Kok Milenial Enggak Mau jadi Petani Sih?

April 09, 2019

Beberapa waktu lalu hingga saat ini, tetiba saya terpikirkan soal anak muda atau milenial atau generasi Z enggan memilih pekerjaan sebagai Petani atau sekedar menjadi buruh tani. Ini bukan penolakan yang baru terdengar tapi sudah lumayan lama.

Petani sedang memanen padi/sifathlist
Nah kemarin sore, kakak saya ngabrin bahwa perusahaan yang sedang sedang dia tempati sebagai lading mencari rezeki sesuap nasi dan sebuah bangunan rumah ini diprediksi akan gulung tiker alias bangkut. Si kakak ini sudah karyawan tetap secara dia udah kerja belasan tahun di sana. Jadi dia dan buruh lainnya diiming-imingi duit pesangon yang cukup gede dengan syarat harus megundurkan diri dari pekerjaanya itu.

Galau lah si kakakku ini, antara pilih duit balokan yang dibayar kontan tapi jadi pengangguran atau dapat duit receh tapi setiap bulannya tetap dapat duit, dan pastinya sebagai pekerja. Ditambah lagi, katanya kalau karyawan yang mengundurkan diri tahun ini akan dapat pesangon itu tapi kalau tahun depan tidak dapat. Waduhhhh, ini sih bukan galau level ecek-ecek kalau udah ada ancaman begitu.

Keindahan sun rise di sawah/sifathlist
Kalau dipikir dengan akal yang sehat dan jenih, pastinya tidak akan tergoyahkan atau galau tingkat dewa sih. Karena kalau perusahaan melakukan PHK tanpa membayar pekerja, siap-siap dah tuh perusahaan dikepung sama buruh.
Oh ya, pembahasan kali ini bukan soal perusahaan yang bakal collapse ya. Tapi saya akan ngomongin (iya kalau pakai Bahasa membahas saya bukan ahlinya) terkait anak muda atau gaulnya disebut  milenial menolak untuk bertani atau bercocok tanam. Kenapa ya? Atau jangan-jangan kalian juga termasuk orang yang menolak untuk jadi petani/tani/buruh tani? Kalau saya sih, iya menolak karena saya lebih tertarik ke dunia tulis-menulis (walaupun baru sekedar belajar).

Petani sedang mengeringkan padi/sifathlist
Saya pernah mendapat sentilan dari orang soal profesi atau pekerjaan yang diminati oleh generasi muda atau milenial. Ya pastinya mengejar hidup intans, dapat kerjaan ke-AC-an, depan laptop, sallary gede, tunjungan menjanjikan, hidup mewah, biar dilirik calon mertua hahahah. Siapa yang begitu hayo ngaku?

Semua orang pastinya punya impi seperti itu, hidup enak, nyaman, tidak kekurangan, bahagia, sejahtera, dan selamat dunia akhirat. tapi tidak semua orang bisa berjalan mulus dalam mencapai itu semua, yang peralu diingat tetap bersyukur dan berbagi ya kawan.

Banyak alasan kenapa anak muda enggan menjadi petani, padahal pekerjaan ini dan hasilnya akan selalu dibutuhkan oleh semua orang di muka bumi ini. ya secara kita butuh makan dan bahan baku lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup ini.
Coba renungkan, apa sebuah perusahaan akan tetap jaya? Pasti ada pasang surutnya kan. Tapi saya mamu minta maaf dulu deh ke semua pengusaha yang punya karyawan, bukan bermaksud untuk merendahkan atau gimana-gimana ya, justru saya juga mendukung dengan banyaknya pengusaha maka angka kemiskinan di rumah kita ini bisa dipangkas dengan lapangan kerja. Jadi ini hanya untuk membuka pikiran generasi muda bahwa enggak ada salahnya kok bertani atau berccocok tanam dibanding harus menjadi bagian beban negara karena tidak punya pekerjaan dan keahlian.

So kalau ada yang bilang alasan enggan jadi petani karena bukan bidang atau skill saya, jadi ogah pilih itu. eitsss semua dimulai dari nol ya. Kamu masih bisa belajar step by step siapa tahu kalau kamu cerdas dan melihat peluang dengan baik, kamu bisa merubah keadaan dari seorang buruh menjadi pemilik hektaran sawah atau kebun yang kaya raya (enggak apa-apa punya pikiran gitu, siapa tahu jadi kenyataan kan). Terus dapat bonus kamu bisa buka lapangan kerja seluas-luasnya, dan punya karyawan yang banyak.

Alasan lainnya, karena takut sama cacing atau takut kotor. Iuhhhh, lihat tanah liat bercampur air enggak banget deh, panas-panasan nanti kulit jadi gosong atau iritasi kena lumpur. No no no, saya menolak. Ya udah deh enggak maksa, coba cari juga efek delapan jam dikali kamu lamanya kamu bekerja di dalam ruangan AC atau duduk selama itu, hmmm kalau saya sih pernah seharian di ruang ber-AC ehh malah masuk angin hahaha (dasar nak lapangan).

ada juga yang berpendapat, karena anak-anak sekarang selalu diajarkan atau pola pola pikirnya selalu modern. Jadi mikirnya kalau bertani udah deh orang-orang tua aja, kita bagian modernnya. Nah kalau semua orang tua udah pada mendahului, siapa yang ngurus sawah, kebun, nanti kita makan apa dong. Makan kuota internet? Enggak mungkin kan. Jadi minimal anak dikenalkan soal bercocok tanam dan manfaatnya. Ya kalau enggan kamu di sawah atau ladang, bisa lah di halaman rumah tanam cabai, bawang, seledri, atau kalau mau tanam padi di pot.

Alasan ekstream lainnya, katanya para calon mertua selalu memberi syarat kepada calon menantunya yang sangat modern dan mewah. “orang tua sekarang mau menikahkan anaknya itu dengan orang yang punya penghasilan tetap, mapan, punya jabatan, dan kemewahan yang membuat bahagia” ya iyalah semua orang tua juga maunya begitu kali, enggak mau anaknya hidup susah. Tapi kalau ada yang berpikiran kalau punya calon mantu seorang petani in enggak akan mungkin bisa membahgiaan dan tidak punya masa depan, salah besar. Wah ini sih diskriminasi profesi, enggak boleh lah pak bu calon mertua. Semua profesi punya masanya kok, tapi petani ini selalu punya massanya karena hasilnya akan selalu dicari termasuk bapak ibu calon mertua makan.

“Petani ini akan selalu dibutuhkan oleh manusia karena hasilnya yang bisa membuat manusia bisa melangsungkan hidup. Soal mewah atau sederhana, kebahagiaan itu bisa diciptakan dengan bersyukur”

Coba apa alasan kamu enggak mau jadi petani? Bisa ditulis di kolom komentar 😀😄

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive