Beri Aku Waktu Untuk Mengenalimu #3

December 11, 2019

(Cerbung Bagian-3)

Selama satu tahun enam bulan Wira dan Fina sesekali mengirim dan berbalas via whatsapp. Tidak ada yang aneh dan Wira pun sudah tidak menunjukkan bahwa dia tengah menyukai Fina. Tidak ada tembak menembak bahkan bertemu pun tidak pernah.

Keduanya sudah lulus SMA, kini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Fina Kuliah di Jakarta sedangkan Wira di Kota Bandung. Komunikasi pun semakin jarang bahkan terbilang hanya beberapa kali saling mengomentari sebuah status di whatsapp yang sedikit menggelitik antara keduanya.

Bahkan secara mengejutkan, Wira ternyata aktif dan pandai membuat tulisan di blog pribadinya. Fina menemukan sebuah tulisan di google yang memang tengah dibutuhkannya sebagai motivasi hidup. Awalnya Fina tidak pernah mengira bahwa tulisan tersebut adalah pemikiran dari seorang Wira, cowok yang pernah membuatnya tidak nyaman. Tapi lambat laun karena kepo dengan sosok dibalik tulisan hebatnya itu, dia mengintip profile dan portofolionya. Dan ternyata, teman dia sendiri.

“Wow, hahaha. Kok gue baru tau sih dia pinter bikin tulisan begini” Ucap Fina dibalik telepon kepada Reni.
“Lah, dikira udah tau. Jadi dia tuh emang hebat, di sekolah pun sering ikut lombba nulis keknya pernah juga dapat juara 3 tingkat kota” Reni
“Hebat juga ya, padahal gak kewajahan dia pinter nulis hahaha”
“Fin, emang gak pernah liat story Instagram si Wira ya?”
“Lah ya aku tidak berteman sama dia”
“Wah masa sih, kok lucu. Temanan lama, pernah deket hahaha tapi enggak saling follow medsos”
“Ya komunikasi cukup via whatsapp aja”
“Sumpah deh, dia tuh aktif juga main Instagram. Tiap hari bikin story kegiatan hariannya, kata-kata motivasi bahkan pernah sih beberapa pekan dia kek menggalau gitu”
“Masa sih, kok jadi penasaran”
“Cek aja IGnya pake nama asli dia kok. Udah dulu ya, mau otw hehe. Bye cantik jangan lupa jalan pulang”
“Sip, jangan lupa cobain merantau juga hahaha, bye”

Setelah tutup telepon, Fina langsung berselancar di media sosial. Cek Instagram untuk stalking akun Wira.

Ini lebih mengejutkan apa yang sebelumnya terjadi. Seperti gossip suka, pandai menulis, dan lainnya. Ternyata dia sudah memfollow akun Fina namun entah sejak kapan, mungkin sejak pertama kali bertemu. Tapi Fina belum memfollback akun Wira. Jahat banget si Fina.

“Waduh, waduh waduh. Ternyata dia udah ngefollow gue. Jahat banget gue gak ngefolback”

Akhirnya Fina, memfolback Wira, entah apa yang akan terjadi. Apakah Wira langsung mengirim pesan karena terkejut juga baru difolback setelah satu tahun enam bulan memfollow entah mengabaikan begitu saja.

Tidak sampai di sana, Fina mengecek semua postingan Wira. Kebanyakan tentang aktifitas keorganisasiannya dan video perjalanan. Wira ini, sosok yang menyukai tantangan, menyapa alam baik gunung maupun laut juga menyentuh kehidupan masyarakat menengah ke bawah. Adapun postingan prestasi dan video acara.

“Gue liat psotingan gini, kok perasaannya jadi aneh gini. Duh duh duh, apaan sih Fin” Celetuk Fina.

Setelah melihat postingan Wira, dia lebih mengenal. Dia tidak seperti apa yang di dalam pikiran Fina sejak satu tahun enam bulan lalu. Dia memang sosok pria yang hebat, baik, ramah, dan bertanggung jawab. Bahkan Fina sempat terpesona pada sosok Wira. Entah mungkin karena sebuah postingan atau memang Tuhan tengah membolak-balikkan hati.

“Ahh, sumpah perasaan apaan sih”

Tidak hanya hari itu saja, Fina selama beberapa hari mengecek postingan-postingan Wira. Bahkan sempat melihat story Wira, karena kini mereka sudah saling follow. Apa yang dikatakan Reni, benar. Wira aktif di media sosial, bukan soal pencitraan dia memang sosok yang baik. sering sekali mengutip firman Allah lalu dibagikan di stroynya. Yang mana ini sebuah remainder untuk dia dan semua saudara muslimnya.

Satu ketika, Wira membuat postingan baru. Sebuah video drama tetrikal semasa SMA. Fina tidak mengerutkan dahinya. Dia tidak asing dengan video itu, seperti de ja vu.

“Oh bukan de ja vu, ini memang video Drama tetrikal acara latihan gabungan tingkat SMA. Wah, ternyata kita pernah di satu lokasi tapi tidak saling mengenal”

Jadi sebelum pertemuan di acara Pentas Seni, mereka sudah pernah berada di satu lokasi namun tidak saling mengenal. Entah sempat saling bertemu atau tidak, itu tidak bisa dipastikan.

Hari semakin hari, perasaan itu mengganjal di hati Fina. Dia pun bingung apa artinya ini. Apa dia sedang jatuh cinta atau hanya sebatas kekaguman saja. Pastinya, ada rasa menyesal karena dia pernah illfeel sama Wira bahkan berusaha menjauh darinya. Sehingga tidak ada komunikasi intens lagi antara keduanya sejak pertemuan kedua.

Yang diingat sejak pertemuan kedua dia mengantarkan Fina pulang, Wira masih rajin mengirim pesan namun berulang kali dibalas ketus oleh Fina. Hingga akhirnya, mungkin Wira pun merasa dan menebak bahwa Fina tidak nyaman dengannya dan dia putuskan untuk tidak menggaggu Fina lagi.

“Sumpah, maafin aku Wir” dalam hati Fina.

Kini Fina sudah menyadari, bahwa dia tengah jatuh hati kepada Wira. Sosok yang pernah dia kenal selewat di kehidupan nyata dan diperjelas dunia maya. Fina yakin, medsosnya bukan alat pencitraannya karena Reni pun sering menceritakan bahwa dia memang sosok yang hebat, penyayang, dan bertanggungjawab.

Fina merasa kecewa kepada dirinya, karena sudah menuduh yang tidak-tidak dalam pikirannya tentang Wira. Perasaan memang sulit dikendalikan saat ini oleh Fina, tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa mungkin, Wira masih menyukaiku?

Karena perasaannya yang tidak bisa dikendalikan, Akhir-akhir ini, Fina sering sekali mengomentari status whatsapp Wira. Entah apa yang dilakukan Fina, dia sedang ingin mengobrol dengan Wira. Ah Cinta Fina memang telat membalasnya.

“Ada hal yang tidak bisa saya ungkapkan saat ini. Kecewa saja” sebuah status Wira yang sudah dibuat 15 menit yang lalu. Fina pun ikut berkomentar.
“Ungkapkan saja, siapa tahu bisa merubah segalanya” komentar Fina.
“Hahaha, entahlah. Tapi tetap optimis di depan selalu ada hari yang baik”
“Pastinya. Fighting!”
“Sip”

Sudah bisa ditebak, Wira sepertinya sudah tidak ada rasa kepada Fina. Dari cara dia membalas pesan saja sudah beda. Bahkan terlalu singkat. Tapi perasaan Fina kini sedang tumbuh subur, perlu disiram dengan komunikasi yang baik dari Wira. Mungkin ini yang dirasakan Wira saat dia menyukai Fina kala itu atau bahkan lebih sakit, karena Fina begitu ketus dan terlihat menghidar dari Wira.

Fina tidak bisa menyalahkan Wira atau siapapun. Ini hanya sebuah kesalahan Fina yang tidak bisa menghargai sebuah perasaan. Mungkin, jika saat itu dia tidak menyukai Wira, dia bisa tetap komunikasi sebagai teman. Tidak perlu menghindari atau membuat dia kesal atau kecewa. Ya nasi sudah menjadi bubur memang, tapi mungkin bubur ini bisa disajikan dengan tambahan ayam siwir, telur, kecap, dan kerupuk supaya tetap bisa dinikmati dan tidak mubadzir begitu saja.

“Mari perbaiki hubungan kita, Wir. Walaupun perasaan ini tidak terbalas setidaknya gue masih bisa berteman baik denganmu. Beri aku waktu untuk mengenalimu dengan baik” ucap Fina dalam keheningannya.
***

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive