Sering Dengar Kalimat Bijak Bermedia Sosial, Sebenarnya Gimana sih?

October 15, 2019

Ilustrasi media sosial/sifathlist

Setelah sekian lama meninggalkan blog sendirian, kali ini saya kembali untuk menemani kesepiannya. Ketika membaca judul, pastinya sudah tahu kan akan bahas apa?

Bijak bermedia sosial. Zaman now, semua main media sosial dari generasi old maupun milenial bahkan bayi yang baru lahir saja sudah memiliki akun Instagram dan lainnya. Hebat bukan hehehe. Tapi sepertinya memiliki akun saja tidak cukup kalau tidak dipakai dengan bijak.

Karena bermedia sosial juga punya regulasi lho yang tercantum dalam Undang Undang Informasi dan Transaksi Teknologi (ITE) yang diterapkan sejak 2008 lalu. Semua sudah tahu soal regulasi itu, lantas bagaimana apa sudah semua mulus tidak melanggar? Tidak semua. Beberapa diantaranya ada yang dicyduk oleh aparat karena dinilai melanggar aturan tersebut. Bisa banget dibaca lagi di google banyak.

Menurutku bermedia sosial dengan kehidupan nyata (sosial) itu sama ya hanya tempatnya saja yang berbeda. Tapi soal aturan bersosial ya sama aja sih. Jika di lingkungan kita harus jaga lisan agar tidak menyinggung atau berkata yang tidak semestinya, di media sosial juga harus jaga jepol biar status atau tulisan kita tidak dinilai sebagai ujaran kebencian.

Oh ya, tapi kalau mengkritik sebuah lembaga, personal, atau komunitas menurut saya sih enggak masalah. Toh kritikan itu kan bisa dijadikan acuan bahwa oh ya saya ternyata kurang A B C D atau oh ya saya harus jaga perasaan orang lain, oh ya saya tindakan saya salah, dan lainnya. No problem.

Tapi ingat menyampaikannya juga harus berhati-hati. Hati-hati di sini jangan sampai pakai kata kasar, cacian, apalagi ada nama binatang yang keluar. Khawatirnya inti dari kritikan kita tidak sampai ehhh malah dicyduk gegara ada yang melaporkan atau memviralkan.

Saya juga bingung sih, bermedia sosial yang baik itu bagaimana. Karena saya juga pernah membuat tulisan satire gitu, mau blak blakan takut mau didiemin ini jempol keknya mulai muak dan dijadikanlah status.

Soal anjuran bijak di sini bukan mematikan aspirasi, bukan ya. kita semua diperbolehkan kok menyampaikan aspirasi kita secara langsung maupun di media sosial. Tapi kita harus pahami caranya. Misal bertutur kata yang baik tidak kasar (beda sama tegas ya), tidak mengejek atau mengolok-olok, komen pada tempatnya jangan jadi provokator yang bisa merusak persaudaraan.

Jadikan media sosial itu sebagai wadah pertemanan, komunikasi, menyuarakan aspirasi, tempat belajar, medapat informasi, dan berbagi.

Satu hal yang harus dihindari oleh kita semua yakni membuat dan menyebarluaskan berita bohong (hoax). 

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive

Adv

loading...