Alam Lombok dan Kearifan Lokal yang Menarik Dikunjungi

March 06, 2019


Pantai Mandalika/sifathlist

Tiga hari melancong di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mata terpana dengan indahnya pantai, laut, dan beberapa pulau kecil (Gili) di sana. Rasanya enggan meninggalkannya Lombok sendirian dan berharap bisa menghabiskan waktu lebih lama di sana.

Perjalanan singkat namun mengesankan ketika singgah di beberapa tempat di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bagaimana tidak? tiga hari perjalanan dalam agenda Famtrip dari pihak Kementerian Pariwisata RI begitu menarik dan rasanya ingin sekali kembali singgah dan berlibur lebih lama lagi.

Perjalan hari pertama pukul 08.05 WIB dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta dan tiba Bandar Udara Internasional Lombok pukul 11.00 WITA. Rombongan sekiranya berjumlah 40 orang ini langsung disambut dengan pengalungan syal asli Lombok, kemudian semua masuk bus untuk makan dan istirahat sejenak di lokal resto sekitar bandara.
Pesawat Jakarta-Lombok/sifathlist
Nah di sini, awal dari percakapan akrab dari berbagai profesi dan usia. Ya dalam perjalanan ini lebih banyak peserta yang sudah berkeluarga dan orang-orang hebat. Hanya saja, saat itu saya bergabung bersama dengan tiga peserta lainnya yang ternyata belum dihalalin oleh calonnya. Iya calon bagi yang sudah punya.

Makanlah di lokal resto dengan hidangan khas dari Lombok. Tidak terlalu asing memang menu yang ditawarkan, hanya satu yang buat saya penasaran. Ya sambel Lombok. Plecing kata teman yang memang sudah akrab dengan kawasan Lombok. Sambalnya aneh ketika pertama kali menyentuh lidah tapi jujur ini enak bener deh. Konyolnya kita makan, menu banyak tapi sambel tetep prioritas.

Tari Paresean di Desa Sasak Sade, Lombok/sifathlist
Kemudian semua bergerak menuju destinasi wisata pertama yakni Desa Sasak Sade, tempat yang masih mempertahankan adat suku Sasak. Dari bentuk rumah, pakaian, dan adat masih sangat kental.

Tiba di Desa Sade, Lombok rombongan pun disambut dengan tarian adat Sade yaitu Tari Paresean atau pertunjukan pertarungan antara dua lelaki suku Sasak dengan membawa senjata tongkat rotan dan perisai kulit kerbau yang tebal dan keras.

Ama Ririn, 32 sang tour guide asli Desa Sade memandu kunjungan di Desa Sade. Semua berkeliling mengenal adat dan suku setempat. Memang sangat jelas budayanya sangat kental, dari bentuk rumah hingga adat yang dipakai murni. Bahkan ada suatu kebiasaan yang unik yakni mengepel menggunakan bahan kotoran kerbau setiap satu minggu sekali, agar lantai tetap kuat dan mengkilap.
Seorang warga mengajarkan cara menenun/sifathlist
Ada hal menarik dimana, masyarakat Sade yang berjumlah 150 rumah dengan 700 jiwa, yang mematuhi adat perkawinan dengan saudara sepupu agar budaya tetap dilestarikan. Oh ya, kalau perempuan Sade belum bisa menenun maka dia belum pantas untuk menikah. Sehingga sejak kecil perempuan di sana diajarkan menenun agar kelak bisa menikah dengan laki-laki pujaannya.

"Tidak ada lamaran, di sini kalau mau nikah seorang pria akan menyulik mempelai wanita terlebih dahulu kemudian akan mendatangi orang tua si wanita itu untuk dilakukan ada atau pernikahan," kata Ama Ririn di Desa Sade, Lombok, NTB, Jumat (16/11).

Perjalanan masih panjang, kini rombongan digiring ke wilayah Pantai Mandalika. Ada Pantai Kuta Lombok, Tanjung Aan, hingga Bukit Merese yang sangat elok tuk dijadikan menikmati indahnya sunset dari ketinggian dan hamparan laut. 
Sunset di bukit Merese/sifathlist
Berlibur sendiri atau bersama keluarga dan rekan pastinya pengunjung akan kecanduan dengan indahnya hamparan laut yang berwarna biru kehijauan. Jernih hingga karang pun terlihat kasat mata dari daratan. Ada hal unik yakni di Tanjung Aan terdapat dua jenis pasir pantai berbeda, yaitu seperti putih tepung terigu dan merica yang berada dalam satu area.

Tak punya partner untuk berfoto atau kedekar meminta tuk memotret? Tak perlu khawatir karena di tiga lokasi tersebut begitu banyak anak-anak yang jago motret memotret. Tangan ajaib anak-anak Lombok ini sudah terlatih dan berpengalaman menghasilkan foto yang ciamik super kece. Hasil jepretannya tidak akan mengecewakan dan pengunjung tidak ditarif atau bayar seikhlasnya untuk hasil karya anak-anak berbakat ini.
Hasil jepretan anak Lombok/sifathlist
Karena jika hanya menikamati indahnya pantai Lombok tanpa berfoto rasanya ada yang kurang. Maka tak usah malu untuk mengabadikan momen terindahmu di Lombok.

Eni, 14 seorang siswa SMP Lombok yang jago dalam memotret. Bukan hanya sekedar main atau iseng, ternyata semua anak-anak di Lombok dilatih fotografi oleh seorang turis agar bisa menghasilkan rupiah tanpa meminta-minta. Dengan karya selain bangga dengan hasil yang super bagus juga sangat membantu untuk meringankan beban keluarga yang dikategorikan kelas menengah ke bawah.

"Belajar dari Bule selama sebulan. Terus ditulakan ke anak-anak lain agar bisa memotret wisatawan. Hasil dari jasa motret bisa buat beli beras dan biaya sekolah," ungkap Eni di Tanung Aan, Lombok, Jumat (16/11).

Hari kedua rombongan sangat tertantang, karena nyaris satu hari full badan basah dan dikeringkan di tengah laut dengan cuaca yang begitu terik sekitar 30 derajat celsius lebih. Ya, rombongan diantarkan menggunakan perahu kayu (mesin) ke pulau kecil atau dikenal dengan sebutan Gili dari Pelabuhan Tawun.
Keseruan di Gili Nanggung/sifathlist
Gili Nanggu begitu menggoda. Matahari begitu terik, angin semilir laut membalas, pemandangan indah memenangkan para rombongan. Sehingga panas tidak membiarkan eksis berfoto memudar.   
Menurut Hendra, 32 sang pemandu perjalanan perjalan sekaligus tukang foto kelompok perahu 02. Yah rombongan dibagi menjadi empat kelompok, karena perahu hanya mampu membawa beban 6-10 orang.

Satu perahu bisa disewa seharian dengan tarif Rp 300.000 per enam orang, jika lebih (max 10 orang) maka akan dikenakan biaya tambahan Rp 20.000 per kepala. Tarif ini terbilang terjangkau karena disewa seharian, bahkan jika hendak pergi pukul 01.00 dini hari pun dipersilakan dan harus sudah kembali pukul 17.00 waktu setempat. 

Tak hanya itu, Gili Nanggu merupakan pulau yang cocok untuk Snorkling. Banyak ikan hias seperti halnya film ikan badut atau Nemo. Banyak sekali spot foto yang ciamik dan menggoda untuk berlama-lama di sana. Hamparan laut, barisan pohon membentuk terowongan, pohon yang mengering sehingga berasa di negara yang sedang musim gugur dan lainnya. Sangat menarik namun sayang waktu tidak memungkinkan berlama-lama bersamanya karena masih banyak Gili yang menunggu kedatangan kita.
Gili Sudak/sifathlist
Dilanjutkan dengan perjalan menuju Gili Sudak sekitar 5-10 menit menggunakan perahu. Begitu jangkar dipasang di bibir pantai, kelapa muda menyambut kehadiran rombongan. Makan siang pun sangat nikmat ketika disantap dipinggir pantai yang diteduhi pohon yang lumayan rindang dengan angin sepoi laut. Ikan bakar, sup jagung, tempe dan pastinya jangan lupa cicipi sambal Lombok yang super mantap pedas namun bikin nagih.
Bintang laut di Gili Sudak/sifathlist
Tidak banyak spot foto, tapi di sana pengunjung bisa menemukan banyak bintang laut dengan aneka warna, baik hijau, hitam, biru, dan lainnya di pinggir pantai. Tak lupa di sana pun ada satu resto yang bisa dijadika rekomendasi isi perut saat singgah ke sana.

Sudah kenyang, kekuatan untuk melanjutkan berfoto-foto ria pun bertambah. Tak jauh dari Gili Sudak terlihat ada Gili Kedis yang mungil tapi oke juga untuk berfoto. Ya walaupun hanya 15 menit memijak di pasir putih Gili Kedis tapi cukup merasakan keindahan pulau mungil ini. Spot foto di sana ada terdapat dua spot ayunan yang bisa dimanfaatkan dan sangat instagramable. Kece, keren, semua lengkap bahkan bisa juga berfoto bersama Pak Le dan Bu Le (turis).
Gili Kedua/sifathlist
Waktu begitu cepat, sudah tiba di hari terakhir Famtrip 18 November 2018. Sebelum terbang dan say good bye atau see you next time pada Lombok, sekitar pukul 08.30 rombongan akan diajak berkeliling di desa tenun dan batu bolong.

Pertama rombongan mengunjungi tempat ibadah umat Hindu di Batu Bolong Temple. Batu Bolong ini terletak percis di pinggir pantai yang sudah dijadikan tempat pariwisata setempat. Tak ada pungut biaya hanya sekedar untuk biaya atau ongkos kebersihan itu pun seikhlasnya.
Pintu masuk Batu Bolong/sifathlist
Namun sayang, saya tidak bisa masuk karena dilarang. Bukan tidak boleh meliput melainkan tidak boleh karena dalam keadaan sedang datang bulan (haid).

"Yang sedang datang bulan tidak bisa masuk karena ini tempat ibadah. Dulu ada (wisatawan) sedang haid yang mencoba masuk tapi akhirnya harus diobati di Lombok oleh pendeta di sini," ujar Nengah Suice selaku penjaga Batu Bolong, Lombok, Minggu (18/11).

Tak berlama-lama di dalam, kemudian bus langsung tancap gas menuju salah pusat perbelanjaan oleh-oleh Lombok. Dari kain, sandal, topi, gantungan kunci, dan lainnya lengkap di sana. Sudah puas rombongan pun dibawa ke tempat penjualan mutiara asli Lombok dan makan.

Hari terakhir tidak begitu padat dan santai. Di Kota Mataram ini sangat berbeda dengan wilayah sebelumnya. Bangunan pun cukup padat, pusat pemerintahan dari mulai alun-alun dan masjid termegah Islamic Center Nusa Tenggara Barat, kota tua Lombok bisa dilihat dari jendela bus. 

Jangan khawatir bagi yang muak dengan kemacetan, di sana jadi pilihan untuk menikmati kota tanpa beban macet berjam-jam. Bahkan selama tiga hari hanya mendapati kurang dari lima lampu merah.
Rumah adat desa tenun Sukarara/sifathlist
Kunjungan pamungkas yakni mengunjungi desa tenun Sukarara. Semua langsung disambut oleh penenun lanjut usia yang sedang asik membuat motif dan menenun. Semua hasil tenun dipajang dan diperjual belikan di sana. Sebelum tawar menawar kain tenun yang harganya cukup sepadan dengan proses pembuatannya, pengunjung bisa memilih kain untuk berfoto bersama dengan latar belakang rumah adat setempat. Puas berfoto pemandu lokal, Japar mengintruksikan untuk berkeliling Desa Sukarara.

Saat berkeliling, bangunan sudah berubah layaknya perubahan di desa lain yakni sudah menggunakan tembok. Hanya saja setiap rumah selalu ada alat tenun. Cukup sepi dan sangat terik saat itu maka perjalanan pun dipangkas dan hanya mengitari beberapa rumah saja.


Agenda pun selesai, semua bercipa-cipiki bersama anggota rombongan. Karena pukul 18.55 WITA, semua harus sudah terbang menuju Jakarta. Semua menyampaikan perjalan begitu menyenangkan karena banyak sekali destinasi alam sangat menarik yang belum dikenal oleh wisatawan lokal maupun asing.

Note:
Oh ya, kalau mau lihat versi yang sudah diedit oleh pakarnya, bisa langsung dicek aja ya di web di bawah. Karena sebelumnya sudah pernah dipublish di JawaPos.com. hatur nuhun

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive