[Diskusi] Curhatan Pak Sopir Angkot Soal Tolak Omnibus Law dan Demo Buruh

October 08, 2020

 

(Foto: ilustrasi angkot/sidathlist)

Semalam bergabung forum diskusi yang tidak terduga dan memang tidak direncanakan oleh kita. Sepulang ngefreelance, seperti biasa saya adalah salah satu angkoters (pengguna angkot) di kota. Naiklah di salah satu angkot warna hijau di depan Balai Kota Bandung. Karena pandemi angkot sepi penumpang hanya ada dua penumpang.

Melajulah kita dengan sangat pelan, karena sudah jam rawan macet (17.40 WIB). Selama beberapa menit tidak ada obrolan, semua sibuk masing-masing. Namun tetiba kita mendapat kendala, rute angkot yang biasa kita lewati sedang ada penutupan jalan. Tidak kaget karena sebelumnya sudah diumumkan oleh pihak Pemkot Bandung dan kepolisian, sebagai salah satu upaya penanganan Covid-19.

Di lampu merah banyak petugas yang mengatur jalan, ruwet sudah kita di dalam angkot karena tidak bisa lewat sana. Semua kendaraan diarahkan ke jalan alternatif dan itu macet parah. Kita berbelok sesuai petunjuk namun kendaraan tidak bergerak.

Bukan hanya penutupan jalan namun ada arus balik para mahasiswa yang telah menyampaikan aspirasinya terkait Undang-Undang Cipta Kerja yang disahkan oleh DPR RI beberapa hari lalu. Para buruh dan mahasiswa menolak pengesahan Omnibus Law karena banyak point atau pasal yang merugikan buruh dan rakyat Indonesia.

Kita stuck, akhirnya Pak sopir bertanya ke salah satu pendemo yang sedang jalan. 

“Demonya sampai kapan?” “Besok”

Karena masih penasaran soal demo yang sedang terjadi di banyak kota, Pak sopir membuka forum diskusi dengan para penumpang (3 orang). Dia bertanya-tanya, memangnya apa yang permasalahkan tentang Omnibus Law?

Kita semua satu suara, karena merugikan rakyat.

“Disahkan atau dibatalkan, apa ada dampaknya bagi buruh seperti saya?”

Dari pertanyaan ini, kita terdiam. Karena kita tidak tahu pasti dan memang tidak sepenuhnya paham soal polemik Omnibus Law. Tapi kita berusaha mencoba untuk menjelaskan apa yang kita tahu dari berbagai sumber terpercaya termasuk pemberitaan di media.

Saya tahu, dia menunggu jawaban pasti, tapi dia berusaha untuk memahami pengetahuan si penumpang. Akhirnya dia bercerita tentang kehidupannya. Bahwa sebelum menjadi sopir dia bekerja sebagai buruh atau tukang bangunan.

Pada inti ceritanya dia sedikit mengeluh soal ketimpangan sosial juga keadilan. Saya beropini dari obrolan dia. Selama ini buruh kasar, harian itu tidak diperhatikan. Berbeda dengan buruh atau pekerja yang bekerja di perusahaan.

Tapi dia tidak mengeluh soal kondisi ekonomi keluarganya yang tidak pasti setiap harinya, hanya saja butuh keadilan, diperlakukan adil, menuntut haknya untuk dilindungi dan disejahterakan sebagai rakyat Indonesia. Kita semua sama buruh, namun dirasa ada yang berbeda.

Jujur sih, saya kesal sama diri saya sendiri kenapa tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Pak sopir. Menurutmu jawaban seperti apa yang diinginkan Pak sopir?

Sebagai informasi, berikut point yang disoroti oleh para buruh se-Indonesia tentang Omnibus Law dalam sebuah infografis merdeka.com 



You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive