Kau Bebas Pilih Jalan Hidupmu, Pegang Erat Pesan Orang Tua

April 15, 2019

Seorang sedang menikmati perjalanan pulang di atas kapal feri/sifathlist
Di umur yang sudah kepala dua ini, saya baru paham dan terdasar. Ternyata kala itu, kedua orang tua terutama Ibu selalu menyisipkan pesan dan nasehat ketika bersama. Baik dalam obrolan serius, santai, ataupun sekedar becanda. Ya dalam pesan itu begitu tipis bahkan sering kali terabaikan begitu saja. Namun entah bagaimana pesan itu selalu datang di pikiran dan menancap di hati bahwa saya pun pernah dengar nasehat itu dari kedua orang tuaku pada zamannya.

Ini saya tidak paham, bagaimana hati ini begitu terenyuh dan sesak karena sebuah penyesalan tidak patuh dan mengabaikai nasehat itu. Saya selalu berpikir dan memaklumi ketika umurku saat itu masih bocah belum mengerti akan makna dan pesan yang akan menjadi bekal kita di kemudian hari. Namun saat ini, saya sudah beranjak dewasa, kata maklum ini harus dihilangkan karena sudah waktunya kamu merealisasikan pesan atau nasehat tersebut.

Suasana di dalam kereta
api/sifathlist
Sejak kecil, saya tidak pernah dilarang untuk pergi ke mana pun. Kedua orang tua ku tidak pernah melarang untuk bergabung dan berkegiatan di luar rumah. Karena saya pikir orang tua ku begitu mengerti dan tengah memberi bekal untuk anak-anaknya kelak tumbuh dewasa dan menjadi orang tua sepertinya. Sejak sekolah dasar saya selalu ikut kegiatan di luar sekolah, bermain hinggi ujung kampong pun tidak masalah. Hanya saja setiap perjalanan itu selalu disisipkan suatu nasehat dan diingatkan untuk selalu berhati-hati, jaga diri, saling membantu, dan tidak membuat orang lain marah. Kalimatnya memang berbeda tapi saat ini saya simpulkan untuk tetap menanam kebaikan kepada orang lain.

Kemudian pada sekolah mengenah pertama, saya selalu ikut kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Saya memilih kegiatan yang selalu berkaitan dengan alam. Karena saya suka perjalanan, petualangan, dan tantangan. Saat itu, banyak ssekali kegiatan di luar sekolah berkemah salah satu kegiatan favorit saya. Walaupun saya sering jadi kacung atau orang yang dibutuhkan ketika tidak ada orang lagi selain saya, tapi saya tidak marah atau benci justru saya belajr dari mereka yang hebat agar saya bisa menyalin kebiakan dan kehebatan teman-teman yang lain.

Duduk di bangku sekolah menengah atas, saya lebih percaya diri karena memiliki bekal pengalaman dan pengetahuan dari teman-teman di organisasi. Walaupun sedikit, namun cukup menghidupkan rasa percaya diri saya untuk terus berkembang. Di SMA, level kegiatan meningkat bukan hanya sekedar di luar sekolah namun juga ke luar daerah. Saya betul-betul bersyukur dengan modal percaya diri, kemampuan, dan relasi, saya mampu ikut serta dalam tim inti. Ini adalah sebagai pencapaian terbesar saya untuk pertama kalinya. Karena ketika banyak teman yang hebat-hebat dengan kemampuan skill dan pengetahuan yang luar biasa saya mampu berdampingan dengannya. Bukan lagi sebagai kacung atau tukang untuk disuruh-suruh tapi setara dengan mereka. Diajak diskusi, menghargai pendapat saya, pada intinya saya di sini menemukan hal baru yang tidak pernah saya dapat di sekolah dasar dan sekolah menegah pertama. Bahkan saya mulai dipercaya oleh teman-teman di sana untuk menjalankan amanah dari level rendah hingga level tertinggi. Saya saya harus bangga karena saya berkembang itu saja.

Penumpang kereta api asyik
memainkan ponselnya dengan
pemandangan yang indah/sifathlist
Setalah lulus, saya memutuskan untuk merantau mencari ilmu di kota orang. Tidak mudah saat itu, walaupun akhirnya saya diizinkan untuk merantau ada sedikit pertentangan. Di mana saya tidak boleh merantau jauh dari rumah. Kala itu, saya mendaftarkan diri di salah satu PTN di Jawa Tengah, Yogjakarta, dan Jawa Timur. Namun ternyata saya tidak mendapat izin. Bahkan, ketika saya tetap daftar di sana melalui beberapa jalur dari pemerintah hasilnya nihil. Kenapa? Mungkin memang saya tidak pintar sehingga di tolak kedua karena tidak dapat restu dari Ibu saya yang saat itu menolak saya untuk merantau di luar Jawa Barat. Dalam obrolan ketika saya tiga kali gagal mendaftarkan diri di PTN akhirnya terungkap, Ibu saya mendoakan saya untuk tidak merantau jauhnya. 

Saya begitu kesal dan marah, kenapa berdoa seperti itu, apa tidak mau anaknya sukses? Pada akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri secara mandiri di PTS di Bandung. Iya masih Jabar kan, jadi diizinkan dan akhirnya saya mengemban ilmu di sana selama empat tahun.

Selama empat tahun merantau, saya sering mengeluh A B C karena jauh dari orang tua. Mengurus diri sendiri dan jauh dari orang tua ternyata sangat menyedihkan. Selalu homesick.
Tapi keluhan itu menyadarkan saya, kenapa dulu Ibu melarang saya, jauh darinya. Iya karena seorang anak selalu membutuhkan seorang Ibu, Ayah, dan keluarga untuk menjalani hidupnya.

Padahal Jarak Bandung dan rumahku hanya ditempuh waktu 3-4 jam dengan perjalanan darat (umum) tapi selalu kangen dan ingin pulang. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang satu atau dua bulan sekali. Nah lho bagaimana kalau dulu saya merantau ke provinsi sebelah yang jarak tempuhnya bisa 12 atau satu hari, dan pastinya sudah diprediksi bisa pulang kampung di setiap akhir semester atau lbur panjang.

Maka saya bersyukur dan teringat, ternyata apa yang diucapkan dan dikhawatirkan orang tua memang dirasakan. Sehingga kamu harus tetap patuh selama itu baik. selalu meminta izin ketika hendak bepergian atau melaksanakan kegiatan dan diakhiri dengan bercerita apa saja yang telah dilakukan saat itu. Entah saya lupa sejak kapan saya dilatih seperti ini, karena seingat saya, sejak SMA sudah memberanikan diri untuk bercerita apa saja kegiatan yang telah dilakukan. Itu menjadi modal seornag anak unttuk selalu dekat dan terpantau oleh orang tua. Yang akhirnya mendapat kepercayaan dari orang tua dan saya harus menjaga kepercayaan itu.

Ada beberapa teman saya yang bercerita, seolah-olah orang tuanya tidak sayang dan sedikit iri kepadaku karena selalu diberi izin oleh orang tua. Kemana pun, kegiatan apapun. Mereka selalu membandingkan dan menyudutkan saya terkait kemudahan mendapat izin dari orang tua. “iya kamu mah enak orang tuanya selalu ngasih izin, lah kita” itulah kalimat yang sering saya dengar ketika saya berusaha untuk mencari solusi agar dipercaya oleh orang tua.

Memang sulit ketika memberi solusi tapi yang meminta tidak mau mendengrakan. Karena mereka masih menanamkan rasa iri di hatinya, sehingga sebaik apapun solusi yang diberikan akan nonsence. Pada intinya kenapa saya diberikan kepercayaan oleh orang tua karena saya sudah lebih dulu membangun kepercayaan sejak dini. Jadi prosesnya tetap sama harus dimulai dari level yang terendah. Itu pun kalau mau, kalau enggak ya sudah. Bonus sebelum memulai proses membangun kepercayaan, orang tua saya memang sudah melatih saya untuk bisa dipercaya. Itulah yang membentuk kemandirian.

Penumpang menunggu kedatangan
kereta api di Stasiun/sifathlist
Seletah lulus kuliah, saya pun berusaha untuk merantau lebih jauh bahkan saya pernah ‘nyeletuk’ ingin ke luar pulau tapi ya tidak diizinkan lagi. Karena saya sudah tau, sekeras apapun maksa ke sana tidak akan mulus jika tidak ada restu dari orang tua. Akhirnya kembali berjodoh dengan Kota Kembang ini untuk mencari sesuap nasi dan sebuah bangunan rumah.

Setalah bekerja 1,4 tahun di Bandung, saya memutuskan untuk resign dari kantor saya bekerja. Kemudian saya pulang ke rumah untuk berkonsultasi soal langkah ke depannya. Saya memang berniat untuk kuliah S2 dan les Bahasa. Saya meminta izin untuk mengemban ilmu di Jawa Timur. Malam itu, saya ditanya oleh Ayah saya apa yang akan dilakukan setalah resign bahkan sudah menyinggung untuk segera menikah (ini sering sih).

Tapi saya memutuskan untuk sekolah kembali dan Alhamdulillah diberi izin untuk pergi ke Jawa Timur. Kemudian, beberapa hari kemudia saya meminta izin kepada Ibu saya dan ternyata sudah tahu dan menolak secara halus.

“Cari aja sih yang dekat, Jatim itu jauh. Ibu sudah tua”

Dengan kalimat ini saya tidak punya pilihan lain atau alasan untuk memaksa diri untuk pergi ke Jawa Timur. Hati saya begitu sakit, bukan karena penolakan tapi saya tidak sadar kalau orang tua mu sudah tua. Saya masih seperti anak SD yang selalu merengek ingin ini, itu, ke sana, ke mari yang harus dituruti. Saya tidak marah hanya hati ini sangat sakit.

“Harusnya kamu paham kenapa kamu dilarang pergi jauh” Tapi karena kamu terus memaksakan diri akhirnya Ibu yang mengingatkan soal umur.

Saya langsung ingat perjalanan saya sejka kecil yang tidak pernah ditentang atau dilarang-larang layaknyanya orang tua teman-teman saya. Iya karena saat itu saya memang harus mencari ilmu, pengetahuan, pengalaman, teman, relasi, apapun semuanya harus kamu tahu untuk bekal dewasa.

Tapi kali ini saya sudah dewasa dan orang tua sudah tua, maka inilah waktu yang tepat untuk bersama dan memanfaatkan waktu bersama keluarga. “Seharusnya kamu sudah cukup untuk mengejar apa yang kamu inginkan di dunia ini. kini saatnya untuk membahagiakan kedua orang ua dan keluarga. Tidak dengan uang atau harta berlimpah, tapi dengan perhatian dan hidup berdampingan itu sudah sangat cukup untuk orang tua.

Ini memang tidak terucap dalam lisannya, tapi saya sadar itulah rencana orang tuamu agar ketika mereka sudah tua maka anak-anaknya yang sudah remaja atau dewasa bisa membahagiakan dan meluangkan waktu untuk bersama di rumah.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...