Komunikasi Dengan Orang Tua

February 26, 2020

Ilustrasi anak dan orang tua/sifathlist

Orang tua adalah sosok yang harus kita hormati kapan, di mana, dan bagaimana pun. Karena mereka kita dilahirkan di dunia ini. karena mereka kita bisa makan, sekolah, dan mengenal banyak hal. Ada yang ingin menyangkal kalimat tersebut? Semoga tidak.

Bagaimana kondisi orang tuamu kamu tidak boleh menyakiti mereka. Kalaupun ada perlakuan yang tidak menyenangkan dan keras itu adalah bentuk dari kasih sayangnya.

Tapi pernah enggak gak sih, semakin tumbuh besar terkadang kita sulit berkomunikasi dengan orang tua secara terbuka seperti dulu. Banyak kesalahpahaman, egois, emosian, dan kadang juga kita melawan dan membantah. Pernah pasti ya?

Jadi di sini saya hendak sharing soal komunikasi dengan orang tua. Dulu saya dekat sekali dengan orang tua baik Ibu maupun Bapak. Namun memasuki usia remaja hingga dewasa banyak momen yang ditinggalkan. Salah satunya makan bareng, ngobrol, nonton TV bareng, dan lainnya.

Saat itu sih karena sibuk sekolah dan kegiatan di luar sehingga lebih sering bertemu dan ngobrol dengan teman sebaya. Bahkan kalau ada kejadian yang kurang mengenakkan pun tidak melapor ke orang tua tapi lebih percaya curhat kepada teman. Ini berlangsung hingga dewasa.

Jika kalian masih mempertahankan momen kebersamaan dengan orang tua, pertahankan. Itu emas dan kenikmatan. Jika kalian mulai menyadari bahwa selama ini jauh (bukan jarak) dengan orang tua bersyukur dan bangun kembali momen itu.

Saya bersyukur, menjadi salah satu yang menyadari hal itu. kurang lebih 6 tahun merantau bisa dikatakan hubungan agak renggang karena jarak dan jarang komunikasi. Komunikasi via telepon pun jarang. Kemudian saya hendak membangun momen kebersamaan lagi sehingga saya mencari cara.

Cara standar sih duduk bersama, makan bersama, bantu masak atau bantu bapak. Nah tapi selama beberapa pekan momen kedekatan sudah muncul karena intens bertemu tapi agak tidak nyambung dengan obrolannya. Standarnya cuma ngomongin masakan atau hal-hal yang terlihat kasat mata.

Kemudian saya mencari cara lain, komunikasi dengan Ibu saya mulai menonton bareng lagi dengan beliau. Awalnya cuma nemenin duduk dan sambil mainan gawai. Jadi ketika Ibu mulai cerita tentang jalan cerita, pemeran di film itu saya enggak paham. Ya akhirnya obrolan disudahkan. Padahal niatnya biar akrab lagi.

Akhirnya satu mengikuti satu film laga atau sejarah saya tonton dari pertengahan episiode, kemudian searching siapa tokoh-tokoh yang memerankan, pokoknya menggali semua informasi soal film laga itu. besoknya hingga seterusnya saya pun terjebak di film laga itu di mana saya mulai menikmati.

Akhirnya ketika Ibu menanyakan kok si pemeran pertama diganti? Ya aku bisa jawab karena saya mengikuti update film itu. tentang jalan cerita saya jelaskan lagi, ada tokoh baru saya bisa jelaskan, ketika Ibu ketinggalan 1 episode saya bisa menyambungkan. Nikmat dah.

Ya akhirnya kita punya obrolan yang pariatif tiap harinya. Ini sih jadi momen penting bagi saya. Intinya sih, kalau mau akrab ya harus mengikuti apa kebiasaannya, apa hobinya, apa kesukaanya, tidak suka, everything dah. Nanti Insya Allah akan menemukan titik terang.

Begitu pun dengan Bapak, jangan cuma ngobrol kalau ada maunya aja. Pak minta duit buat ini itu, Pak motor rusak, Pak belum bayar SPP, Pak Pak Pak hahaha. Iya enggak salah sih, cuma kita (menurut saya) perlu yang namanya akrab. Ini menjadi salah satu agar kita percaya satu sama lain.

Apalagi jika orang tua kita sudah lanjut usia, jangan lewatkan momen momen sederhana seperti ini.

Semoga yang masih memiliki orang tua bisa menemukan momen berharganya masing-masing, diberi kesehatan, rezeki yang berkah, yang jomblo bisa menemukan jodohnya. Jika orang tua sudah tidak ada, semoga Ibu Bapak ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan. Masih ada momen yakni mendoakan dan berziarah. Terima kasih.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive