Terpukul Tapi Harus Memilih, Keduanya Kebahagiaan

April 28, 2019

ilustrasi/sifathlist


 Pagi tadi saya melihat beberapa postingan teman sekolah yang tengah dihadapi sebuah pilihan yang cukup sulit. Di mana dia kerja di perusahaan swasta, baru empat bulan. Dia baru nikah beberapa bulan dan sekarang tengah hamil muda. Padahal dalam story Instagramnya dijelaskan bahwa dia dan perusahaan tempat dia bekerja, memiliki perjanjian tidak tertulis yang intinya untuk menunda kehamilan selama dua tahun. Tapi kini dia tengah hamil dan berusaha untuk menutupi kehamilannya. Namun beberapa hari dia kelelahan dan ada masalah pada kandungannya itu yang akhirnya dia diopname selama berhari-hari.

Secara otomatis, perlahan orang-orang kantor tahu soal kehamilannya yang akhirnya membuat dia galau tingkat dewa. Dia bersikeras untuk mempertahankan pekerjaanya karena satu niatan yang sangat luar biasa. Yakni ingin memberangkatkan umroh mamahnya dengan uang hasil kerja kerasnya. Entah saya melihat dari postingannya begitu terpukul dan berat antara memilih dari dua hal yang membahagiakan itu.

seorang lanjut usia sedang menenun/sifathlist
Dalam postingan itu, dia menyebutkan bahwa dokter kandungannya membeikan sebuah pilihan yang harus dia pilih yaitu ANAK atau PEKERJAAN? Semakin terpukul karena uang tabungannya belum mencukupi untuk memberangkatkan mamahnya umrah. Tapi anak adalah sebuah karunia, amanah dar-Nya yang harus dijaga.

Dalam postingan terakhirnya, dia memilih untuk menjaga anak dibanding pekerjaannya. “Rezeki (uang) bisa dicari dan datang dari mana saja dengan usaha kita. Tapi Rezeki anak datang dari Allah” begiulah kira-kira kutipannya. Lalu bagaimana dengan niat baik memberangkatkan mamahnya ke tanah suci? Rezeki tidak disangka-sangka (entah bagaimana) akhirnya uang tabungannya mencukupi dan tahun ini mamahnya akan berangkat untuk ibadah umroh.

Sebelumnya saya minta maaf pada dia, karena saya tidak meminta izin menulis cerita soal pengorbanan dia antara memilih anak dan pekerjaan. Namun saya menilai ini kisah yang cukup keren dan sangat inspiratif. Tidak sedikit orang-orang bahkan teman saya yang dihaspi hal seperti ini, sehingga (semoga) dengan ditulis ulang akan banyak lagi orang-orang yang termotivasi dan tersadarkan dengan hal ini. Terima kasih, sudah berbagi cerita.

Apresiasi yang berujung Curhat

Bagi saya ini patut diapresiasi, saya termotivasi untuk bisa lebih bersabar, memikirkan betul-betul segala jalan yang akan ditempuh, terlebih ketika ingin membahagiakan kedua orang tua yang telah membesarkan kita sampai hari ini. Saya pun memiliki cita-cita yang sama, ingin memberangkatkan kedua orang tua saya ke tanah suci dengan hasil kerja keras saya. Ya saat ini jauh dari kata cukup untuk membiayai itu. Terlebih kini saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah memberi kenyamanan dalam hidup saya dan bisa sedikitnya membantu keuangan orang tua setiap bulannya. Saya pun terus menyisihakan sebagian besar uang untuk ditabung.

para wartawan sedang melakukan doorstop/sifathlist
Tahun lalu ketika para saudara, tetangga, dan lainnya berangkat umroh dan haji. Orang tua saya diizinkan untuk mengantar mereka. Dengan suka cita menaiki bus dan mengantar mereka tapi saya yakin bahwa pada hati kecil orang tua saya ada rasa ingin juga menunaikan ibadah umroh dan haji. Tapi ketika saya tanya ‘apakah ingin ke Mekkah?’ mereka hanya jawab kamu saja dulu, emak dan abah belakangan.

Saya menyimpulkan jawaban itu, bahwa memang ada keinginan, hanya belum ada rezeki untuk bisa ke tanah suci. Karena mereka berpikir ketika mengatakan iya maka akan merasa membebani anak-anaknya yang yang akan memberangkatkan haji. Ya tabungan saya tidak cukup, yang akhirnya saya memberikan alternatif dengan membeli hewan kurban untuk dikurbankan pada saat idul adha. Saat itu saya hanya mampu membeli satu ekor domba.

Kemudian saya menyerahkan domba itu kepada orang tua saya, “terserah mau siapa duluan yang kurban tahun ini, Emak atau Abah” tapi jawabannya tidak terduga mereka menyerahkan hewan kurban itu kepadaku dan mengatakan “kurban saja duluan, kita bisa tahun depan” yang akhirnya saya duluan yang kurban. Dalam hati, tahun depan saya harus membeli hewan kurban untuk kedua orang tua saya.

Namun nasib berkata lain, tahun ini saya mengundurkan diri dari pekerjaan dan belum bekerja dengan gaji per bulan. Saya hanya bisa mendapatkan recehan rupiah saat ini yang tidak bisa dipastikan besarannya. Tapi setelah melihat postingan teman saya yang sudah diceritakan di atas, saya mampu. Karena rezeki-Nya selalu datang dengan cara apapun dan dari mana pun. Insya Allah tahun ini, orang tua saya bisa kurban dan tahun berikutnya bisa ke tahan suci. Insya Allah.

Syukuri apa yang telah kamu dapat hari ini.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...