Mana yang Prioritas, Hijab Hati dulu atau Menutup Aurat?

August 28, 2019



Beberapa tahun ke belakang hingga hari ini, Hijab atau kerudung menjadi tren di lingkungan msyarakat Indonesia. Bukan hal baru memang, hijab dari sebelum masuknya internet pun sudah ada. Namun rasanya kali ini yang memasuki dunia modern cukup berbeda.

Ini sebagai gebrakan atau trend positif menurutku, ya walaupun labelnya trend tapi ini sebagai langkah awal untuk pembiasaan diri untuk menurup aurat. Karena cukup banyak tagline yang sampai sekarang masih dipakai oleh sebagian besar perempuan. “Hijab hati dulu baru aurat”.

Sebenarnya yang bagus itu gimana sih? Hijabi hati atau aurat duluan?
Pertanyaan ini cukup banyak terlontar. Menurutku sih sebagai muslimah prioritas menutup aurat terlebih dahulu. Karena hal ini sudah diajurkan atau sebuah perintah Allah SWT yang jelas tertulis di dalam ayat Al Quran.

Salah satu ayat Al quran yang memrintahkan menutup aurat adalah Quran Surat An-Nur ayat 31.

"Katakanlah (wahai Nabi Muhammad) kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. dan hendaklah mereka menutup kain kerudung  ke dadanya" (Q.S. An-Nur : 31)

Soal hati yang masih dikatakan banyak buruknya, insya allah dengan menutup aurat kita akan merasa dan berpikir untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Tuhan maupun sesama insan. Karena menutup aurat adalah step utama dalam memperbaiki diri.

Walaupun saya belum menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk banyak orang, tapi saya sedikit bercerita soal pengalaman saya dalam menutup aurat. Ya sapa tahu sedikit dari cerita ini bisa memotivasi saudara, teman semua untuk mencoba menutup aurat.

Jadi 2013 lalu, saya kuliah di salah satu Universitas swasta di Bandung. Saat itu saya belum menutup aurat tapi sudah mulai berkerudung walaupun sekedar aturan di SMA. Saya bertemu teman ketika mengikuti tes masuk kuliah, dan di sana saya mulai menjalin komunikasi, yang akhirnya saya diajak untuk ikut tinggal di salah satu asrama pondok pesantren.

Iya namanya juga pesantren, saya wajib memakai kerudung setiap hari setiap waktu. Pakaian pun harus tertutup, longgar, kerudung menutupi dada, dan memakai rok. Aturan ini membuat saya bingung, karena saya tidak punya pakaian seperti itu.

Pertama kali saya datang di asrama, saya mengenakan pakai cukup ketat. Celana jeans ketat, baju ngepas dan kerudung asal pakai. Sempat jadi pusat perhatian di sana, cuma saya cuek saja. akhirnya saya disarankan untuk menaati aturan pakaian yang berlaku. Oke saya setuju walaupun dalam keadaan terpaksa. Saya beli tiga potong rok dan kerudung.

Siang kuliah, malam bada magrib kita wajib mengaji. Di sana ada tiga kelas yakni kelas A untuk yang sudah kuliah, B untuk siswa SMA, dan C siswa SD dan SMP. Saya gabung di kelas A dengan tetiba ikut di pertengahan pembahasan yang saya belum paham.

Selama mengikuti pelajaran di sana, saya tidak memakai hati. Ini hanya sekedar menghormati karena saya tinggal di sana. Saya tertinggal pelajar jauh sekali yang akhirnya turun kelas ke B ehh ternyata tidak bisa menguasai juga dan turun lagi kelas C bersama siswa SD dan SMP. Malu sih tapi ya jalani saja.

Memasuki tiga bulan di asrama, saya semakin gerah dan tidak nyaman. Yang berakhir saya sering bolos mengaji, tidak pernah ikut acara besar atau diskusi, telebih semester pertama saya juga sibuk ikut UKM di kampus.

Akhirnya saya izin untuk keluar dari asrama, dan memilih untuk indekos di dekat kampus. Pengajuan saya diizinkan dan keluar asrama.

Setelah ngekos, saya pernah berpikir ini gaya pakaian tetap begini atau kembali jahiliyah? Bersyukurnya saya bertemu dengan teman-teman yang memang yang lebih religus. Sehingga saya urungkan niat untuk menanggalkan hijab dan tampilan saya.

Tapi saat itu saya semakin berani memakai pakaian gobrang tapi agak nerawang, kerudung asal pakai tidak menutup bagian dada. Hal ini saya lakukan hingga semester 4. Setelah semester 4 lingkup perteman saya semakin luas dan kenal si A B C yang memang lebih mengerti soal agama. Saya sering berdiskusi, curhat dan akhirnya saya mencoba untuk berubah. Pakaian tidak menerawang, kerudung semakin panjang hingga menutup ada.

Lantas bagaimana hati saya, apa masih terpaksa? Ternyata setelah melewati proses yang cukup panjang hati saya mengatakan “saya tidak mau melepas kerudung, ini sudah passion saya dan ini adalah perintah”.

Saya sudah ikhlas untuk menutup aurat. Setelah menutup aurat, saya semakin rajin untuk mencari pengetahuan soal Islam. Hadir di kajian, ikut acara-acara islami, dan berteman dengan ornag-orang yang memang membantu saya untuk berubah kea rah positif.

Saya memang Islam sejak dilahirkan, tapi saya begitu minim tentang ilmu pengetahuan tenatng Islam. Baik dari akidah, fiqih, sejarah, dan lainnya. Saya hanya bisa mengaji membaca al-quran. Setelah saya menutup aurat dan belajar sedikit demi sedikit, Alhamdulillah dari yang cuma shalat bolong-bolong menjadi full 5 waktu setiap harinya ditambah belajar untuk menunaikan shalat sunah.

Tapi proses ini tidak mudah, karena ada saja orang-orang yang sinis melihat penampilan saya. Di rumah banyak orang yang heran dengan penampilan saya. Omongan sudah pasti ada, tapi saya sudah punya komitmen jadi santai saja mengahadapinya. Yang pada akhirnya beberapa teman saya ikut menutup aurat. Ini hal yang positif, walaupun tidak mengajak secara langsung karena terbiasa melihat akhirnya mengikuti.

Saya pun lulus dan diwisuda tepat empat tahun menuntut ilmu di perguruan tinggi. Kemudian saya pulang dan mencari pekerjaan yang bertolak belakang dengan jurusan. Kenapa? Karena saya kuliah dengan jurusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Ilmu Jurnalistik. Sudah ditebak, seharusnya saya mencoba di dunia jurnalistik atau dunia wartawan.

Tapi hati saya menolak, karena khawatir soal pakaian saya. Saya takut jika perusahaan menolak saya atau diterima dengan syarat lepas hijab atau sedikitnya merubah pakaian saya. Karena selama ini saya melihat mereka yang bekerja meliput di lapangan nyaris tidak ada yang berhijab. Kalaupun ada mereka memakai pakaian yang ketat.

Tapi selama tiga bulan lulus tidak kunjung ada panggilan, yang akhirnya saya mencoba dunia jurnalistik dan diterima. Saya bekerja ke lapangan dan memakai pakaian gombrang. Kali pertama saya bergabung dengan mereka, saya benar-benar diperhatikan. Mungkin mereka memperhatikan bukan soal pakaian tapi hadirnya orang baru di tengah-tengah mereka.

Jadi ya, sebenarnya di dunia wartawan tidak ada syarat tidak boleh memakai hijab atau pakai harus begini begitu. Pakaian sopan sudah lebih dari cukup. Saya pun bertemu dengan beberapa teman yang berkerudung, senang sekali karena apa yang saya pikirkan dulu tidak benar sama sekali.

Jadi soal menutup aurat itu adalah kewajiban, dan perlu komitmen yang kuat agar tidak gagal di tengah jalan. Rintangan pasti ada, tapi itu akan berlalu. So jangan takut jika berhijab atau bekerudung akan sulit mendapat pekerjaan. Kamu harus mencoba dan memulai dari sekarang. Soal hati dan ketaatan lakukan secara bersamaan. Berhijab, menata hati, perbaiki ibadah, dan bersosialisasi secara normal di lingkungan.

Mari kita coba bersama, jangan takut jangan khawatir dan jangan menunggu dihijab ketika sudah jadi mayat


You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive