Pernah ke Merbabu, Menakjubkan dan Merindu

August 10, 2019

Kabut Navigasi saat kegiatan mini season di Gunung Merbabu/sifathlist

Agustus 2014 lalu, berkesempatan mencicipi pengalaman mendaki Gunung Merbabu 3.142 mdpl bersama teman seperjuangan di Kelompok Pecinta Alam (KPA) Giriraya, Uninus Bandung, dengan nama kelompok Kabut Navigasi. Dengan tujuan melakukan mini season selama beberapa hari.

Kami berangkat sembilan orang yakni 7 orang peserta mini season yakni Damin, Cengek, Melow, Waluh, Buyur, Cengos, dan Gehu serta dua orang pendamping yang merupakan senior. Berangkat sekitar pukul 21.00 WIB menggunakan kereta api dari Stasiun Kiaracondong dan tiba di Stasiun Kutoarjo pukul 04.40 WIB. Kemudian dilanjut menggunakan kereta pramex, bus, longmarch hingga tiba di basecamp waktu magrib.

Selama semalam di basecamp, beristirahat, evaluasi, dan briefing. Pagi buta kita sudah bangun. Mandi, olahraga, makan, dan persiapan untuk melakukan sosial pedasaan di kampung terakhir Dusun Cuntel, Desa Kopeng, Getasan, Jawa Tengah. Kita mengoreh informasi seputar adat istiadat, alat musik, dan mata pencaharian warga setempat. Tak lama kami bergerak menuju Gunung Merbabu.

Didahului dengan berdoa, pendaki perempuan dibiarkan untuk berjalan di tengah. Sedangkan para pendamping tetap memantau dari belakang.
Ini pengalaman pertama kali saya mendaki gunung. Karena biasanya kan bukit. Pemanasan medan menanjak kepala saya mulang pening, bahkan merasa berkunang-kunang. Beban karir sangat berat. Akhirnya istirahat sebentar dan lanjut kembali. Dari awal menanjak menuju pos 1 kami disuguhi pemandangan perkebunann tembakau dan pipa-pipa air yang saling menghubung dari atas dan dialirkan ke rumah penduduk setempat.


Kami tidak memaksakan diri untuk cepat menuju puncak. Ketika rekan-rekan ada yang kelelahan kami pun istirahat sejanak, bahkan tukeran carrier pun tak terhindarkan atau saling membantu dengan membawakan carrier jika salah satu peserta memang tidak kuat. Tentunya kalau sudah pulih carrier kembali digendongnya.

Di perjalanan pun kami sempat melihat sekumpulan moyet yang mendekat ketika kita beristirahat dan menunaikan ibadah shalat dzuhur di pos bayangan. Tapi kami tidak memberi makanan kepada mereka, karena khawatir kami dipalak kelompok monyet lainnya.

Hari sudah mulai sore, kami beniat untuk camp di pos II. Secara otomatis kami bertujuh berbagi tugas ada yang masak, mendirikan tenda, dan membuat perapian.


Keesokan harinya kami pagi sekali melanjutkan perjalanan. Di sana kami sudah disambut beberapa bunga edelweiss yang belum berbunga. Medan sudah semakin kering dan berdebu dan bertemu dengan pendaki lainnya adalah hal yang mengembirakan, untuk saling memberi informasi satu sama lain.

Sekitar pukul 10.00 an kita tiba di pos III. Sekelompok monyet pun menyambut. Kemudian terpantau monyet-monyet itu mendekat namun kita tidak boleh memberi sedikitpun makanan. Di sini kami melakukan potong kompas hingga ke pemancar. Kami menemukan buah arbei yang manis kecut rasanya dan bunga edelweiss.


Terasa sekali kami berjalan di atas kemiringan, entah berapa derajat hanya saja cukup terasa. Panas, angin sepoi-sepoi, jurang begitu menghiasi kegiatan potong kompas. Kami saling bergantian membidik. Yang paling berkesan adalah ketika berjalan di tengah ilalang dan bunga edelweiss.

Saya mendokumentasikan semua momen termasuk keindahan alam-Nya. Walaupun terlihat jelas adanya jurang di depan, saya cukup untuk berhati-hati ketika melangkah. Rasanya, angina itu, awan di kejauhan, bunga edelweiss, ilalang begitu menempel di memori saya. Ku merindu.


Karena cukup lelah dan hari sudah semakin sore, kami kembali mendirikan tenda di helipad.  Sumber air cukup dekat walaupun susah karena curam dan bebatuan. Selepas magrib kami memasak, angin cukup besar, dingin sekali. Tak begitu lama, kami pilih melakukan makan dan dilanjut evaluasi di dalam tenda.

Ternyata jaket tebal tidak menyelamatkan saya dari raya dingin. Dingin sekali seperti kamu. Ea. Kami pun tidak bisa membuat perapian karena angin sangat kencang bahkan beberapa alat yang di luar tenda berpindah tempat. Oh ya, malam hari saya tidak bisa tidur karena kedinginan.

Bersyukur tidak sampai kena hipotermia.
Pagi hari kami, melanjutkan perjalanan diawali sarapan, olahraga dan berkemas. Saya sempatkan untuk mengabadikan panorama di sekitar yang begitu indah. Terpantau juga beberapa pendaki tengah ngos-ngosan. Perjalanan kali ini akan semakin tertantang karena kami melewati jalur setapak yang kanan kiri tebing, berbatu dan berdebu. Masker pun terpasang.

Puncak Syarif/sifathlist

Kami berkunjung ke puncak Syarif terlebih dahulu. Saya begitu terpana melihat keindahan di sana. Awan putih bergerombol, langit biru cerah, matahari begitu semangat membakar kulit saya yang sudah gelap. Sudah puas menikmati indahnya puncak Syarif, kami harus menuruskan perjalanan meuju puncak Kenteng Songo.

Namun tiba-tiba salah satu anggota Kabut Navigasi, tidak sadarkan diri. Akhirnya kami berteduh terlebih dahulu sambil menunggu teman kami sadar. Setelah sadar kami melanjutkan perjalanan.

Menuju Kenteng Songo ini sangat cukup menantang karena jalurnya cukup ekstream. Kami harus memanjat tebing, dan bebatuan menggunakan webbing yang kita bawa. Merayap tebing, melangkah secara perlahan begitu hati-hati.


Setelah melewati kesulitan dengan dimana jalur begitu terjal akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak Kenteng Songo. Kedua pendamping memberikan selamat. Seorang teman mengumandangkan adzan di puncak. Sangat terharu, kami menangis bahagia bisa mencapai puncak.

Dengan suasana senja, langit begitu jernih, awan melayang lebih rendah dibanding kita, mentari yang sudah condong ke Barat begitu romantis. Tawa, haru, tangis, syukur begitu bercampuraduk. Sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata manis.
Medirikan tenda dan bermalam.




Malam itu, kami tidak langsung tidur seperti malam sebelumnya.
Kami menikmati malam di puncak Gunung Merbabu. Bintang-bintang sangat menawan, ingin ku gapainya, angina begitu merdu walaupun begitu jahat menusuk tulang tulang kami.

Dalam hati saat itu, “Mungkin nanti saya akan kembali lagi ke sini. Menikmati keindahan dari ketinggian,”

Pulang.



You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive