Apa itu Clickbait? Kenapa Selalu Ada Kontroversi Dalam Sebuah Tayangan

May 15, 2020

ilustrasi/sifathlist

(Opini)

Assalamualaikum semua, apa kabar? semoga selalu dalam lindungan-Nya.

Hari ini saya mencoba untuk beropini tentang clickbait dalam dua sudut pandang versi sendiri. Kenapa versi saya pribadi? Ya karena setiap individu memiliki persepsi masing-masing dalam mengartikan sesuatu.

Sebelum berselancar dalam opini, saya akan mengutip penjelasan clickbait versi Wikipedia.

Clickbait (umpan balik) adalah suatu istilah peyoratif yang merujuk pada konten web yang ditunjukkan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung pada tajuk sensasional atau gambaran mini yang menarik mata guna mengundang klik tayang (click-through) dan mendorong penerusan bahan tersebut melalui jejaring sosial daring.”

Singkatnya sih membuat sebuah judul yang bombastis, menarik perhatian netizen untuk diteruskan mengklik sebuah tayangan artikel atau video daring untuk mendatangkan viewers yang banyak dan keuntungan.

Sekedar mengingatkan ya, ini saya tulis berdasarkan opini dan pengalaman saya soal clickbait. Jadi saya juga sering kali memilih membuat judul yang  dalam artikel yang saya tulis. Kenapa? Ya biar banyak yang baca. Begini penjelasan dua sudut pandang versi saya terkait clickbait.

1. Biar banyak yang baca

Pastinya satu pemilihan judul clickbait ini agar karya yang kita buat ini banyak yang baca. Agar penyampaian, edukasi, sharing yang kita tulis itu tersampaikan.

Misal, nulis di blog. Artikel banyak tapi viewer atau pembacanya gak ada maka apa yang hendak kita sampaikan tidak diterima oleh public. Jadi dipilihlah judul yang mengundang ketertarikan walaupun sering kali adanya kontroversi karena judul dan isi tidak sama.

Bukan mengada-ada judul, cuma terkadang saya hanya sedikit menyempet beberapa diksi dalam artikel yang kuat dan menarik. Ya biar banyak yang penasaran dan mengklik gitu.

2. Karena lebih suka mengklik artikel atau video yang judulnya kontroversi, ambigu, dan bikin penasaran

Pengalaman sih, sepertinya saya lebih banyak mengklik judul artikel yang judulnya clickbait dan bombastis. Karena saya penasaran. Baru baca judul udah nyinyir apalagi liat isinya, wah makin nyinyir hahaha.

Jadi dari dua sudut pandang ini saya simpulkan (untuk saya pribadi) ternyata kalau mau untung ya pilih judul yang clickbait karena ini jadi kebutuhan saya untuk mau membaca. Tapi ini bukan jadi patokan untuk mendapatkan untung lewat daring ya, ini hanya satu tanggapan masih banyak tanggapan lain yang lebih pas dan cocok untuk diterapkan.

Dari segi pengalaman saya yang masih minim dalam tulis menulis artikel, (kira-kira aja sih) perbandingannya judul santai sama clickbait itu persentase pembacanya 30:70. Sebetulnya saya juga agak kurang suka dengan clickbait karena terkadang menjebak judul apa isi apa. Cuma sering kali sang suhu (editor) merubah judul-judul flat (biasa aja) jadi clickbait.

Awalnya sih, lah jadi perdebatan antara hati dan otak saya sendiri karena tidak suka. Cuma ya gitu, ini sebuah misi agar apa yang kita buat bisa tersampaikan lewat klik para netizen (dapat keuntungan dari iklan itu juga bonus sih). Lagian banyak juga yang senang baca karena clickbait.

Saya bahas clickbait ini karena beberapa hari ini trending tuh ada sebuah unggahan seorang youtuber dengan pengikut puluhan ribu menggunakan judul yang clickbait. Wah komentar netizen twitter sangat tajam tapi seru buat dibaca (hahaha maaf).

Saya scoll scoll komentar netizen, ada yang menerima ada juga yang tidak. Soal hujat menghujat juga ada, Dari segi judul dengan komentar pedas netizen, saya setuju (ikut mengkritik dalam hati).

Seharusnya tidak boleh berpikir buruk kalau belum nonton sendiri ya. jadi kebiasaan saya ini, membaca terlebih dahulu respon dari para netizen kemudian saya tonton. (baiknya sih nonton dulu baru komentar) cuma saya lebih suka bacain komentar baru nonton. Tapi tetap saya tidak punya hak untuk ikut komentar karena belum nonton. Nah setelah nonton terserah mau ikut komentar atau enggak.

Ternyata judulnya clickbait bat dah. Isinya enggak sefrontal judul. Ya saya paham ini hanya permainan biar viewer banyak. Jadi ya jangan lah hujat menghujat online offline gitu. Enggak baik, kalau mau menegur ya dengan bahasa yang sopan, enggak harus bawa diksi yang tidak baik.

"Eh tapi netizen enggak cuma komentarin soal pemilihan judul doang sih, ada juga yang mengkritik soal kontennya"

Jadi kesimpulannya gimana? boleh atau enggak sih menggunakan judul yang clickbait? Ini sih, diserahkan sama individu masing-masing ya. kalau saya sih, oke oke aja sama judul clickbait toh tetap ada plus minusnya kok.

Oh ya contoh judul clickbait itu banyak macemnya. Misalnya ambil diksi yang berbau SARA atau mentatut nama public figure. “ Aksi Raffi Ahmad Makan Rambutan Dengan Biji-bijinya” (eh maaf lho papanya Rafatar ini cuma contoh, izin).

Nah pasti pembaca apa lagi fans Raffi Ahmad langsung deh gercep banget klik judul ini karena penasaran. Eh pas dibaca ternyata bukan Raffi Ahmad suami Nagita tapi Raffi Ahmad warga desa yang sedang melakukan aksi makan biji rambutan. Ya gitulah, masih banyak lagi.

Terima kasih sudah membaca, ini opiniku. Opinimu bisa disampaikan lewat komentar di postingan ini.

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive