Menyerap Energi Positif dengan Jalan Kaki di Tahura Dago Bandung

July 13, 2021

 

Tahura Dago Bandung (sifathlist)

Sebelum akhirnya ada kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali, beberapa kali mampir ke Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Dago, Kota Bandung. Singgah di sini bukan sekedar untuk melepas penat dari kesibukan dan keriweuhan di tengah pandemi Covid-19, melainkan sebagai momen untuk menyerap energi positif dari pohon-pohon yang begitu menyegarkan.

Berbeda dengan tahun normal sebelumnya, di mana para pengunjung yang hendak masuk harus reservasi terlebih dahulu melalui link website Tahura. Dimungkinkan hal ini sebagai upaya managemen kuota pengunjung setiap jadwalnya agar tidak terjadi penumpukan yang mengakibatkan kerumunan di lokasi hutan.

Tahura (sifathlist)


Cara membayar tiket pun menggunakan cashless untuk meminimalisir transaksi secara langsung antara petugas tiket dan pengunjung. Tiket dibanderol sekitar Rp12.000 per orang, tentu belum termasuk biaya parkir kendaraan ya.

Ini kali kesekian ke Tahura dan kedua kalinya susur hutan dari ujung ke ujung. Estimasi waktu jalan naik turun undakan sih ini disesuaikan dengan kecepatan dan tenaga individu ya. Waktu itu kita (bertiga) masuk pukul 08.00 dan keluar 11.30 WIB (Dago-Lembang). Seru banget sih, karena semua pos disambangi, mulai dari masuk Goa Jepang, Goa Belanda, Jembatan Gantung, Penangkaran Rusa, Curug Kidang, Batu Batik hingga Curug Omas. Rencana mau langsung naik ke Tebing Keraton tapi tenaga dan waktu belum merestui kita untuk ke sana.

Sebelum ke Goa Jepang, ada tangga menurun. Di sini spot fotonya keren abis sih. Pengungjung bisa melihat indahnya cahaya mentari pagi yang masuk di sela-sela pepohonan rindang. Udara sejuk, langit cerah di temani monyet-monyet yang bergelantung dan menepi di pegangan anak tangga. 

Anak tangga menuju Goa Jepang (@sifathlist)


Bagi aku, suasana hutan dan seisinya ini sebagai healing. Setidaknya beban kehidupan baik asmara, kerjaan, keluarga, maupun pertemanan yang bikin pala pening pusing tujuh keliling ini tidak muncul di permukaan. Tidak hilang sih tapi cukup membantu untuk meng-hide sehingga bisa menikmati ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan.

Sempat ragu masuk ke Goa Jepang, lagian udah pernah cuma karena ada teman yang belum jadi kuylah. Siapa tahu susananya sudah beda dari kunjungan sebelumnya. Eh ternyata sama sih hehehe Goa yang dindingnya dingin seperti sikap dia ke aku selama ini wkwkwk (apaan sih? gapapa curhat siapa tau dia baca lalu berubah jadi care ‘kan lebih baik).

Oh ya, karena Goanya gelap banget jadi bagi yang takut gelap bisa sewa senter ke mamang-mamang di depan pintu masuk Goa. Hmm, harga sewa kira-kira Rp5.000 deh, karena kita enggak sewa tapi memanfaatkan senter handphone saja. 

Kita keliling, belok kanan kiri menyusuri lorong kesunyian. Di Goa Jepang ini kosong ya, tidak ada benda-benda peninggalan atau benda keramat lainnya. Hanya Goa dengan lorong luas dan panjang serta dinding dingin.

Jangan kaget ya, kalau masuk ke lorong tertentu karena kita bertemu kelelawar. Entah emang rumahnya di sana atau emang kebetulan ada saat kita lewat lorong tersebut. Oh ya, kalau merasa takut, pegang tangan kawanmu saja dan berjalan berdampingan ya.

Untuk Goa Belanda, kita skip dan lanjut menuju jembatan gantung. Wah seru banget sih di sini. Spot foto yang instagramble atau bagus juga buat video-video kekinian. Tapi tetap patuh aturan ya, di sana ada info pengingat bahwa maksimal 4 orang untuk menyebarang di atas jembatan gantung tersebut. 

Jembatan gantung (sifathlist)


Paling ciamik sih, aku suka banget di sini. Karena selain jembatan, kita bisa lihat beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh subur di bawah sana. Tentu saja di sekelilingnya adalah pepohonan dengan khas warna dan suara nyaman saat beradu dengan angin sepoi-sepoi.

Karena aku suka pohon, hutan, hijau, tangga, dan panorama jadi secapek apapun tetap menikmati. Jujur capek mah capek karena susur hutan dengan medan naik turun yang mantap. Namun ya begitulah, sangat nyaman dan bisa bikin mood selalu bahagia.

Lanjut nih, ke penangkaran Rusa. Sepanjang perjalanan di kanan jalan setapak ada aliran sungai yang tidak begitu deras dan bebatuan. Sepertinya asik main air di sana, tapi kita urungkan niat untuk turun jadi lanjut saja sampai di penangkaran Rusa.

Penangkarannya tidak begitu luas dan rusanya pun terbilang sedikit. Pengunjung bisa berfoto dan memberi makan rusa di sana dengan membeli wortel di warung makanan rusa di sana. Kita hanya duduk melihat pengunjung lain memberi makan rusa, seru dan sudah cukup istirahatnya mari lanjut ke Batu tulis. 

Eh kita udah jalan lewat jalan setapak sampai ke anak tangga yang menuju ke aliran sungai. Eh kita enggak sampai ke tempat Batu Batik sih, karena banyak nyamuk dan anak tangga yang sepertinya tidak ada yang singgah ke sana jadi yoklah kembali ke jalur utama.

Sampailah ke Curug Omas. Jadi pengunjung bisa lihat curug dari sebrang pagar besi curug. Aku sih tidak begitu semangat lihat curug, karena niatnya hanya ingin menikmati nyamannya dekat dengan pohon-pohon yang memberikan energi positif dan imun banget biar tubuh tepat semangat, segar tentu include rasa bahagia yang begitu luas.

Senyumin ajalah ya (sifathlist)


Kalau sudah di atas jangan langsung pulang, makan dulu di warung-warung di sana. Menunya variatif dan harganya juga gak berat di kantong alias standar seperti warung-warung kaki lima di Bandung. Rasa? sama aja sih, cuma suasanya aja yang berbeda apalagi makannya bareng kamu, iya kamu yang saat ini diharapkan tapi malah mengabaikan wkwkwk.

Perbincangan kalau udah di last destinasi, “lanjut Tebing Keraton? Pulang Lewat pintu yang berbeda atau balik lagi ke pintu yang awal?” Karena kita tidak bawa kendaraan jadi ya pilih pulang lewat pintu yang berbeda yakni via Maribaya Lembang. Ya, kurang lebih 1,5 Kilometeran lah daripada harus balik ke Dago bisa lebih dari 5 Kilometeran.

Dahlah, gitu aja. Eh jangan lupa foto-foto, kalaupun enggak biasa selfi atau bergaya bak foto model, setidaknya dokumentasiin suasana di sana. biar apa? biar terdokumentasi aja sih, siapa tau bisa buat stok posting di medsos kan?

Bahagia bersama pohon-pohon (sifathlist)


Pokoknya jangan sampai penasaran  karena belum pernah singgah ke Tahura. Ajak keluarga, rekan kerja, kawan-kawan, atau kalau punya doi ya mangga. Bye! sehat-sehat semua. Inget prokes, biar pandemi ini cepat berlalu.

Bonusla yaaa, sekalian titip foto hehe









You Might Also Like

0 komentar

Blog Archive