Melihat Kota Bandung dari Menara Masjid Raya

September 13, 2019

Menara Masjid Raya Bandung/sifathlist

Kota Bandung, kota dimana cerita kehidupan begitu terkenang. Bukan soal geografis saja melainkan lebih dari itu. Tak jarang mereka yang sudah bersamanya untuk beberapa waktu akan selalu merasa rindu di kala jauh dengannya.

Kali ini belum waktunya untuk bercerita soal rindu dan kenangan bersama Bandung, karena cukup sulit untuk mencerikan secara detail kenyaman di rumah kedua ini. Saya akan membahas soal kota Bandung dari sudut menara Masjid Raya Bandung atau dikenal dengan Alun-Alunnya.

Masjid Raya Alun-Alun Bandung/sifathlist

Sebagai informasi, Masjid Raya ini memiliki dua menara yang terbuka untuk umum. Para pengunjung bisa melihat hamparan bangunan di seluruh Kota Bandung. Dengan cara membeli tiket masuk menara Rp 5.000 – Rp 10.000 per orang, dibuka tiap pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Setelah membeli tiket, pengunjung akan diarahkan untuk naik lift. Kita akan langsung menuju lantai 19 untuk melihat keindahan kota ini. Ukuran menara ini cukup sempit sehingga pengunjung akan dibatas. Saya kira normalnya cukup untuk 15-20 orang saja (bisa dicek lagi ya).

Sebetulnya ada anak tangga untuk mencapai sana, mungkin hanya digunakan para pekerja diwaktu tertentu. Ruang menara memang tidak ada yang special. Ruang dikelilingi kaca besar, terdapat foto-foto terkait Bandung, itu saja.

Pemandangan dari Menara/sidathlist

Tapi memang menariknya, ya kita bisa melihat setiap detil jalan, gedung, dan pemukimana padat penduduk dari atas. Kesan pertama kita bisa melihat rumput sintetis Alun-Alun Bandung yang dikerumuni wisatawan, melihat jalan Asia Afrika, Pendopo hingga Pasar Baru.

Kesan pertama sih, ternyata kota ini sesak. Jarang sekali melihat rimbunnya pohon kecuali di sekitar rumah dinas Wali Kota (Pendopo), seluruhnya full rumah dan beton. Tapi uniknya semua bangunan terlihat berwarna putih dan abu-abu. Padahal kalau lewat itu di bawah cat rumah warna-warni. Mungkin efek cahaya juga kali ya.

Alun-Alun Bandung/sifathlist

Di atas sana, kamu bisa sepuasnya menikmati kota dari ketinggian karena waktunya tidak dibatas, jadi puas-puasin dah foto-foto, selfi, jepret sana-sini. Tapi menurut saya untuk menikmati menara ini 30 menit sampai 1 jam juga cukup sih kecuali yang memang sedang hunting foto bisa lebih dari itu karena banyak momen yang bisa diabadikan di atas.

Kalau kamu sudah bosan boleh turun. Gimana cara turunnya nih? enggak ada tombol yang berfungsi. Eits tenang, di samping lift itu ada APAR eh bukan bukan ngebuka pake APAR lho, di sampingnya lagi itu ada telepon ngegantung. Enggak usah ribet-ribet ngomong tinggal pencet aja tombol macam ring (bel). Lihatlah lift pun siap menjemputmu di atas.

Jadi lift ini tidak pernah ditinggalkan sama petugas menara. Setiap mau ke atas atau turun pasti si akang siap menemani. Jadi kalau kamu ke menara sendirian jangan takut, bisa ditemani si akang ini ya minimal buat menggali informasi soal menara sepanjang di lift dari lantai 1 sampai 19.

Penasaran kan? Jadi bisa banget kalau ke Alun-Alun coba deh naik ke menara sapa tau tertarik. Hehehe.


You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive