Ninggalin Perasaan Ketika Lagi Nyaman-nyamannya

March 03, 2019

Merenungi kesendirian di kursi taman kota/sifathlist

Nyaman, satu kata yang mampu menghapus jutaan beban yang dihadapi dalam hidup ini. Bukan sekedar kata melainkan ungkapan perasaan yang sulit dipatahkan dengan alasan apapun. Ini memang bukan definisi dari kamus, hanya sekedar ungkapan yang selama ini dirasakan. Apapun definisi yang dianggap alay soal nyaman ini, hanya kamu yang mampu menjleaskan dan paham arti sesungguhnya.

Sedikit cerita ketika aku harus meniggalkan kondisi nyaman karena hal sepele. Entah mengapa saat itu kalimat sepele itu berhasil membuatku bimbang dan emosional. Padahal aku tahu membangun kondisi nyaman tidaklah mudah. Tidak bisa dibangun secara instan, semua perlu waktu, kerendahan hati, juga kesabaran. Ya, apapun itu semua sudah terjadi tidak perlu untuk disesali, mungkin ada keadaan nyaman di lain tempat.

Soal nyaman tempat, aku yakin banyak nyaman-nyaman lainnya yang mampu menghibur hati. Namun untuk teman, belum pasti. Kalaupun ada, rasanya tidak akan sama, karena selama membangun rasa nyaman dari jamannya main petak umpet atau ucing jongkok sampai ngerti namanya untung rugi dalam pekerjaan itu berbeda.

Kondisi saat ini tidak mudah buatku, ketika harus meninggalkan teman di lapangan selama bekerja kurang lebih 1,3 tahun. Hari pertama bekerja sebagai seorang single fighter di lapangan, banyak sekali keluh kesah yang sulit dikendalikan. Namun dengan keyakinan dan kesabaran akhirnya muncul keyakinan untuk memberanikan diri membangun rasa nyaman untuk diri sendiri dan orang lain. Aku kira, cukup berhasil menaklukan sikap cuek dan bodoamatan mereka, sehingga berubah menjadi care. Kamu yang pernah mengalami akan paham semua cerita yang aku curahkan baik secara lisan maupun tulisan ini. Bagi yang tidak pernah merasakan kondisi ini pun tidak ada ruginya untuk mendengar atau membaca keluh kesahnya.
Keriwehan kang foto berburu gambar untuk headline/sifathlist
Selama di bekerja di lapangan satu tahun full, sedikit kesulitan untuk mendapat kondisi nyaman dan akrab dengan teman di lapangan. Ya, bersyukur ada beberapa teman yang mampu membuatku nyaman sejak awal pertemuan. Berawal rasa canggung tak mengenal dan peduli namun berhasil saling terbuka lewat obrolan ngalor ngidul yang dikira tidak penting tapi berhasil membuat nyaman. Obrolan singkat namun karena pertemuan intens ini merubah semuanya.

Dalam tiga bulan terakhir, ketika awal karirku sudah meniatkan diri untuk menaklukan hati semua teman-teman di lapangan ini dirasa berhasil. Orang-orang yang selalu membuatku kesal, kecewa, dimarahi, dan menghujat dengan kalimat tak pantas, perlahan luluh dan menganggapku ada di sekitarnya. Senang sekali, walaupun hanya mendapat senyum sinis untuk pertama kalinya dari mereka. Rasa syukurku berlipat. Mereka yang cuek, hari demi hari menunjukan rasa peduli juga berbagi dalam semua hal.

Rasa peduli inilah yang bisa mengantarkan akan pertemanan. Sungguh luar biasa, terkadang merasa bersalah karena telah menilai mereka dengan tittle yang buruk. Padahal aku sendiri yang belum mampu membuat rasa nyaman untuk diri sendiri maupun orang lain. Kurang bisa sosialisasi adalah kelemahanku disetiap momen. Entah menjadi orang yang supel, friendly atau sedekar mudah berbaur saja sangat sulit. Perasaan takut, minder, malu, dan bodo amat ini yang terus menguasaiku setiap harinya. Setelah kenal, barulah aku memberanikan diri untuk mengeksplor yang dulu ditutup-tutupi.

Ketika semua yang diinginkan terkabul, tapi kamu harus meninggalkannya begitu saja. Hancur sekali perasaan ini, sakit. Ibarat membangun rumah secara berangsur-angsur, dari mengumpulkan krikil, pasir, batu, semen, pekerja, hingga berhasil berdiri sebuah istana tetiba harus dikosongkan. Kecewa pastinya, walaupun aku masih bisa menengok istana tersebut tapi rasanya kan berbeda jika selamanya tinggal di sana. Begitupun dengan teman. Banyak teman, banyak kebaikan, banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang harus disyukuri.

Meninggalkan teman dengan jarak tertentu, bukan hal mudah untuk diterima dan dijalani. Sulit pastinya menginggalkan kebiasaan kebersamaan yang indah dan nyaman untuk waktu yang belum pasti kapan akan berakhir. Satu pintaku, jika memang tidak bisa lagi bersama setidaknya komunikasi dan silaturahim tetap terjaga, karena itulah cara untuk tidak melupakan atau dilupakan dalam cerita hidup kita. Terima kasih, karena cuek hingga pedulimu bisa membuatku enggan meninggalkan semuanya. Nyaman mengubah perasaanku.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...