Beri Aku Waktu Untuk Mengenalimu #1

December 11, 2019

(Cerbung Bagian-1)

Wira setiawan, seorang siswa kelas XII SMA Harapan. Usianya sudah 18 tahun dan terkenal aktif di keorganisasian, baik di dalam maupun di luar sekolah. Wajahnya biasa saja, tidak tampan tidak juga jelek. Standar saja dengan tinggi badan 165 cm. kulitnya gelap tapi manis, ramah, humble, dan peduli.

Dalam sebuah acara, dia ditugaskan untuk menjadi koordinator humas Osis di luar sekolah. Ya, sekolahnya kini akan mengadakan sebuah acara besar dengan mengundang siswa dari sekolah lain. Acaranya memang hanya Pentas Seni yang biasa digelar tiap tahunnya, namun kali ini direncanakan akan lebih menarik.

Jauh-jauh hari, Wira mengunjungi sekolah lain selepas sekolah. Berangkat menggunakan motor bebek legendnya, terkadang sendiri ataupun ditemani. Perannya sangat penting, berkomunikasi dengan pihak sekolah dan osis di SMA lain, agar mereka berkenan hadir di acara special tersebut.

Pada hari yang ditunggu-tunggu, Pentas Seni pun digelar di halaman sekolah. Ketua pelaksana, tim seksi acara, publikasi, konsumsi, keamanan, sudah siap, termasuk Wira selaku koordinator humas. Wira harus memastikan siapa saja yang hadir dari sekolah lain dan kembali dikoordinasikan dengan tim panitia.

Sejauh ini, acara berjalan dengan lancar, meriah, dan banyak tamu undangan. Wira berhasil meyakinkan siswa lain untuk hadir di acara tersebut. Namun pada hari itu, dia belum bisa berlenyeh-lenyeh karena tugasnya belum selesai. Walaupun memiliki anggota, dia tetap harus siap siaga jika ada hal di luar harapan mereka.

Wira memantau acara dari kejauhan. Tepatnya dia duduk di sebelah tim absensi. Hal ini sekedar untuk menyambut para tamu undangan dari luar sekolah sebagai rasa hormat. Tetiba, ada hal yang tidak diduga. Seorang siswi dari sekolah lain, lupa membawa surat undangan atau surat dinas dari pihak sekolah. Kemudian pihak absensi tidak bisa mempersilakan masuk. Wira pun bersigap.

“Mohon maaf, Kak. Boleh tau namanya dan delegasi dari SMA mana?” Wira
“Saya Fina Ulfiah dari SMAN Cakrawala”
“Barusan kalau tidak salah dengar, surat dinasnya tertinggal ya?”
“Bukan tertinggal sih, soalnya baru aja pagi tadi saya terima suratnya sebelum ke sini. Kayaknya jatuh atau entahlah”
“Iya sudah, gak apa-apa. Silakan duduk dulu Kak Fina, saya bantu komunikasikan ke pihak SMAN Cakrawala”
“Oh ya, terima kasih Kak”

Fina duduk di kursi Wira, sedangkan Wira sibuk menghubungi salah satu kontak person SMAN Cakrawala yang bisa dihubungi. Fina sepertinya memperhatikan gerak-gerik Wira sambil menunggu kepastian bisa masuk atau tidak.

“Jadi begini, Kak Fina, untuk surat akan dikirim via email dan Kakak bisa bergabung dengan rekan-rekan yang lain”
“Waw, terima kasih Kak. Hmmm”
“Panggil saja, Wira. Mari saya antar ke lokasi”

Wira mengantar Fina ke lokasi. Namun kursi tamu undangan sepertinya sudah penuh, artinya Fina harus duduk di belakang.

“Keknya di depan penuh yah? Duduk di belakang aja deh”
“Hmm, mohon maaf ya Kak tapi saya sedang koordinasi dengan pihak logistic biar ada kursi tambahan di depan”
“Udah santai aja, Wir Wir Wira. Betulkan? Hahaha”
“Iya Wira, Kak”
“Kaku amat sih, panggil aja Fina dan plis pake bahasa informal aja biar gak canggung”
“Hahaha, emang keliatan kaku ya?”
“Iya, agak sedikit terganggu aja gitu, padahal kita keknya seumuran”
“Mari duduk, sebagai bonus saya temani”
“Hahaha bisa ae lu Bambank. Dengan senang hati”

Acara begitu meriah, ditambah dengan aksi konyol dua MC Pentas Seni di atas panggung. Berkali-kali penonton bersorak dan tertawa terbahak-bahak. Begitu pun dengan Fina dan Wira yang juga menikmati acara tersebut.

“Fin, kelas XI atau XII?”
“XII dong, sama kayak kamu”
“Lho kok tau? Saya kelas XII?”
“Dari wajah aja udah ketebak, senior banget, hahaha”
“Hahaha, emang ini muka gak ada baby face baby face nya”
“Hahaha. Eh bentar ada temanku. Ren Ren”

Reni adalah tetangga Fina. Dia merupakan siswi kelas XI SMA Harapan, Reni menghampiri Fina dan mengobrol begitu asyik.

“Mapir ke sekolah aku juga nih, Fin”
“Iya dong, biasa delegasi karena semua pada sok sibuk”
“Hahaha”
“Uhuk, ehemm. Maaf ini yak arena udah ada teman duduk saya undur diri” Wira sambil memberi kode terbatuk.
“Oh ya, terima kasih lho udah nemenin ngobrol hehe”
“Iya sama-sama”

Fina dan Reni kembali asyik berbincang sambil sesekali memperhatikan pentas seni yang dipersembahkan oleh siswa-siswi SMA Harapan. Sedangkan Wira, terlihat kembali berkoordinasi menggunakan HT tidak jauh dari panggung.

“Fin, lho kenal Kak Wira?”
“Lah baru aja kenal”
“Hmm”
“Kenapa?”
“Gak apa-apa, cuma aneh aja kok bisa langsung akrab gitu”
“Lah ya gak tau, kan aku baru kenal. Mungkin aja itu trik untuk menghormati tamu”
“Hmm, bisa jadi. cuma tetap agak aneh, selama aku kenal dan dengar soal Wira dari pergibahan hahaha”
“Dasar ya, junior hobinya gibahin senior”
“Hahaha, itu isu yang sangat menarik untuk didengar dan disebarluaskan”
“Tobat-tobat, aku juga senior nih hehehe”

Di penghujung acara, MC meminta adanya sesi foto bersama dengan para tamu undangan. Maka seluruh tamu undangan dan panitia diperkenankan untuk mendekat ke dekat panggung. Wira terlihat mendekati Fina dan Reni.

“Fin, yuk ke depan”
“Okey. Ren ke depan dulu ya”
“Oh ya, sekalian mau pindah duduk hehehe udah ditelepon teman”
“Siap”

Wira dan Fina berjalan bersama mendekati panggung. Di sana semua tamu undangan tengah menempatkan diri di posisi yang pas untuk foto bersama. Semua berbaur baik panitia maupun tamu undangan dan beberapa guru. Wira dan Fina berpose sebelahan di sisi kanan.

“Satu dua….. eh Wira agak dempet dikit, kepotong nih” Sahut Fotografer

Wira begitu kaku, karena dia harus menempel dengan Fina. Tapi ya, karena kebutuhan gambar, dia lakukan dengan santai.

Tapi betul kata Reni, Wira ini sedang salah tingkah sejak pertama bertemu Fina. Dia merasa tertarik dengan kehadiran Fina, namun dia tidak paham apa yang tengah dirasakannya saat ini. Bahkan sebelumnya dia pun sempat meminta kontak whatsapp Fina.

“Gaya bebas ya” Fotografer

Foto kali ini agak santai, cuma Wira terciduk tengah memperhatikan gaya Fina yang agak heboh seperti siswi lainnya.

Karena acara sudah selesai, semua tamu undangan bersalaman dan pamit undur diri.

“Fin, mau langsung balik?” Wira menyapa kembali.
“Hmm, masih betah sih cuma ini bukan sekolahan aku hahaha”
“Mau balik bareng?”
“Kan selesai acara pasti sibuk beres-beres sama evaluasi”
“Iya juga sih. Mau diantar dulu? Bisa kok bentaran”
“Gimana ya, gak usah deh gak enak. Lagi sibuk masa direpotin. Lagian kalau kamu anter aku, kasian panitia lain yang beres-beres”
“Okeylah. Hati-hati ya, semoga bertemu kembali”
“Iya, bye bye. Fighting!”
***

Di gerbang, Reni sudah menunggu Fina untuk pulang bersama. Dia sudah lengkap dengan helm dan motor tanpa giginya. Warnanya merah gelap dengan line hitam dan sedikit kuning di beberapa sisi.

“Fin, tebakanku bener deh”
“Tebakan apaan?”
“Tadi ngobrol apa aja sama Kak Wira, kok lama dan keknya sok akrab banget”
“Oh tadi dia ngajak balik bareng, cuma aku tolak”
“Tuh kan bener”
“Bener apaan sih, Ren? Udah ahh ayo ngobrolnya di tempat Mas Siomay aja”
“Asyik ditraktir, hahaha”

Reni tancap gas, sepanjang perjalan Fina tidak ngobrol dengan Reni, karena Reni fokus menyetir. Sesampai di Warung Siomay pinggir jalan, Reni langsung menginterograsi Fina kembali.

“Fin, keknya Kak Wira suka deh sama kamu”
“Mana ada sih, Ren. Kita baru aja kenal”
“Ihh tebakanku gak pernah meleset, dia pasti suka sama kamu”
“Kok bisa nebak gitu?”
“Nah, Kak Wira ini termasuk senior yang cuek. Dia emang gak seganteng ketua Osis tapi dia manis dan baik”
“Dia baik artinya aku juga pantas diperlakukan dengan baik sama si Wira”
“Bukan, bukan. Kali ini tatapannya beda, apalagi pas tadi ngobrol sama foto beuhh keliatan banget dia salting dekat sama kamu”
“Ngaco ah, kuy makan dulu”
“Kalau tebakan gue bener, kamu mau ngasih apa?”
“Ngasih Siomay sama emang-emangnya”
“Ihhh gak maulah, cukup Siomaynya aja hahaha”
“Udah ah makan, cepet ya udah sore ini hahaha”
***

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive