Percampuran Budaya Sunda dan Jawa di Subang Utara Sejak Masa Hindia Belanda

September 22, 2020

(Foto: Tropenmuseum)


Mungkin masih banyak masyarakat yang terheran-heran terkait soal budaya di Subang bagian Utara. Pada dasarnya Subang merupakan masyarakat suku Sunda. Hal ini terbukti dengan penggunaan bahasa sehari-hari adalah Bahasa Sunda.

Berbeda dengan Subang bagian Utara yakni wilayah di sepang pesisir pantai utara, telah terjadi percampuran kebudayaan sejak masa Hindia Belanda. Sehingga masyarakat di sana menggunakan dua bahasa yakni Sunda dan Jawa.

Mengutip di Wikipedia, pasca runtuhnya kerajaan Padjajaran, Subang menjadi rebutan berbagai kekuasaan. Tercatat kerjaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan kerjaan Belanda memberi pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjakau Batavia.

Pada saat konflik Mataram-VOC di kawasan Subang Utara dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Di sini lah terjadi percampuran budaya antra Jawa dengan Sunda. Sebab banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram yang akhirnya memilih untuk menetap di wilayang Subang.

Baca juga : Memahami Wilayah, Dengan Mengenal Sejarah Subang dan Penyebaran Agama

Pada tahun 1771, Kerajaan Sumedanglarang berkuasa di Subang yakni wilayah Pagaden, Pamunkan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1812) konsensi penguasaan lahan diberikan kepada swasta Eropa.

Pada tahun 1812, tercatat awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekali pun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerjaan Belanda.

Perlu diketahui, saat itu lahan yang dikuasai pengusaha perkebunan mecapai 212.900 ha dengan hak eigendom. Sehingga untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Pada saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seornag kontrilor BB (Bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.

Saat ini bekas P & T Lands dijadikan kompleks PT Sang Hyang Sri (Persero) tepatnya belakang Pasar Sukamandi, Ciasem. Perusahaan ini bergerak di bidang pertanian daria pembenihan, produksi, pengolahan hasil, penelitian hingga pengembangan bidang pertanian. Badan usaha negara berdiri sejak tahun 1971.

Jika berkunjung ke sini, bekas peninggalan zaman Hindia Belanda masih berdiri kokoh. Dari gedung pabrik dengan cerobong asapnya yang sudah sangat tua hingga terdapat beberapa tugu prasasti dan pohon-pohon besar. Namun kawasan ini didominasi dengan banyaknya bangunan kuno khas Eropa era tahun 1920-an. 

You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive