Tarawih Pertama, Semua Kenangan Masa Kecilmu Terulang

May 05, 2019

ilustrasi Ramadhan/sifathlist


Marhaban Ya Ramadhan 1440 H
Wah Alhamdulillah kembali bertemu dengan bulan penuh ampunan dan keberkahan ini. Semua umat muslim di seluruh dunia, menyambut dengan sangat bahagia. Karena kita semua bisa melakukan ibadah puasa wajib selama satu bulan penuh kemudian akan diakhiri dengan hari kemenangan yakni Idul fitri.

Ramadhan atau bulan puasa, akan banyak kegiatan positif yang tidak ditemukan selain di bulan ini. Salah satunya salat Tarawih. Tidak asing kan, dengan Tarawih ini. Kamu tim 11 rakaat atau 23 rakaat nih? iya tim mana pun semua benar dan kamu jangan sampai absen yah (kecuali bagi wanita yang sedang haid atau yang sedang sakit). Tarawih ini memang salat sunah, tapi akan mendapat ganjaran seperti salat wajib. Jadi jangan disiasiakan ya.

Tarawih pertama saya tahun ini di kampung halaman, dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Musala Baitussalam, adalah tempat kami beribadah menjalankan salat tarawih. Saya yakin di suluruh musala atau masjid di hari tarawih pertama shaf full dan meluber. Ya semoga akan tetap seperti itu hingga akhir Ramadhan. Aamiin.

Ketika Ramadhan tiba, begitu banyak kenangan masa kecil yang muncul tiba-tiba. Ibarat kita sedang menyaksiakan kelakuan nakal, kekonyolan, kejahilan kita saat itu. Hal itu begitu sangat mendamaikan, siapapun anak kecil yang tengah melakukan kenakalan tetiba otak berimajinasi bahwa yang melakukan kenakalan itu adalah teman (kecil) kita, yang entah sekarang di mana. Wah sedih sih kalau membandingkan kebersamaan saat kecil dan sekarang, sangat beda. Dulu kita saling ejek, saling jail, saling menyalahkan, saling bantu. Tapi hari ini, posisi mereka di mana saja tidak tahu.

Malam tadi, Musala Baitussalam full dan meluber ke halaman tetangga. Jamaah dari usia dini, remaja, dewasa hingga lanjut usia bersatu dalam satu komando sang imam. Imam, tahun ini pun tidak berubah, masih sama seperti belasan tahun lalu. Kenapa saya sebut belasan bukan puluhan? Karena terhitung ketika saya mulai mengaji belajar huruf hijaiyah di sana. Kita adalah tim 23 rakaat dengan kekuatan dan kecepatan bacaan yang super. Ya begitu cepat.

Diawali dengan salat fardhu Isya, kemudian bacaan  bilal yang mana selalu diawali oleh Abah (ayah) saya setiap tahunnya dengan suaranya yang melengking dan kadang bikin kaget sekampung dan salat tarawih di mulai. Saat itu saya berada di shaf di halaman mushala bergabung dengan anak laki-laki (ikhwan depan, akhwat belakang) sehingga saya paham betul ketika perlahan saya mengamati kelakukan mereka, sama seperti kita (angkatan saya) dulu. Pasti kamu masih ingat ketika menghitung jumlah rakaat salat tarawih. “eh ini rakaat berapa? Ehh ini salatnya berapa lagi?” yang paling keren saat itu adalah teman saya, yang rajin membuat penghitungan di tembok mushola dengan pencil yang dibawanya. Itu kegiatan rutin lho, hahaha.


ilustrasi/sifathlist
Bedanya Anak laki-laki dengan Perempuan

Perempuan biasanya bisa main cantik alias bisa ngibulin para jamaah dewasa. Iya pasti namanya anak-anak jiwa nakal, konyol, ingin bermainnya selalu ada. Jadi saat itu, saya dan geng ( yang kini entah mereka di mana), rajin salat tarawih dan mencari tempat terjauh dari jangkauan Ibu Ibu. Terus salatnya diseling gitu, satu niat salat ikut salat kemudian duduk, salat lagi duduk lagi sampai akhir. Terus enggak berisik, walaupun kita full ngobrol selama tarawih karena bisik bisik. Salat pun kadang saling senggol ketika sujud, dan lebih nakalnya lagi kita salat udah kaya piknik, ya bawa jajanan begitu banyak. Ada lotek asem atau lotek kangkung, kerupuk sambel, gorengan, es sisri, dan lainnya.

Sedangkan tim laki-laki ini, yang selalu jadi biang masalah dan bikin semua orang tua marah-marah. Gimana enggak marah, orang lagi khusuk khusuknya mereka main-main, saling jenggung, saling pukul, saling injek sejadah, ngobrol keras keras, ketawa, jailin temen di shaf depan, lari-lari dan masih banyak lainnya deh. Jadi pasti mereka setiap kali tarawih kena semprot dan tau enggak nama orang tua anaknya pun ikut disebut-sebut, hahaha.

Walaupun kami (angkatan dulu) sering diomelin, dibentak, diusir dari musala, kadang dicubit, tapi kita enggak kapok. Jadi ibadahnya konsisten terus dikerjakan dan nakalnya berdampingan. Tapi semua harus tahu, mereka yang dulunya nakal nakal ini aka nada masanya menjadi anak yang soleh, baik, dan menjadi contoh di masyarakat. Hebat. Iya teman-temanku banyak yang gitu (hayo siapa yan dulu nakal sekarang jadi anak baik dan panutan) saya rindu kalian lho, wkwkwkwk ini mah beneran bukan mengada-ngada.

Berburu Tanda Tangan Ustad atau Iman Tarawih

Selepas salat dan doa, anak-anak langsung mukul bedug dengan penuh semangat dan suka cita. Yang skillnya bagus dalam memukul pasti akan selalu dicari, kalau yang masih di bawah level biasanya mereka jadi tukang kecrek (mukul drum bedug secara beramai-ramai. Kemudian ketika smeua orang sudah selesai bersalaman, anak-anak sekolah yang mendapatkan buku Ramadhan akan berlari berebut tanda tangan iman salat. Ini asyik lho, karena bisa saat itu bisa sambil lirik-lirik anak cewek atau cowok hahaha.

Nah, tim pemburu tanda tangan pun ada tiga versi yakni si rajin yang selalu antre dengan tertib, si licik yang suka ngantre dua kali biar dapat tanda tangan dua dalam satu hari, dan si malas yang sukanya nitip tanda tangan padahal dia enggak salat tarawih. Kalau saya pernah berada di ketiganya, rajin, licik, dan malas.

Lomba Tadarus Al Quran dan Rebutan Mic Musala

Kalau di kampung saya, setelah salat Tarawih, pulang ke rumah terus langsung ke musala lagi untuk tadarus atau mengaji al quran menggunakan mic (microfon) yang terdengar sekampung bahkan ke tetangga kampung. Alhamdulillah semua percaya diri sampai berebut mic. Siapa cepat dia dapat, tapi semua bergilir. Kita mengaji selepas tarawih hingga menjelang makan sahur.

Setelah kebagian ngaji menggunakan mic langsung pindah ke pojokan buat ngelanjuti satu lembar lagi kemudian sisanya ngobrol hingga malam bahkan sampai aa orang tua yang menjemput dan menyuruh pulang dengan dalih nanti kesiangan sahurnya. Tapi kalau saya enggak  pernah dicari sih atau Abah sampe nyuruh pulang, bahwkan kita pernah nyaris sampai sahur di musala, sambil nahan kantuk dan kadang duduk sambil merem.

Ngobrog atau Ngebangunin Warga Buat Makan Sahur

Ini sih tim laki-laki ya, karena kalau cewek enggak ada yang ikut. Mungkin karena terlalu malam dan pasti enggak dapat izin buat ikut ngobrog. Bagi saya ngobrog ini suatu seni yang hanya ada saat Ramadhan. Bedug yang dipukul dan diiringi kecrek dan lagu membangunkan warga “sahur sahur dug dug dug” sanagt ditunggu-tunggu. Selain untuk membangunkan juga sebagai hiburan anak-anak yang tengah semangat bangun untuk makan sahur. Jadi saya sering buka gorden atau keluar buat lihat mereka ngobrog.

Kalau sekarang, begitu banyak perbedaan sebetulnya. Mulai dari aturan dari kampung yang menyebutkan tadarus menggunakan mic hanya samapai pukul 00.00 WIB. Bahkan dua tahun lalu ketika saya masih aktif tadarus hanya kuat sampai pukul 23.00 WIB setelah itu musala sepi dan sudah gelap. Kemudian dengar-dengar tidak boleh ngobrog menggunakan bedug. Entah apa alasannya mereka melarang, padahal itu adalah satu seni yang hanya hadir saat Ramadhan saja. Jadi mereka yang hendak ngobrog harus menggunakan alat kesenian lain seperti gitar, ukulele, gendang buatan, alat rebana dan lainnya.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...