Nikmati Kilometer Alam Tebing Keraton Bandung

July 20, 2019


Tebing keraton, Bandung/sifathlist

Weekend lalu, saya beneran gabut karena tidak punya planning kegiatan yang menyenangkan hati. Kemudian semalam suntuk secara random berselancar di crome untuk mencari sedikit referensi tempat nongkrong alam yang nyaman dan murah meriah pastinya. Kemudian googling lah beberapa nama tempat wisata alam di Bandung baik kota maupun kabupaten.

Lembang menjadi wilayah yang memiliki wisata alam yang cukup lengkap. Beberapa destinasi muncul dan dipilihlah Tebing Keraton. Karena akses menuju tempat yang hits sejak 2015 lalu ini cukup mudah. Mudah untuk diakses via transportasi publik ya gaess karena saya kemana-mana ngandelin Damri, angkot, bus, ojol atau opang. Ya kalau ada yang ngajak dan nebengin akan lebih bagus.

Bandung lagi dingin-dinginnya karena sedang musim kemarau. Saat itu, berangkat dari indekos sekitar 05.30 WIB dengan suhu 15-17 derajat celcius. Kenapa nyubuh? Karena ngejar momen sunrise dan kesegaran pagi hari di ketinggian, itu menjadi tujuan utama saya pilih Tebing Keraton.
Semalam itu, setelah googling dbuatlah rencana dan perbekalan yang akan dibawa. Niatnya juga berwisata murah ya, jadi sebisa mungkin tidak mengeluarkan rupiah berlebih. Bawa minum, bawa susu coklat, bawa kopi yang sudah  ditinyuh (diseduh), dan camilan yang ada di indekos.

Dipacking after subuh dan berangkatlah menggunakan angkot putih Riung-Dago sampai terminal Dago. Karena nggak ada angkot ke dago atas, akhirnya saya pesan ojol mayan punya promo diskon jadi agak miring deh.

Selama perjalanan dari Terminal dago ke atas tidak banyak bicara yang driver, kami hanya menikmati dinginnya Bandung. Bahkan beberapa kali si driver menggigil secara masih pagi. Saya pun merasakan hal sama, kuku saya terlihat membiru karena emang dingin banget ditambah keanginan karena pakai motor.

Warban/sifathlist

Saya menempuh jarak kurang lebih 6 kilometer sampai gerbang bawah tidak jauh dari Warung Bandrek (Warban) Tebing Keraton, kemudian si driver tancap gas kembali ke bawah. Di sana terlihat lebih dari lima mobil pribadi terparkir dan amang amang opang yang sudah siap menawarkan jasanya.

Begitu masuk, saya diperebutkan. Hahaha, direbutin biar naik opang maksudnya. Tapi pikir saya dekat dan suudzonnya sama amang opang (sesuai dengan pengalaman saya yang kadang dibohongin soal jarak). Saya bersikeras untuk jalan kaki dan menanjak, lagian masih pagi dan masih punya waktu untuk menikmati sunrise.

Tapi baru beberapa meter nanjak, lebih dari empat opang ini ngejar saya dan menawarkan jasanya dnegan harga yang berubah-ubah. Dari harga Rp 30 ribu, kemudian turun Rp 25 ribu, Rp 20 ribu dan terakhir Rp 15 rebu ditolak. Karena saya pikir jaraknya dekat jadi jalan aja deh sekalian longmarch.

Deng deng, ternyata dari gerbang bawah ke pintu masuk itu jauh sekali mungkin 2 kilometer ada kali ya, dengan medan menanjak terus. Walaupun saya beberapa kali ngosngosan tapi terobati dengan alam yang begitu indah dan segar.

Sepanjang jalan ponsel saya genggam agar tidak ketinggalan momen. Kabut menjadi pusat perhatian saya, waktu sudah menunjukan pukul 07.30 WIB lebih, ya saya tertinggal moment sunrise, tapi tidak mengapa karena sepanjang jalan saya begitu menikmati alam, kebun terasering di sisi kanan, rumah warga yang juga berundak dan tidak lupa menyapa penduduk setempat yang begitu ramah.



Tibalah di tempat tiket, saat itu dibanderol Rp 15 ribu per orang dan parkir motor beda lagi ya kira0kira bayar Rp 5 ribuan. Dari tempat tiket ke titik point Tebing Keraton tidak begitu jauh, hanya berjalan beberapa meter sudah terlihat jembatan atau pagar untuk menikmati bentangan pohon pinus dari ketinggian.

Ternyata banyak Ibu Ibu gaes, iya buibu sosialita gitu. Kebanyakan yang datang ke sana berkelompok atau couple. Maybe cuma saya yang ngejomblo saat itu. Tapi ya nikmati sajalah ya, kan niatnya juga menghibur diri ngilangin kegabutan.
Bersyukurnya cuaca masih dingin, kabut masih tebal, matahari juga masih bersahabat. Kamera ponsel pun membidik setiap sudut keindahan.

Pengunjung berswafoto/sifathlist

Yang pertama saya bidik adalah pemandangan Gunung Tangkuban Perahu tepat di depan dengan balutan semburat awan agak merah, dihiasi kabut tebal, dan hijaunya deretan pohon pinus di area Taman Hutan Raya (Tahura) Bandung.

Di sana juga terdapat papan informasi soal Tebing Keraton yang letaknya tepat di area Sesar Lembang. Ya kalian pasti tahu kan, beberapa waktu lalu ramai pembahasan soal sesar lembang, yang mana kalau terjadi pergerakan Kota Bandung akan mengalami bencana alam. Tapi Alhamdulillah hingga saat ini, Bandung masih aman.

Saya tidak bosan-bosannya memandangi alam ciptaan-Nya. Begitu sempurna. Rasa capek karena longmarch ini hilang begitu saja, kegabutan lenyap, dan perasaan (merasa) sendiri ini pun terkikis oleh keindahan alam. Saya tidak merasa sendiri di sini, ya walaupun tidak ada yang mengajak ngobrol tapi itu bukanlah masalah tidak bisa menikmati. Saya begitu menikmati setiap detiknya.

Cek galeri ternyata ratusan foto sudah terkumpul. Karena saya mah orangnya selalu mengabadikan momen jadi  galeri cepat penuh dan tidak ada foto diri. Sebab nggak ada yang motoin tukang jepret. Biar ada dokumentasi, saya memberanikan diri meminta bantuan ke akang yang tengah memandangi pohon pinus.

Hasil jepretan orang/sifathlist

“Kang punten, boleh minta tolong fotoin” akhirnya si akang mau dan 3 jepret dengan gaya belum siap. (dalam hati, duh kenapa motoinnya asal sih kang). Tapi saya tetap berterima kasih sih.

Oh ya di sana ada larangan, dimana pengunjung tidak boleh menyandar dan duduk di pembatas tebing apalagi keluar dari area aman. Tapi ya namanya demi like di media sosial aturan itu diabaikan, banyak yang ngolong dan berswafoto di lokasi tidak aman yakni di bebatuan persis diujung tebing. Serem sih kalau kepeleset nih, langsung remuk diantara bebatuan dan pohon pinus. Jadi tetap berhati-hati ya.

Spot foto yang ciamik tapi dilarang/sifathlist

Karena pengunjung mulai berganti wajah, saya mundur dan duduk di di tempat yang sejuk. Minum, ngopi, nyoklat, dan ngemil. Saya juga bawa novel dan baca beberapa lembar saja sambil mengisi waktu santai. Matahari mulai meninggi tapi cuaca masih dingin, seger. Saya berencana akan turun dengan berjalan kaki lagi jadi saya di sana hanya menikmati alam kurang dari dua jam saja.

Sepanjang jalan ada beberapa amang ojol menawarkan jasanya, tapi saya tolak karena sudah diniatkan akan longmarc kembali. Ponsel tetap dalam genggaman. Setiap beberapa meter saya membidik dari alam, penduduk, dan beberapa kelompok yang sedang gowes sepeda. Saya pun sambil mencari jalan pintas tapi ya tidak menemukan jadi ikuti jalan aspal saja.

Alam indah Tebing Keraton/sifathlist

Awalnya longmarch sampai Warban tapi keterusan hahaha. Saya begitu menikmati perjalanan berkilo-kilometer ini. Sendiri bukan masalah, tapi pastinya bersama akan lebih seru. Jadi kalau mau ke sana minimal berdua sama teman ya, biar nggak sepi teuing karena nggak ngobrol.

Jalan menurun, sepajang jalan saya bertemu kelompok pegiat gowes sepeda. Asik kali, olahraga bersama di alam terbuka. Tapi tentunya saya lebih suka jalan kaki sih, hahaha jadi kalau mau jalan kaki boleh lah ajak-ajak hahaha. Dan sampailah di gerbang bawah Tahura H Djuanda Dago. Nyimpang dulu ke toilet dan cuci muka ini wajib biar fresh.




Kalau lanjut jalan sampai terminal sudah nggak kuat. Terlalu memaksakan. Berangkat dua kiloan, pulang lebih dari 5 kiloan. Akhirnya duduk sebentar dan pesan ojol ke terminal Dago. Sampai di terminal langsung naik angkot Riung-Dago lagi dan betis pada kenceng sheyeng. Tepar di indekos.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...