Horor, Berbincang Dengan Bayangan Hitam di Puncak Merbabu

August 09, 2019

Kami di gunung Merbabu/sifathlist

Gunung sering kali memiliki cerita horror, mistis atau hal gaib tersendiri. Begitu pula dengan Merbabu. Ketika kami bersembilan melakukan pendakian selama 4D 3N di Merbabu, Jawa Tengah dengan ketinggian 3.142 mdpl.

Sebelum berangkat kami sudah mendapat informasi dimana ada pantrangan pendaki yang melewati jalur cuntel tidak boleh memakai baju berwarna hijau dan merah. saya lupa sih alasannya cuma ya ikuti saja aturan itu, walaupun saat itu saya tidak sepenuhnya percaya hal mistis di gunung.

Walaupun begitu, jangan sok berani, berkata kasar (sompral) ketika di gunung. Kita harus tetap menghargai dan saling menjaga alam dan kehidupannya.

Ketika tiba di basecamp via Cuntel kami disambut makam atau kuburan umat nasrani dan seberang lagi muslim. Namun kebanyakan nasrani karena memang desa terakhir di sekitar basecamp mayoritas nasrani.

Malam itu, kami berbincang di halaman bascame dekat gerbang masuk. Duduk santai sambil dihangatkan oleh secangkir kopi hitam. Sebut saja Pak Panjul yang merupakan warga sekitar, menceritakan hal gaib dan mitos di sana.

Saya mendengar segala ceritanya. Namun yang paling mengejutkan adalah ketika Pak Panjul mejelaskan bahwa seorang pendaki perempuan yang tengah datang bulan (haid) dilarang melakukan perjalanan ke puncak Merbabu.

“Kaget lah kita” saya dan teman perempuan lainnya yang tengah datang bulan saling tatap. Ya kali masa kita ditinggal di basecamp. Tapi akhirnya kita menutup diri kepada Pak Panjul kalau ada anggota yang tengah datang bulan. Diem diem aja lah gimana nanti. Walaupun agak horror juga sih, karena namanya pantrangan ya gimana gitu apalagi ditambah cerita akan berdampak A B C. ah bodo amat, masa jauh-jauh dari Bandung gagal muncak.

Sekitar pukul 21.00 an sebagian memilih masuk basecamp untuk menggulung diri di sleeping bag. Tapi sebelumnya kami mengadu, kepada ketua perjalanan soal nasib kami berdua. Ya akhirnya mau nggak mau kita lanjut dong. Berangkat bersembilan pulang pun sama. Deg deg an tapi ya harus yakin dan berdoa pada sang pencipta, agar semua berjalan lancar dan selamat hingga kembali ke rumah.

Selama perjalanan tidak lepas kami berdoa. Semoga tidak terjadi apa-apa, baik di dunia nyata maupun hal gaib. Namun kami bingung dan dihadiri rasa takut. “kalau pipisnya gimana gaess? Kan nanti darahnya berceceran (maaf)” iya kita mikir keras dan akhirnya bisa menangani soal ini.

Oh ya, tisu basah sama bekas pembalutnya dibawa ya, jangan ditinggalin. Dimasukin plastik rapat-rapat. Bukan cuma pembalut, sampah lainnya pun dibawa saja sampai pulang nanti dan dibuang di tempat sampah.

Jujur selama perjalanan tidak ada hal-hal yang menggangu sih. Cuma beberapa teman ada yang merasa diikutilah, melihat sosok bayangan lah, dan lainnya.

Sunrise Merbabu/sifathlist

Paling horror sih pas di puncak Kenteng Songo. Tau kan di sana ada kuburan pendaki. Malam itu, seorang anggota menghabiskan waktu malamnya di luar tenda. Angin begitu dingin menusuk tulang-tulang yang akhirnya mengalahkan rasa ingin menghabiskan di luar. Sekitar pupul 01.00 dini hari (katanya) dia masih di luar di depan perapian.

Api unggun masih nyaman untuk menghangatkan diri, walaupun sudah dibalut jaket tebal.
Nah, selama semalam itu dia mengobrol dengan sosok bayangan hitam tidak jauh di dekatnya. Tidak jelas karena tempatnya memang gelap. Dia dikira sosok itu adalah anggota lain, makanya asik diajak ngobrol walaupun tidak ada respon.

Entah bagaimana dia ingat bahwa teman-temannya sudah meringkuk di tenda semua. Dan entah bagaimana dia yakin sehingga sosok yang sedang diajak ngobrol adalah makhluk gaib. Secara perlahan dia masuk tenda dan anggota sudah masuk tenda semua.

Untuk menghilangkan merinding dan rasa takut akhirnya tidur hingga semburat merah di ufuk Timur menyala.

Teman-teman yg sudah khatam jalur pendakian sana sini, pasti lebih paham dan lebih banyak kisah pengalamannya. Bisa kok, cerita singkat di kolom komentar 

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...