Beri Aku Waktu Untuk Mengenalimu #2

December 11, 2019

(Cerbung Bagian-2)

Satu pekan setelah pertemuan di acara Pentas Seni, Wira mengirim pesan via whatsapp kepada Fina. Hanya sekedar basa-basi dan obrolan anak muda zaman now.

“Hay Fin, ini Wira SMA Harapan”
“Helo juga, Wir”
“Gimana kabarnya?”
“Baik kok, kamu sehat kan pasca acara? Hehe”
“Sehat dong. Hmm besok ada kegiatan gak?”
“Keknya ada jadwal eskul Pramuka sepulang sekolah. Kenapa?”
“Jadi rencana besok mau ke sekolah kamu buat ketemu ketua Osis, jadi sekalian aja meet up gitu sama kamu”
“Gimana ya, boleh deh. Nanti berkabar aja”
“OK, sampai ketemu besok Fin” Wira menambahkan emot ikon senyum.
“OK”

Pagi harinya, Wira begitu lebih semangat ketika berangkat ke sekolah. Menjalani hari-hariny di sekolah seperti biasanya. Belajar, mengobrol dengan guru, dan selalu menyempatkan diri untuk masuk ke ruang Osis. Bukan hanya untuk setor muka, Wira memang sudah seperti kuncen ruang Osis sama seperti rekan angkatannya.

“Bos, jadi ke SMAN Cakrawala kan?” Tanya Doni selaku ketua Osis
“Jadi dong”
“Baguslah, jadi kita bagi tugas, silaturahim ke beberapa SMA yang kemarin hadir di acara kita. Ada Kendal gak? Atau kalau ke jauhan ke Cakrawala biar saya yang ke sana”
“Ohh, santuy aja Bos. Sesuai rapat kemarin saja”
“Baiklah”

Sebelum tancap gas ke sekolah lain, Wira menyempatkan diri menyisir dan merapikan pakaiannya. Kini terlihat fresh, rapi, dan pastinya ada aroma wewangian yang disemprotkan ke pakaiannya. Tidak banyak, hanya tercium begitu halus dan cool.
Semua sudah rapi, Wira dan Doni pun berpisah. Ambil jalur sesuai dengan lokasi tujuan mereka masing-masing.

Pukul 16.00 WIB Wira sudah tiba di ruang Osis SMAN Cakrawala. Disambut oleh ketua Osis dan beberapa anggota. Negobrol santai sambil menyeruput es teh manis dan camilan yang sudah disediakan. Obrolan hanya sebatas ucapan terima kasih atas partisipasinya mengirim delegasi untuk hadir di acara Pentas Seni pakan lalu. Seharusnya Fina pun duduk bersama di ruang Osis namun dia izin karena ada eskul.

Wira mengirim pesan kepada Fina.
“Kalau udah selesai, ke ruang Osis ya. aku udah nyampe dan ngobrol dari jam 4 tadi”
“Oke, bentar ya say. Wait for a minute”
Balasan dari Fina begitu mengejutkan, karena ada kata ‘Say’ yang entah apa arti sesungguhnya. Namun bagi Wira ini adalah sinyal positif untuk mendekati Fina.
“Oke, ditunggu juga beb wkwkwk”

Kata ‘Beb’ di sini mamng menunjukkan bahwa Wira memang tertarik dengan Fina. Hanya saja masih menunggu momen yang pas dan ‘wkwkwk’ adalah sebuah ekspresi candaan agar tidak terlalu kaku dan membuat canggung.

Tidak membutuhkan waktu lama, pukul 16.30 WIB, Fina tiba di ruang Osis. Menyapa dan menyalami semua orang yang ada di ruangan termasuk anggota yang sedari tadi menghadap layar monitor.

“Udah lama ya, maaf tadi eskul dulu”
“Iya gak apa-apa, santuy” Doni
“Iya santuy hehe, lagian ini sekedar silaturahim saja” Wira.
“Udah kenal, kan ya? jadi gak perlu perkenalan ulang tinggal mengakrabkan diri hehehe”
“Iya udah, Don” Fina

Lima menit kedatangan Fina, Doni undur diri karena dia ada kegiatan yang lain. Sehingga Doni meminta Fina untuk menemani dan mengobrol dengan Wira.

“Aduh gimana ya, udah dijelasin juga ya. saya gak bisa lama-lama, karena sudah ditunggu di tempat lain hehe”
“Iya santuy saja, lagian ini sekedar main dan silaturahim”
“Iya maaf harus ditinggal hehe, tapi tenang ada Fina yang akan menemani. Sepertinya lebih asyik kalau cewek yang nemenin hahaha”
“Bisa jadi tuh hehe” Wira
“Iya sudah, Fin tolong ya diperlakukan dengan baik. Karena Wira ini tamu jauh”
“Siap”

Sebenarnya, Fina agak canggung juga sih dengan kehadiran Wira di sekolahnya. Karena dia kepikiran dengan tebakan Reni, soal Wira suka sama dia. Sehingga, Fina agak menahan diri dan kaku, tidak seperti hari pertama mereka bertemu.
Kali ini, mereka berdua mengobrol tidak di ruang Osis, tapi di teras depan dekan podium upacara.

Mereka menghindari fitnah atau lainnya, karena di ruangan tersebut tinggal mereka berdua. Sekolah pun sudah tampak sepi, hanya menyisakan beberapa siswa yang masih eskul dan sepoyan angina yang begitu terasa menyejukkan.

“Hmm, Fin”
“Iya, gimana”
“Kok jadi canggung ya hehehe”
“Ah santuy kok. Gimana acara kemarin, gak banyak evaluasi kan hehehe”
“Acaranya berjalan dengan baik kok, justru ini juga berkat partisipasi dari delegasi rekan-rekan tamu”
“Pasti dapat apresiasi dong dari pihak sekolah”
“Pasti dong. Bahkan kita diajak makan bersama di kantor”
“Wuihh, enak bener”

Selama 15 menit duduk di podium, obrolan begitu garing dan monoton. Tidak seasyik pertemuan pertama. Wira pun akhirnya memberi tanda titik diobrolan tersebut dan membuat paragraph baru dengan gagasan pokok yang beda.

“Pulangnya kemana? Yuk bareng”
“Ke Utara”
“Boleh deh yuk satu arah kok”
“Ayo”

Suasana semakin canggung. Bahkan ketika di perjalanan, Wira tampak memperlambat laju kendaraan sehingga sekolah-rumah terasa lama.

Wira begitu antusias menceritakan pengalamannya kepada Fina yang tengah diboncengnya. Fina hanya mengiyakan dan senyum kaku saat merespon. Perasaan Fina sudah tidak nyaman, karena saat ini dia termakan omongan Reni bahwa Wira suka kepadanya. Terlebih dengan perlakuan Wira sedari tadi yang begitu sok akrab yang membuatnya tidak nyaman dan agak illfeel. Tapi Fina tidak memperlihatkan secara langsung, dia tetap senyum dan berusaha untuk respon setiap obrolannya.

“Depan belok kanan ya, rumah aku cat warna biru depannya ada ayunannya”
“Oke beb”
Fina semakin tidak nyaman dengan sebutan ‘Beb’ entahlah, Fina ingin sekali menegur namun tidak enak.
“Sampai”
“Terima kasih lho udah anter saya sampai rumah”
“Dengan senang hati. Kok rumah sepi?”
“Iya, Bapak sama Ibu belum pulang kerja”
“Oh gitu, salam saja ke Bapak sama Ibu ya”
“Oke”

Wira udah melaju menjauh dari rumah Fina. Dia pun melemaskan dan berusaha untuk tenang kembali. Namun tetiba, Reni muncul mengagetkan.

“Fin”
“Alamakkkkkkkk, kaget tau ihh”
“Hahaha sorry sorry”
“Ren, kayaknya tebakan kamu bener deh”
“Tuh kan, bener”
“Ihh sumpah gak nyaman banget, malah jadi illfeel”
“Jangan gitu. Nanti berbalik suka gimana hayo?”
“Ihh gak bakalan deh, lagian apa ya baru juga kenal tapis ok perhatian gitu. Bikin gak nyaman aja”
“Iya cowok kalau udah tertarik pasti diperjuangin, Fin”
“Udah gitu dia berani lah bilang Beb Beb an gitu, iuhhhh”
“Hahaha masa sih? Terus-terus”
“Ya jadinya canggung aja. Dikira ya buat sekedar mencairkan suasana tapi ternyata ahhhh, entahlah”
“Harus didukung atau gimana nih, hahaha”
“Asli gak nyaman”
“Gak nyamannya karena kamu gak suka, coba kalau cowoknya yang diharapkan kamu”
“Iya juga sih, Cuma gimana dong. Cuek dan canggung gini bikin kaku, ngobrol juga jadinya Cuma yes or no gak ada kenapa bagaimana kapan hahaha”
“Jalani aja, kalau kamu gak suka jangan sampai kamu nunjukin perasaan gak sukanya itu. jadi biasa-biasa aja kaya pas pertama ketemu”
“Iya semoga bisa ya. biar pertemanan tetap berjalanan dan dia gak sakit hati gara-gara perlakuanku”
“Iya jangan sampai nunjukin rasa illfeel kamu ke dia, mau gimana pun Kak Wira ini orangnya baik”
“Semoga bisa”
***

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive