Cari Kayu Bakar dan Mengenal Istilah ‘Repek’

September 02, 2019


Repek di kebun karet/sifathlist

Wah dari judul saja sudah bisa ditebak, ya. Jadi setelah satu bulan tidak menengok kebun karet di Kabupaten Purwaakarta, saya kembali main-main di sana.

Jenjreng…. Yang sebelumnya macam musim gugur a la Jepang kini sudah mulai hijau. Ya karena, kemarau tahun ini akan segera berakhir karena beberapa waktu lalu rintikan hujan sudah menyambut datangnya musim hujan.

Baca Juga : Menikmati Musim Gugur di Purwakarta Jabar

Kali ini saya tidak hanya sekedar main-main sambil jeperet dan pose-pose cantik, namun juga sambil melakukan hal positif lainnya. ‘Repek’ ini istilah bahasa Jawa yang artinya mencari atau mengumpulkan kayu kering di kebun atau hutan. Dengan tujuan yakni untuk dijadikan bahan bakar untuk memasak di tungku.

Sebelum masuk abad ke-21, masyarakat Indonesia memang hobi melakukan kegiatan repek atau rerepek. Karena dulu belum minyak terbilang mahal (mungkin sekarang juga sama), dan gas pun belum ada. Sehingga kebanyak masyarakat terutama di kampung-kampung pasti memasak menggunakan tungku atau kalau orang Sunda masak dina hawu.

Setelah memasuki era modern dan perkembangan zaman, kegiatan repek ini mulai hilang karena masyarakat lebih memilih memasak di kompor dengan bahan bakar gas. Bahkan semua serba praktis dengan menggunakan listik.

Kebun karet hijau kembali/sifathlist

Tapi jangan berpikir negative soal kegiatan repek ini, karena mereka mengumpulkan kayu bakar tidak dengan cara illegal yakni menebang pohon. Melainkan mereka mencari ranting kayu yang kering dan sudah rapuh.

Warga yang memungut ranting-ranting yang berjatuhan, atau menarik ranting yang sudah rapuh dan tidak akan tumbuh kembali. Jadi hutan atau hektaran kebun karet di Purwakarta aman ya karena tidak ditebang.

Ikut repek/sifathlist

Kemarin saya dan saudara ikut repek di sana, kami mengumpulkan ranting-ranting dengan ukuran kecil. Kami berhasil mengumpulkan tiga atau empat ikat gulungan kayu kering. Selain repek kami pun sambil mencari biji karet diantara tumpukan daun-daun kering.

Setelah selesai repek, saya mencoba bersepeda berkeliling kebun karet. Ini pemandangan yang berbeda dari satu bulan lalu. Deretan pohon begitu terlihat segar karena nyaris semua daun hijau. Mungkin efek diguyur rintikan hujan beberapa waktu lalu.

Bersepeda/sifathlist

Asik tidak bersepeda? Menurutku sih asik-asik aja sih. Karena kita bisa melihat indahnya deretan pohon karet yang terlihat rapi bahkan sekilas membentuk lorong-lorong yang estetik. Pastinya cocok untuk dijadikan spot yang istagramable.
Hagi lagi Instagram wkwkwk, iya gimana lagi atuh da udah macam syndrome sama sosial media.

Sebenarnya ada yang saya tunggu-tunggu sih, yaitu panen karet. Karena setiap ke sana belum pernah lihat petani panen getah karet. Saya penasaran cara mereka memanen dan menyayat batang pohon hingga getahnya mengalir di bejana sebagai penampung. Tapi baiklah, semoga next time nemu momennya.

Getah pohon karet/sifathlist

Hal positif lainnya, manfaat main di kebun atau hutan itu sebagai penyegaran atau refelesi untuk otak dan badan kita. Ya hidup di kota, setiap harinya selalu dihadapi dengan kemacetan, polusi, orang marah-marah karena ada yang dirugikan dan lainnya mengakibatkan otak dan badan kita capek. Maka bermain di kebun atau hutan yang begitu alami menjadi oasis dalam kehidupan yang begitu-gitu saja setiap harinya.

Mencari biji karet/sifathlist

Jangan lupa luangkan waktumu untuk berlibur atau mengistirahatkan diri. Tidak harus ke alam, apa yang kamu sukai maka lakukan sebaik mungkin. Minimal bisa mengurangi kerudetan kita sendiri.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...