuran keliling dengan modal awal Rp 15.000. Pukul 04.30 setelah menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta, Emak Wijah dan Abah Sakum bergegas menuju pasar dengan menaiki elp (mobil umum). Sekitar 10 menit jarak dari rumah ke pasar.


Mereka harus memilih sayuran yang segar untuk dijual kembali kepada pelanggan. Bernegoisasi menentukan harga yang tepat agar mendapatkan untung dari sayuran tersebut. Setelah selesai belanja, mereka langsung menjual sayuran kepada pelanggan. Berkeliling dan menyusuri gang pemukiman warga dekat pasar dengan mengais dan memikul sayuran segar dengan bakul besar hingga ke rumah.
Menawarkan sayuran dari pintu ke pintu, menyucurkan keringat yang amat deras yang hanya menguntungkan sedikit rupiah saja. Keadaan itu tidak memadamkan semangat untuk berhenti mewujudkan mimpi anak-anaknya. Selalu mensyukuri rezeki pagi itu walaupun masih tersisa timun dan bayam. Hasil menjual sayuran disisihkan untuk uang saku anak-anaknya yang pada saat itu masih duduk di sekolah dasar.
Selesai berkeliling tidak sempat merebahkan badan di bangku kayu. Mereka langsung bergegas mencari sesuap nasi yaitu bekerja membantu kakak si Abah. Emak Wijah bekerja membantu memasak dan beres-beres rumah sedangkan Abah ditugaskan untuk mengurus sawah dan kebun milik kakaknya. Mereka bekerja dari sepulang berkeliling menjual sayuran hingga sore hari.
Asa yang menyala untuk menghidupi keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Perjuangan yang hebat. Pengorbanan yang luar biasa. Kemiskinan bukan alasan untuk minta dikasihani. Kita masih diberi akal untuk berpikir sehat, tenaga untuk melangkah yang lebih baik dan hati yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Segala sesuatunya memerlukan proses untuk merubah suatu keadaan. Kalau kita malas merubah keadaan, Tuhan pun enggan merubah mereka. Karena Tuhan memerintahkan untuk tetap berusaha merubah keadaan mereka sendiri.
Tahun demi tahun keadaan mulai membaik, Abah tidak lagi mengais rezeki di pasar karena dipercaya untuk mengurus sawah dan kebun sepenuhnya. Emak tetap ke pasar dan hasil keringatnya membuahkan sebuah warung bilik di depan rumah. Kini Emak tidak lagi berkeliling kampung menawarkan sayurannya, melainkan stay di warung selepas belanja di pasar.
Kedelapan anak-anaknya pun mencicipi bangku sekolah semua. Walaupun ketiga anaknya hanya sampai tingkat dasar dan keempat anaknya berakhir di tingkat menengah dan si bungsu bisa melebihi kakak-kakaknya.
Tahun 2006 warung Emak Wijah membaik, yang semula hanya menjajakan sayuran kini ditambah dengan bahan sembako, jajanan dan dagangan lainnya. Warungnya pun tidak lagi bilik melainkan tembok dengan ornamen warna biru putih.
Mereka bersyukur karena keringat kesabaran menghidupi kebutuhan keluarga dan pendidikan telah terbayar oleh kebahagiaan anggota keluarganya. Ketujuh anaknya sudah bekerja dan berkelurga sedangkan si bungsu masih diperjuangkan untuk mewujudkan mimpinya di bangku kuliah. Anak-anaknya pun saling bahu membahu memperbaiki kehidupan yang lebih bahagia lagi.
Jasa orang tua tidak akan pernah terbayar oleh anaknya. Sebanyak apapun materil dan kepedulian anaknya tidak akan bisa melunasi apa yang pernah diperjuangkan oleh Ibu dan Bapaknya. Sampai saat ini 2016 Emak Wijah dan Abah Sakum tetap konsisten menjual sayuran di warungnya. ***Siti Fatonah/Artikel 

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive