Dibalik Warna Coffee Latte Pantai Utara Menjaga Senja Dengan Baik

July 06, 2019

Suasana ramai saat libur lebaran di pantai penting/sifathlist

Pantai Utara (Pantura) terkenal dengan pantainya yang berwarna coklat. Pantai Coffee Latte sebutnya. Bukan hanya satu atu dua pantai melainkan nyaris semua pantai di sana berwarna Coffee Latte. Ini hanya sebutan khusus saya untuk pantura karena walaupun tidak seindah pantai selatan yang membiru atau hijau tosca namun masih sopan dalam menyajikan senja dan sunset di sana. Semburat jingga, kekuningan, lembayung yang memantul di gulungan ombak.

Liburan lebaran 2019 lalu, saya berkesempatan mengunjungi dua pantai yang terletak di Sukra, Indramayu, Jawa Barat. Dipilih karena lokasinya yang tidak jauh dengan tempat saya yakni Subang. Pantai Plentong dan Pantai Tanjungpura yang lokasinya tepat di perbatasan Jalan Pantura Subang-Indramayu.

Setelah melewati jalan pantura, mobil kami belok ke jalan perkampungan Sukra. Jalannya sudah lumayan bagus, mulus dan dibisa dilewati dua mobil. Tidak terlalu jauh akhirnya saya dan keluarga tiba di Pantai Plentong.

Mobil terparkir dan membayar uang parkir sebesar Rp 25 ribu sudah termasuk tiket masuk. Untuk motor sekitar Rp 10 ribu. Tempat parkir cukup luas dan terbagi menjadi dua di luar gerbang dan di dalam gerbang. Untuk suhu, semua juga sudah paham dengan keadaan pantura yang cukup panas, ya sekitar 30-32 derajat celcius. 
Kesan pertama saya tidak melihat pantai namun tenda-tenda dan warung makan yang berjajar rapi. Terbentang lahan yang cukup luas yang terkadang dijadikan parkiran dengan taman super mini dan kering. Beberapa pohon kecil terlihat baru ditanam satu atau dua tahunan sehingga terasa sangat gersang.

Pantai Plentong/sifathlist

Barulah terlihat tulisan Pantai Plentong yang super gede yang bisa dijadikan sebagai spot foto favorit. Namun karena saat itu sangat ramai, saya tidak bisa foto dengan latar belakang ini karena banyak pengunjung yang berkerumun duduk di sana hingga nyaris tak terlihat ada tulisan itu. Lalu pantainya tidak terlalu bagus. Yang sudah saya ceritakan di atas, pantura ciri khasnya coffee latte.
Saya mencoba berkeliling sambil mencari spot foto terbaik di sana, ternyata ada juga wahana berbayar yakni bebek gowes, kemudian terdapat jembatan dari anyaman bambu yang menghadap laut, dan tempat untuk berteduh. Dari jembatan ini saya cukup jelas mengamati Pantai Plentong secara menyeluruh dan ternyata tempatnya cukup luas. Saya kira ini terbagi dua yakni pantai untuk berenang dan lokasi untuk makan di warung emperan tadi. Oh ya terdapat juga wahana mobil-mobilan yang bisa keliling sekitar pantai.

Pantai dan sawah berdampingan/sifathlist

Fakta yang saya temukan di pantai utara ini terkait warnanya coffee latte karena memang laut ini tidak terlalu dalam dan dekat dengan penamabang pasir. Selain itu lokasinya memang berdekatan bahkan berdampingan dengan pesawahan. Jadi ketika saya keliling jauh dari keramaian para pengunjung, saya menemukan bongkahan tanah liat di pinggir pantai yang saya kira itu batu namun ternyata itu tanah sawah. Pasir pun tercampur dengan tanah liat. Kemudian ada aliran air sawah yang mengalir ke laut. Jadilah kenapa warnanya coffee latte.

Tapi walaupun begitu pantai utara tetap menyuguhkan keindahan. Salah satunya Pantai dan Sawah berdampingan secara rukun. Sunset yang indah, ombak yang landau, angin pantai dan panasnya cocok bagi yang ingin menghitam secara ini sangat membakar kulit.

Kemudian sudah puas di Pantai Plentong, kami berpindah ke pantai tetangga yakni Tangjungpura. Tempatnya tidak begitu jauh, kurang dari 20 menit kami sudah sampai di gerbang Tanjungpura, Indramayu. Saat memasuki area parkir kami sempat dihadapi calo tiket yang memaksa kami membayar tiket masuk yang begitu mahal. Bahkan hitung kepala di dalam mobil. Padahal sebelumnya pantai ini free atau sama halnya dengan Plentong bayar tidak terlalu mahal atau seikhlasnya. Saat itu kami disuruh bayar nyaris Rp 100 ribu namun setelah bernego kita bayar Rp 70 ribu.

Nah untuk Tanjungpura unik, karena tenda-tenda atau warung makan persis di pinggir pantai, bahkan tidak ada batas hanya waruang terletak di atas bebatuan yang disusun tinggi. Pengunjung bisa duduk dan bersantai di panggung yang dibuat dari anyaman bambu sambil menikmati pantai dan angin sepoi-sepoi.

Warung pinggir pantai Tanjungpura/sifathlist

Saya lebih suka pantai ini karena lebih bersih. Ya walaupun masih ditemukan sampah namun tidak di pantainya hanya di celah batu atau di warung-warung. Sedangkan Plentong itu sampah super banyak baik di air, pasir, area parkir, jalan setapak, dan warung-warung. Untuk spot foto pun lebih natural. Di sana pun terdapat sewa perahu yang akan berlayar ke tengah laut. Tempatnya pun ini sangat dekat dengan calon pelabuhan Patimban yang tengah dibangun. Kapal-kapal berat, alat berat begitu jelas dilihat dari pantai ini.

Saya harap, next time ketika berkesempatan berkunjung kembali pantai ini sudah tertata rapi dan bersih. Tidak ada calo-calo yang dapat merugikan pengunjung dan pantainya sendiri. 

Kenapa pantainya juga rugi? Karena mungkin beberapa pengunjung akan merasa tidak nyaman dan kapok untuk datang lagi ke sana. Satu hal terpenting yakni selain pengelola, pengunjung pun harus melek terhadap kebersihan pantai. Jangan sampai sudah manja oleh alam namun tidak tahu berbalas budi. Intinya jangan buang sampah sembarangan. Kalau tidak menemukan tempat sampah, taka da ruginya untuk membawa sampah itu kembali dan dibuang ketika ada tempat yang tepat.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive