Jalan-Jalan ke Lampung, Nikmati Aneka Khas nya

April 29, 2019


Spot foto di halaman Museum Lampung/sifathlist

Setelah perjalanan jauh dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera via darat dan laut. Saya akan ceritakan seharian di Bandar Lampung, kira-kira mau ngapain yah? Apa cuma mau nyebarang sama numpang makan minum di sana atau bagaimana? ya pastinya ingin menikmati kesempatan libur yang jarang-jarang ini, dong.

Sebelum ke Lampung atau ke tempat lain, ada baiknya untuk membuat draf destinasi yang akan dikunjungi. Supaya punya arah dan tujuan yang jelas, juga bisa mempersiapkan segala sesuatunya dari rumah.

Kemarin sih rencana ingin mendatangi beberapa destinasi yang hits di Bandar Lampung diantaranya Bukit Sakura, Bukit Teropong Sindy, Pantai, Museum Lampung, dan beberapa yang jadi fenomenal di Kota Lampung. Tapi karena waktu dan cuaca yang kurang mendukung akhirnya sedapatnya aja deh, sedih.

Mampir ke Museum Lampung 


Gerbang Museum Lampung/
sifathlist
Saya sudah menebak sih, pasti museumnya sepi kaya museum pada umumnya. Ya betul sekali tebakannya. ketika tiba di Museum kebanggaan masyarakat Lampung yang terletak tidak jauh dari kampus Universitas Negeri Lampung (UNILA) ini, sudah terlihat sepi. Saya dan saudara memasuki gerbang dengan ikon khas Provinsi Lampung yakni Siger berwarna emas yang besar. Kemudian terlihat jelas tulisan Museum Lampung di atapnya yang begitu kontras berwarna putih.

Replika rumah adat/sifathlist
Di luar Museum terdapat Meriam kuno, replika rumah adat Lampung dan halaman yang cukup luas. Untuk melihat koleksi Museum ini pengunjung dikenai biaya masuk sebesar Rp 4000 per orang, dan kemudian mengisi daftar pengunjung. Hanya terlihat dua petugas di sana, dan mengarahkan pengunjung untuk melihat koleksi dari lantai dasar terlebih dahulu. Jadi Museum ini terdapat dua lantai yang semuanya koleksi.

Saya amati, tidak terlalu banyak koleksi di sini, tapi masih menarik untuk digali sebagai bahan ilmu pengetahuan terkait Lampung dan masyarakatnya. Lantai dasar tidak ada yang menarik bagi saya kemudian saya naik ke lantai dua menggunakan tangga dengan balutan ukiran khas di dindingnya. Saya kurang paham sih itu ukiran apa, yang pasti menceritakan sejarah kali ya, karena di sana tidak ada pemandu museum jadi bingung sih mau tanya ke siapa. Tapi jangan khawatir, di sana ada keterangan per itemnya jadi dibaca saja ya gaes.

Gunung Krakatau saat meletus/sifathlist
Koleksinya di sana juga ada gambar Gunung Krakatau saat meletus yang sangat besar di dinding. Ngeri juga sih lihatnya, karena gambar gunung begitu besar, lahar dan awan tebal (wedus gembel) ini digambarkan begitu detil. Oh ya ini bukan sekedar gambar tapi dibuat seperti miniatur gitu, jadi berasa melihat aslinya. Ada juga macan, beruang, burung, dan hewan lainnya yang diawetkan, miniatur rumah adat lampung, Al quran tertua, adat, seni, alat tradisional Lampung lainnya.

Koleksi adat saat orang
meninggal/sifathlist
Tangga Museum Lampung dengan
ukiran khas di dinding/sifathlist

Soal adat ini begitu menarik bagi saya, walaupun sedikit merinding sih di lantai dua tuh, karena suasananya sepi (anyep) dan tidak ada petugas, ditambah lagi ada koleksi adat bagaimana masyarakat setempat mengurus orang meninggal di barengi dengan miniaturnya. Seremkan, dan emang udah kaya liat orang meninggal aja, tuh replika mayat ditutup seluruh tubuhnya menggunakan kain khas di sana. Ada juga kain kafannya dong. Serem deh.

Koleksi adat resepsi
pernikahan/sifathlist
Koleksi adat bayi
yang baru lahir/sifathlist

Selain itu, ada juga perayaan atau adat menyambut bayi yang baru lahir. Ada bayi-bayiannnya juga lho wajah gemesin. Hingga ada koleksi resepsi pernikahan yang begitu kental dengan adat setempat.

Oh ya selain seram, dan tidak ada pemandu museum, bangunan juga sudah begitu tua dan perlu diperhatikan. Bebebapa sudut plapon museum sudah ada yang rusak, koleksi terlihat berdebu, jadi sayang saja, tempat yang bisa untuk menimba ilmu pengetahuan ini terabaikan begitu saja. Masukannya mungkin lebih diperhatikan, agar museum tetap jaya dan masyarakat terkhusus para siswa mau mengunjungi museum.

Taman Gajah
Taman Gajah ini, sama saja dengan taman-taman lainnya. Terlihat sekali taman  ini baru dibangun dan bahkan masih proses penyelesaian. Saya ke sini malam hari, ya tidak ada yang special hanya masyarakat dan penjual di sana. Fasilitas standar ada tempat bermain, tempat olahraga, mushola, dan tempat duduk a la taman modern gitu lah. Di depan ada patung gajah yang dipagar, kemudian foto Gubernur dari zaman ke zaman.

Kalau saya lihat ini, taman kaya Alun-Alun Cicendo Kota Bandung dari penataannya. Tapi ya nikmati saja malam di Bandar Lampung. Oh ya, saat mampir ke sana, ada siswa-siswa SMP sekitar 15 orang sedang berlatih musik lengkap dengan alatnnya.

Saya amati ini taman bukan sekedar untuk bersantai atau berolahraga tapi juga sebagai tempat untuk berlatih music atau pagelaran lainnya. Karena mereka (para siswa) berkumpul di tengah di mana di sana ada seperti tempat untuk perform. Jadi bentuknya teras melingkar terdapat panggung yang dibuat dari semen dan juga teras berundak untuk para penonton.

Lampung Walk


Spot foto Lampung Walk/
sifathlist
Karena gagal ke Bukit Teropong atau Bukit Sindy Lampung, karena hujan lebat dan angin, malam itu saya dan saudara mencari alternatif untuk sekedar nongkrong. Ya sedih juga sih karena tidak bisa menikmati malam di atas bukit. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Alternatif mencari tongkrongan malam yang terdekat. Dipilhlah Lampung Walk.

Dalam bayangan saya, Lampung Walk ini akan seperti Forest Walk atau Skywalk Cihampelas Bandung. Tapi ternyata ketika tiba, hanya bangunan modern yang isinya tempat makan a la a la perhedonan gitu dengan hiasan lampu-lampu malam yang cukup menarik. Oke baiklah akhirnya kita hanya makan.

Sebelum meninggalkan Lampung Walk kita berfoto dulu, ya lumayan bisa buat story di Instagram lah ya. Naiklah ke lantai dua dan di sana ada spot untuk berfoto dengan background Lampung Walk yang berbentuk hati (love) dengan hiasan bunga dan lampu. Sebenarnya ada tempat foto 3 Dimensinya juga sih di sana. Kalau enggak salah denger bayar Rp 35000 per orang, cuma kita enggak masuk dan memilih pulang ke rumah.

Lampu malam di Lampung
Walk/sifathlist
Yang saya suka dengan Lampung, yakni semua bangunan baik gedung pemerintahan, swasta, pasar, toko besar kecil, dan banyak lainnya selalu menampilkan ikon Lampung. Jadi sepanjang jalan dan dimana pun nongkrong ngemper cantik siger emas ini selalu terpampang di sana. Jadi khas banget dan salut deh sama masyarakat sana.

Kalau di beberapa wilayah, ikon daerahnya cuma dipajang di gedung pemerintahan atau gapura, kan ya? Jadi patut dicontoh deh, biar kita atau wisatawan tuh tau. Oh ini toh ikon atau lambang dari wilayah ini tuh. Gitu.

Karena tidak ada destinasi lain yang dikunjungi, maka saya akan jadwalkan untuk datang ke sana lagi. Harus dong, kan wisata hits nya belum dikunjungi. Hahaha.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...