Fanatik Boleh, Kotori Nama Baik Jangan

September 06, 2019

Ilustrasi suporter sepak bola/sifathlist

Setiap orang memiliki idolanya tersendiri. Bahkan tidak sedikit mereka merasa sebagai penggemar sejati atau istilahnya fanatik. Namun terkadang mereka yang fanatik ini sulit untuk mengontrol diri, hingga akhirnya terjerat masalah.

Saya mengambil contoh suporter sepak bola. Olahraga ini memang disukai dan dicintai semua kalangan, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Diantaranya fans fanatik selalu ada di mana-mana. Mereka rela mendukung idolanya hingga mati. Mereka rela mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar untuk menonton secara langsung, membeli semua atribut yang berhubungan dengan klub, energi mereka diserahkan, waktu hanya untukmu seorang, dan doa yang terbaik untuknya.

Fanatik di sepak bola memang wajar dan sah sah saja. Namun terkadang mereka lupa diri bahwa mendukung tidak harus menyelakakan diri sendiri dan orang lain.

Yang sering ke stadion pasti paham betul, bagaimana atmosfer di sana ketika klubnya bermain terlebih laga kandang. Full seat berornamen klub kebanggaan. Ketika ada suporter lain, mereka reflek menyoraki dan menyanyikan yel-yel yang tidak pantas disuarakan. Sangat merendahkan.

Parahnya, ketika, klub terpuruk karena kalah telak di kandang, ada saja oknum yang katanya fans fanatik mencederai pertandingan. Saya berusaha memaklumi kejadian itu karena itu bukan hal baru. Namun jika terus begitu, apa iya akan dijadikan tradisi?

Lempar botol, lempar smoke bomb, menyalakan flare, merusak fasilitas stadion, menyakiti pemain dan suporter lawan ahh kalian ini manusia bukan sih? Kalau kalian manusia gunakan akal pikiran kalian dengan baik. Jangan terus-terusan mengikuti hawa nafsu. Jangan mau dibodohi karena egois.

Saya enggak habis pikir sama para oknum ini, mencelakakan pemain atau suporter lawan di kandang sendiri, lah dia emang enggak akan nonton di kandang lawan apa? berpikir jernih, sekarang kamu di kandang kemudian melakukan tindakan bodoh dan melanggar hukum karena mencelakakan orang lain.

Lantas bagaimana kalau si oknum suporter ini sedang melakukan away? Pasti dibales tuh. Gebuk bales gebuk, lempar botol bales lempar botol, atau lebih dari apa yang pernah dilakukan oleh si oknum saat di kandang.

Seperti halnya semalam di pertandingan perdana group G Kualifikasi Piala Dunia 2022 antara timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (5/9/2019), sedikit ternodai karena adanya kericuhan oknum suporter. Bahkan kabarnya ada yang terluka.

Stop sampai di sini, jangan ulangi. Pertandingan itu bawa nama bangsa, jangan mencoreng nama Indonesia di level dunia. Mari mendukung secara damai.

Sekali lagi fanatik boleh, tapi jangan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Mari ubah tradisi buruk ini dari diri sendiri. Apa susahnya menghormati dan menghargai sih?

Logikanya gini, kalau kamu menyambut baik tamu maka mereka akan menyambut baik pula ketika kamu bertamu. Menghargai dan berbagi kebaikan itu indah. Berbagi tempat duduk di tribune dengan suporter lawan kan enak, siapa tahu salah satunya adalah jodoh kita hehehe. Just kiding kalau beneran juga enggak apa-apa namanya jodoh kan ya, kadang ketemunya enggak kenal momen.

Yuk dicoba, pemain sudah bermain fair play selama 90 menit. Jangan cederai sepak bola dan klub kebanggaan kalian. Karena ketika terjadi apa-apa, klub lah yang menanggung resiko. Sering dengar kan, ketika tim dijatuhi hukuman dan denda beratus juta hingga milyaran akibat tindakan oknum suporter? Katanya fanatik dan mengidolakan tapi kok, merugikan klub.

Rivalitas hanya di lapangan, setelahnya kita bersaudara. Asik banget tuh kalau semua akur dan damai. Siapa Kita? Suporter Damai

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive