Menikah

June 17, 2019

Menikah/sifathlist

Menikah. Satu kata ini sakral, sehingga tidak harus banyak dijelaskan definisinya. Bagi mereka yang sudah berpengalaman melakukan, pasti sudah sangat paham. Banyak definisi dan aneka perspektif untuk satu kata ini, ya terserah apa orang mengartikannya. Bagi saya menikah itu, merupakan awal untuk menyatukan perbedaan yakni antara pria dan wanita, keluarga A dan keluarga B, juga soal kebiasaan.

Saya tidak cukup ahli dalam mengartikan kata Menikah, you know lah. Saya belum pernah menikah. Hanya saja saya cukup sering terlibat dalam acara pernikahan. Ya betul, saya sebagai salah satu tamu undangan.

Dalam beberapa kesempatan, saya berhasil menabung sudut pandang daripada teman-teman soal menikah. Dari cara dia menemukan sosok yang mendebarkan jantung yang kemudian memberanikan diri menghadap sang wali untuk dipinangnya. Dia yang berhasil membuatnya nyaman, klop, kesemsem, klepek-klepek kalau dekat dengannya, chating sambil senyum-senyum sendiri. Tapi saya menampung bukan sedekedar cintanya saja, melainkan soal kebiasaan hingga modal nikah.

Modal nikah. Kami yang belum nikah, pasti kepikiran deh. Berapa rupiah yang harus dikeluarkan agar terlaksananya pesta pernikahan. Saya sering bertanya, setelah melihat dekorasi dan make up pengantinnya. “ada bocoran nggak, ini berapa puluh juta?” “ini sepaket berapa ratus juta?” Ratus jutak? Weh, nikah mahal banget sih. Harus nabung berapa tahun ini.

Pesta pernikahan yang menarik dan bikin nyaman tamu sekaligus mewah, siapa sih yang nggak mau. Cuma mau ngingetin aja, kalau pesta mewah bukan termasuk yang diwajibkan ya. Jadi kamu (termasuk saya) kalau nanti menikah sesuai budget aja. Lagian kalau kalau nggak pakai pesta kalian masih bisa sah kok, dengan catatan syarat dan ketentuan dalam rukun menikahnya terpenuhi. Jangan sampai, setelah menikah kamu malah bergelimpangan utang sana-sini. Ngeri.

Rukun Menikah dalam Islam
Mempelai Pria
Mempelai Wanita
Wali
Saksi
Ijab Kabul

Setelah ngomongin modal nikah, saya juga sering mendengar soal balik modal. Huwaduhhh. Ini nikah apa mau bisnis sih?. Mungkin sebagian besar termasuk dalam keluarga saya sering itung-itungan balik modal dan lainnya. Setiap pengeluaran dan pemasukan pernikahan itu dihitung. Laba apa rugi. Entah sih ini, kenapa begini. Padahal, namanya mengundang pada hari yang bersejarah ini nggak perlu lah itung-itungan atau mikirin untung dari pesta pernikahan.

Menurutku setiap pengeluaran untuk tamu undangan atau sanak saudara yang hadir jangan dibisniskan. Jadi (saya) harus belajar ikhlas dalam memberi. Jangan mikir “ini isi amplop si A berapa ya, gede apa kecil?” udah kamu Ikhlas aja, ibarat kamu sedang bahagia dan dapat rezeki melimpah jadi berbagi dengan sesama.

Oh ya, ada yang kalau undangan amplopnya dinamain? Ada. Termasuk saya juga pernah. Dulu saya pikirnya biar nanti pas saya nikah dia hadir dan ngasih amplop sesuai dengan apa yang pernah saya beri padanya. Ngakak sih. Walaupun tidak menutup kemungkinan ini bisa membantu keuangan atau kekurangan setelah menikah.

Tapi ini acaranya syukuran masa mau itung-itungan apalagi sama keluarga, tetangga, dan teman.  Udah gitu, ada teman dekat, karena dia nggak hadir pas nikahan ehhh balas dendam nggak hadir juga. Padahal mana tau dia sedang sibuk atau ada hal yang lebih prioritas dari sekedar menghadiri undangan. Tapi kalau diundang dan sedang santai alangkah baiknya bisa hadir.

Diingatkan lagi, kalau mau nikah sesuaikan dengan kebutuhan. Jangan ikut-ikut tren. Nggak melarang (tren) hanya saja harus dipikirkan dan didisesuaikan dengan kemampuan kita. Doa terbaik untuk kamu (temasuk saya) yang belum menikah semoga disegerakan.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive