Tak Tahu Maka Cari Tahu, 8 Seni dan Budaya Ini Berasal dari Subang

September 23, 2020

(Foto: Sisingaan/Pemkab Subang)


Zaman semakin modern dengan dilengkapi dengan teknologi canggih juga adanya akulturasi dari berbagai negara. Beberapa budaya dan seni asli tanah air mulai tergeser dan digantikan dengan budaya asing. Walaupun tidak semua, namun sebagai bangsa memiliki tanggungjawab untuk mengenalkan agar tetap eksis (lestari) di kehidupan generasi millenial dan gen-Z.

Melanjutkan artikel sebelumnya tentang sejarah Subang, 8 seni dan budaya ini pun perlu diketahui. Sejujurnya, saya pun tidak begitu mengenal kota kelahiran namun dengan menulis sedikitnya pengetahuan bertambah. ternyata 8 seni dan budaya ini berasal dari Kabupaten Subang

1. Sisingaan

(Foto: Sisingaan/google.com)

Sisingaan ini dikenal di semua kalangan sejak zaman Hindia Belanda. Kesenian gotong singa merupakan pertunjukan asli rakyat Subang. Diciptakan tahun 1975 oleh seniman sunda, karena datangnya kesenian Reog Ponorogo ke kota tersebut yang di bawa kaum urban dari Ponorogo. Para seniman berdiskusi dan diciptakan kesenian yang mampu menunjukan identitas dari Subang sendiri. 

Seperti yang dilansir Wikipedia, Sisingaan diilhami dari cerita serial Reog di Jawa Timur, yang menceritakan suka cita perjalanan para pengawal raja Singa Barong dari kerjaan Lodaya saat menuju kerajaan Daha. Meski sang raja terkenal bengis dan angkuh, para pengawal selalu setia memikul tandu yang ditiduri oleh Singa Barong.

Sisingaan pun sebagai lambnag perlawanan rakyat Subang terhadap kesewenangan Belanda yang digambarkan sebagai sosok singa pada lambang VOC. Tujuannya sebagai edukasi pembelajaran sejarah yang menenagkan bagi para pelajar.

Saat ini, sisingaan sebagai kesenian yang masih eksis. Kesenian yang menghibur masyarakat Subang. Bahkan sebagai sebuah ritual menyambut anak laki-laki yang akan disunat.

2. Genjring Bonyok

(Foto: Genjring Bonyok/Pemkab Subang)

Genjring Bonyok, kesenian yang diiringi alat musik seperti bedug dan genjring. Kesenian ini mulai lahir pada zaman perkebunan P & T Lands. Pada waktu itu Kampung Bonyok atau wilayah Desa Pangsor dikenal daerah kontrak. Namun ada pula kesenian lain yang berkembang seprti Kendang Pencak, Ketuk Tilu, dan Wayang Golek sebagai hiburan masyarakat Subang.

Kesenian ini dihadrikan untuk mengadakan pagelaran pada acara hajatan dan dikolaborasikan dengan sisingaan. Namun saat ini, tidak hanya hajatan melainkan bisa dihadirkan untuk acara penting lainnya.

3. Doger Subang

(Foto: Doger Subang/Pemkab Subang)

Doger ini berasal dari dua kata Dog dan Ger. Dog artinya dog-dog yakni waditra pengiring pada kesanian Reog yang terbuat dari bahan kayu kelapa dan membrannya dari kulit kambing. Sedangkan Ger adalah beger artinya orang yang sedang kasmaran.

Dulu, kesenian rakyat yang dijadikan media hiburan masyarakat Subang terutama orang yang sedang kasmaran. Ini adalah sebuah tarian pergaulan yang dibawakan oleh penari wanita (Ronggeng) diiringi oleg waditra gamelan yang dimainkan oleh beberapa orang nayaga.

Saat ini, kesenian ini mengalami berkembangan dan perubahan. Dulu sebagai hiburan masyarakat perkebunan dan digelar dipelataran, sekarang digelar di atas panggung untuk menghibur semua rakyat dalam berbagai acara.

4. Ruwat Bumi

(Foto: Ruwat Bumi/Pemkab Subang)

Sebuah tradisi yang sudah berumur ratusan tahun dalam bentuk upacara ngaruat (merawat) bumi di Subang. Tradisi masyarakat agraris sebagai ungkapan syukur atas hasil yang diperoleh dari bumi dan penghormatan kepada leluhur.  

Dalam gelaran tradisi ini ada banyak rangkaian upacara seperti upacara hajat solok, Mapag cai, Mitembiyan, Netepkeun, dan lainnya. Selain penghormatan, juga sebagai upaya pengharapan hasil panen yang yang lebih baik di musim selanjutnya.

5. Mapag Dewi Sri

(Foto: Mapag Dewi Sri/Pemkab Subang)

Mapag Dewi Sri ini tidak berbeda yang Ruwatan Bumi, sebuah upacara adat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi pangan yang baik dan melimpah. Sesuai dengan namanya, upacara ini juga sebagai penghormatan para petani kepada Dewi Sri sebagai Dewi padi lambang kesuburan dan kehidupan.

6. Nadran

(Foto: Nadran/Pemkab Subang)

Nadran adalah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat pesisir laut di Desa Blanakan, Subang, Jawa Barat. Masyarakat setempat melakukan upacara ini sejak tahun 1950 secara turun temurun yang digelar pada Agustus setiap tahunnya. Tujuan upacra ini supaya hasil tangkapan pra nelayan melimpah.

7. Toleat

(Foto: Toleat/Pemkab Subang)

Toleat merupakan permainan anak gembala di daerah Pantura (Pamanukan) Subang yang kemudian menempuh tahapa evolusi baik itu bentuk, bahan maupun fungsinya. Terbentuknya kesenian ini diilhami dari empet-empetan yakni alat musik tiup yang dimainkan oleh anak gembala. Alat musik ini terbuat dari jerami padi yang telah dipanen. 

Namun adanya perkembangan, saat ini alat musik ini terbuat dari bahan congo awi (ujung bambu) dan awi tamiang (bambu untuk suling). Fungsinya sebagai penghibur.

8. Gembyung

(Foto: Gembyung/Pemkab Subang)


Gembyung terdiri dari dua kata yakni Gem dan Byung. Gem berasal dari kata Ageman artinya ajaran, pedoman, atau paham yang diikuti manusia. Sedangkan Byung berasal dari kata Kabiruyungan artinya kepastian untuk dilaksanakan.

Kesenian ini memiliki nilai-nilai keteladanan untuk dijadikan pedoman hidup. Berkembang pertama kali pada masa penyebaran Islam, di mana Gembyung dimainkan oleh pra santri. Kesenian tradisional ini menggunakan genjring sebagai alat utama. Sebuah kesenian yang menampilkan alunan musik yang sangat tradisional dan sakral.

Beberapa kesenian di atas dikenal dan masih eksis saat ini, namun (mungkin) sebagian ada yang tidak tahu. Bisa saja terjadi beda sebutan di tiap daerah. Pastinya ketika tidak tahu maka ada tanggungjawab untuk mencari wawasan soal budaya asli ini. Sehingga akan tetap dikenal dan lestari hingga zaman semakin modern. 


You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive